Wujudkan Mental Ksatria dalam Berdialektika dengan Be Brave to Speak Up

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Bastian Ragas

UNAIR NEWS – Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) atau biasa dikenal dengan ospek menjadi pintu gerbang utama bagi mahasiswa baru. Hal itu, sebagai bekal untuk mengenal lingkungan perkuliahan hingga peran mahasiswa sebagai agent of change, agent of social control dan agent of iron stock. Tentu, semua itu perlu adanya bekal yang matang dan keberanian dalam mengemukakan pendapat di muka umum.

Kepada UNAIR NEWS, Muhammad Hanif R.A selaku koordinator acara pada kegiatan Viva Outer Division 2019 (VOD) menjelaskan, ospek hari ke tiga mengusung tema “be Brave to Speak up”. Menurutnya, tema itu memiliki makna mewujudkan kader yang berbekal pengetahuan organisasi yang kuat dan berani berdiskusi, menganalisis dan mengutarakan buah pikirannya.

“Treatment yang kami berikan kepada mahasiswa baru pada hari ke 3 yakni sedikit materi terkait perumusan gagasan awal, analisis kondisi lingkungan, pengorganisasian kepanitian dan tolak ukur keberhasilan. Ada juga sesi diskusi, presentasi, dan role play,” ucap mahasiswa Akuntansi 2018 itu.

Sementara itu, Diansanto Prayoga, S.KM., M.Kes., sebagai pemateri analisis kondisi lingkungan dan perumusan gagasan awal, memaparkan bahwa analisis kondisi lingkungan adalah bagian dari perencanaan. Hal itu, lanjutnya, sangat erat kaitannya dengan identifikasi masalah, gagasan penyelesaian masalah (rencana kegiatan, red), faktor penghambat, dan faktor pendukung.

“Pada lingkungan organisasi ada dua  faktor yang mempengaruhi dari eksternal seperti lingkungan umum  dan lingkungan organisasi mahasiswa dan faktor internal yakni sumberdaya, kapabilitas, kompetensi inti, kebijakan, serta budaya,” ungkapnya.

Materi berikutnya, mengelas tentang tolok ukur keberhasilan yang disampaikan oleh Darmawan Setiabudi, S.pi., M.si. Menurutnya, makna dari tolok ukur keberhasilan yakni dapat digunakan sebagai masukan untuk penyempurnaan kegiatan pada waktu yang akan datang. Selain itu,  memiliki fungsi mengukur tingkat keberhasilan suatu kegiatan serta membantu memberikan obyektivitas evaluasi.

Pada akhir, materi disampaikan oleh Ragil Angga Prastiya, drh., M.Si., tentang pengorganisasian. Menurutnya, mahasiswa dapat merancang struktur formal, mengelompokan dan mengatur, serta membagi tugas-tugas atau pekerjaan diantara para anggota, agar tujuan organisasi dapat dicapai dengan efisien.

“Target pada hari ke 3 banyak organisatoris handal untuk mempersiapkan event yang bagus meskipun baru mahasiswa baru,” pungkas Hanif. (*)

Penulis: Sulistyo Primadani

Editor: Nuri Hermawan

Berita Terkait

Nuri Hermawan

Nuri Hermawan

Leave Reply

Close Menu