Bahas Peran Perawat Vokasi IR 4.0, D3 Keperawatan Gelar Seminar Nasional

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ROHMAN Azzam saat menyampaikan materi dalam Seminar Nasional bertajuk Peran Perawat Vokasi Dalam Revolusi Industri 4.0. di Gedung KPRI Handayani Lamongan pada Sabtu (14/9/2019). (Foto: Istimewa)
ROHMAN Azzam saat menyampaikan materi dalam Seminar Nasional bertajuk Peran Perawat Vokasi Dalam Revolusi Industri 4.0. di Gedung KPRI Handayani Lamongan pada Sabtu (14/9/2019). (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Revolusi Industri 4.0 atau yang sering disingkat menjadi IR 4.0 merupakan bahasan yang selalu menarik untuk diulas. Tak ingin ketinggalan, Himpunan Mahasiswa (HIMA) D3 Keperawatan Fakultas Vokasi (FV) Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar seminar nasional bertajuk Peran Perawat Vokasi Dalam Revolusi Industri 4.0. Dilaksanakan pada Sabtu (14/9/2019) di Gedung KPRI Handayani Lamongan, sebanyak 350 peserta turut hadir.

Dr. Joni Haryanto, S.Kp., M.Si. selaku kepala Program Studi (KPS) D3 Keperawatan berkesempatan untuk membuka acara itu. Pada acara kali ini hadir pula Sekretaris Daerah Kabupaten Lamongan Dr. Yuhronur Efendi, SE.,M.B.A.

Ada sejumlah pemateri yang dihadirkan dalam seminar kali ini. Yakni, Rohman Azzam, S.Pd, S.Kep, Ns, M.Kep, Sp.Kep.M.B. selaku ketua DPP PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Bidang Informasi dan Komunikasi; Endah Purwanti, S.Si, M.Kom., selaku KPS D3 Sistem Informasi FV UNAIR; dan Dr. Sujatmiko, S.Kep., Ns., SH., M.Kes selaku wakil ketua bidang III Dewan Perwakilan Wilayah PPNI Jawa Timur.

IR 4.0 sangat erat kaitannya dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat. Semakin pesatnya perkembangan teknologi itulah yang mengakibatkan IR 4.0 muncul. Rohman Azzam menjelaskan bahwa tidak ada satupun orang yang bisa menghindar dari perkembangan teknologi karena teknologi dapat membantu pekerjaan manusia menjadi lebih mudah.

“Orang yang bisa beradaptasi dalam IR 4.0 ini akan bisa hidup dalam era ini,” ucap Rohman Azzam.

“IR 4.0 ini merupakan peluang bagi perawat,” imbuhnya.

Meskipun IR 4.0 merupakan peluang bagi perawat, peningkatan mutu harus tetap berjalan mengikuti perkembangan yang ada. “Muaranya adalah bagaimana cara meningkatkan mutu,” tegasnya. 

Teknologi yang berkembang di IR 4.0 dapat digunakan untuk mendorong peningkatan mutu seperti peningkatan mutu pendidikan keperawatan, peningkatan kelulusan uji kompetensi, bahkan pelayanan kesehatan. Menurut Rohman, hal-hal yang harus dikuasai oleh perawat dalam menghadapi IR 4.0 adalah  knowledge dan skill. Keduanya menjadi sangat penting untuk dipupuk agar seorang perawat tetap mampu bertahan. Bukan hanya itu, kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan juga harus ditingkatkan.

Meskipun demikian, tidak tertutup kemungkinan bahwa teknologi saat ini seperti robot akan memberikan pelayanan keperawatan. Akan tetapi, kepuasan yang diciptakan sangatlah terbatas.   

Pada akhir pemaparannya, Rohman berpesan bahwa teknologi yang ada memang memberikan dampak positif sekaligus dampak negatif. Yang terpenting memanfaatkannya bagi peningkatan kualitas pelayanan keperawatan di Indonesia dengan mengedepankan pelayanan yang professional sesuai standard dan humanis. (*)

Penulis: Icha Nur Imami Puspita

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu