Inovasi Pot Ramah Lingkungan dari Bahan Limbah Rumput Laut

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh pertanianku

Gracilaria sp. dan Eucheuma cottonii (Kappaphycus alvarezi) merupakan dua spesies rumput laut merah (Rhodopicheae) yang sampai saat ini memiliki nilai guna tebesar diantara 500 spesies rumput laut yang tumbuh di Indonesia. Kedua spesies ini banyak dimanfaatkan di dunia industri pangan, non pangan dan farmasi. Gracilaria sp telah berhasil dibudidayakan dengan baik dan menjadi sumber terbesar serat larut air yakni agar-agar (agarose dan agaropektin) yang dikenal oleh masyarakat dengan nama agar-agar. Sedangkan Eucheuma cottonii menjadi sumber terbesar untuk karaginan. Agar dan karaginan merupakan senyawa karbohidrat yang dapat mengikat air dan dapat membentuk gel (gelling agent), sehingga kedua senyawa ini disebut sebagai hidrokoloid.

Seiring dengan peningkatan produksi agar dan karaginan, maka akan diiringi juga dengan peningkatan volume limbah yang dihasilkan. Agar dan karaginan diproduksi dengan beberapa cara baik pada kondisi asam (asidik) maupun basa (alkalin). Dalam pembuatanya rumput laut akan ditekan untuk diambil ekstraknya. Sehingga pada pembuatanya dapat menghasilkan limbah padat berupa ampas. Dengan adanya konsep green economy (zero waste) maka industri harus dapat mengolah limbah menjadi produk yang bernilai untuk mengurangi adanya pencemaran air ataupun tanah. Oleh karena itu, dalam penelitian Halida et al (2019)  yang berjudul “The potential of seaweed waste (Gracilaria sp. and Eucheuma cottonii) as a medium density fiberboard (MDF)-based pot material for better water use efficiency in tomato plants” menunjukkan bahwasanya limbah padat dari kedua rumput laut diatas dapat digunakan sebagai pot berbasis MDF dengan struktur yang kompak untuk tanaman cabai. Pot berbahan dasar limbah rumput laut diatas diperkirakan dapat melakukan substitusi penggunaan kantong plastik terkait dengan isu lingkungan yang berkelanjutan.

Dilihat dari fungsinya, pot dari limbah rumput laut memiliki banyak kelebihan jika dibandingkan dengan polybag. Di antaranya yakni dengan adanya sisa-sisa hidrokoloid yang ada pada limbah membuat pot ini dapat menyimpan cadangan air untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman. Sehingga air tidak dapat cepat menguap karena air yang diberikan pada media diikat oleh pot yang digunakan. Oleh karena itu, dengan menggunakan pot ini, tentunya penggunaan air pada proses penanaman cabai dapat ditekan. Sehingga secara umum, pot berbahan dasar limbah rumput laut sangat menguntungkan pada penerapan pertanian dengan konsep ramah lingkungan.

Penulis : Mochammad Amin Alamsjah

Detail tulisan riset ini dapat dilihat di

https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/236/1/012110

H. Kurnia, R R Rifadi, Agustono, M N G Amin, S A Sudjarwo dan M A Alamsjah. 2019. The potential of seaweed waste (gracilaria sp. and eucheuma cottonii) as a medium density fiberboard (mdf)-based pot material for better water use efficiency in tomato plants. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, Volume 236, conference 1.  

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu