Kadar Logam Berat di Berbagai Jenis Kerang di Pantai Utara Jawa Tengah

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi logam berat. (Sumber: idn times)

Pantai utara Jawa Tengah adalah salah satu daerah terpadat di Pulau Jawa, bahkan di Indonesia. Sejumlah aktivitas manusia seperti industri, permukiman, dan pelabuhan, terdapat di sepanjang garis pantai daerah ini. Akibatnya, perairan pantai di daerah ini berpotensi menerima berbagai polutan termasuk logam berat dari limbah industri dan domestik.

Kehadiran logam berat dapat menimbulkan ancaman bagi organisme akuatik. Beberapa logam berat (misalnya Cu, Zn, dan Mo) sangat penting bagi organisme hidup, karena mereka diperlukan dalam beberapa kegiatan untuk metabolisme tubuh. Sementara beberapa yang lain (misalnya Cd, Pb, Hg, As) adalah logam non-esensial, yang tidak memiliki peran penting untuk kebutuhan biologis tubuh organisme. Namun, kedua kelompok logam ini (essential dan non-essential) sangat berbahaya bagi kehidupan air jika konsentrasinya melebihi tingkat ambang batas untuk organisme.

Berbagai penelitian tentang logam berat telah dilakukan di sepanjang pantai utara Pulau Jawa. Misalnya kadar Cd, Cu, Pb, Zn, dan Ni dalam sedimen Teluk Jakarta (bagian barat Pulau Jawa), konsentrasi logam berat pada ikan dari Pantai Utara Jawa Tengah, fraksinasi Pb, Cd, Cu dan Zn dalam sedimen dan bioavailabilitasnya untuk biota perairan di Teluk Jakarta, kandungan Hg dan Cd dalam air, sedimen dan kerang darah (Anadara granosa), dan konsentrasi Hg pada ikan yang dapat dimakan yang ditangkap dari Gresik Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kadar logam cenderung meningkat baik pada media (air dan sedimen) maupun hewan air di sepanjang pantai utara Jawa.

Di antara hewan akuatik, bivalvia (kelompok kerang) dianggap sebagai sentinel atau spesies indikator untuk pencemaran logam berat. Dalam penelitian ini, beberapa spesies bivalve dipilih karena kemampuannya yang kuat untuk mengakumulasi logam berat yang dapat mencerminkan konsentrasi logam di lingkungan pesisir. Mengingat bivalvia menjadi salah satu jenis makanan yang mengandung protein tinggi dan banyak dikonsumsi masyarakat, ketersediaannya yang melimpah dan harga murah, menjadikan bivalvia menjadi produk perikanan yang sangat penting di Indonesia. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemantauan dan penelitian logam berat (Cd, Cu, Pb, Zn) di berbagai spesies bivalvia yang dipanen dari pantai utara Jawa Tengah, untuk melindungi masyarakat dari potensi bahaya logam berat ketika mengkonsumsi bivalvia.

Penelitian ini mengukur konsentrasi Cd, Pb, Cu dan Zn dalam bivalvia yang ditangkap dari pantai utara Jawa Tengah, Indonesia. Kami juga mengevaluasi tingkat bahaya yang ditimbulkan oleh logam sehubungan dengan batas maksimum yang dapat diterima (MAL) untuk konsumsi manusia dan untuk memperkirakan asupan mingguan dan membandingkannya dengan asupan mingguan yang dapat ditoleransi sementara.

Kadar Cd tertinggi dicatat pada kerang simping Amusium pleuronectes (16,32 mg Cd/kg) dan kadar Cd terendah terdapat dalam kerang hijau Perna viridis (0,18 mg Cd/kg). Kerang darah Anadara granosa mengandung kadar Pb tertinggi (9,050 mg Pb/kg) dan P. viridis mengandung kadar Pb terendah (1,07 mg Pb/kg). Kadar Cu terendah diamati pada A. granosa (1,49 mg Cu/kg) dan kadar Cu tertinggi tercatat pada C. gigas (86,21 mg Cu/kg). Kadar Zn dalam semua jenis kerang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan logam lain, berkisar antara 33,56 hingga 846,81 mg Zn / kg. Kadar Cd pada bivalvia berada di bawah batas maksimum yang dapat diterima  (BM) dari WHO dan FAO (2 mg/kg), kecuali pada A. pleuronectes dari kota Tegal.

Kadar Pb dalam bivalvia melebihi nilai BM dari WHO, FAO dan Indonesia. Kadar Cu dalam tiram Crassostrea gigas (59,2 mg Cu/kg) melebihi BM dari otoritas Indonesia dan WHO. Kadar Zn dalam C. gigas, A. pleuronectes dan A. granosa melebihi BM dari WHO, FAO dan Indonesia. Untuk menghindari dampak logam pada kesehatan manusia, maka berat bivalvia yang diizinkan untuk dikonsumsi adalah 0,10 kg/minggu untuk A. granosa, 0,10 kg/minggu untuk C. gigas, 0,16 kg/minggu untuk kerang coklat Meretrix lyrata, 0,36 kg/minggu untuk P. viridis dan 0,03 kg/minggu untuk A. pleuronectes. (*)

Penulis: B. Yulianto, P. S. Oetari, S. Februhardi, T. W. C. Putranto dan A. Soegianto

Untuk mengetahui lebih detail tentang akumulasi logam berat di berbagai jenis kerang di pantai utara Jawa Tengah dapat dibaca pada penelitian berikut.

https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/259/1/012005

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu