HRLS UNAIR Diskusikan Problema Pluralisme Masyarakat Indonesia Melalui Film

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
DRI Utari Christiana S.H., LL.M (kiri), dan Yovi Wicaksono (tengah) dan Haidar Adam (kiri) saat melaksanakan diskusi film Freedom Writers pada Rabu (8/9/2019). (Foto : Pradnya Wicaksana)

UNAIR NEWS – Freedom Writers merupakan film true story yang dirilis tahun 2007 karya Richard LaGravenese yang menceritakan tentang seorang guru bernama Erin Gruwell. Ia mengajar di sebuah SMA di Los Angeles, daerah yang sedang mengalami perang antar ras sejak kerusuhan Los Angeles tahun 1992.

Disitu ia mengalami kesulitan mengajar anak-anak dengan latar belakang yang penuh dengan kekerasan dan kebencian antar ras yang begitu besar. Namun di akhir cerita, Gruwell berhasil menginspirasi mereka untuk tertarik dengan edukasi dan merencanakan masa depan. Gruwell menyuruh tiap muridnya untuk menulis jurnal/diary tiap harinya, jurnal itu diterbitkan dengan judul  The Freedom Writers Diary.

Bekerja sama dengan Human Rights Law Studies (HRLS)Universitas Airlangga (UNAIR) pada Rabu (8/10/2019) di Gedung C Fakultas Hukum. Gusdurian Surabaya mengadakan diskusi film Freedom Writers dengan mendatangkan Dri Utari Christiana S.H., LL.M. Selaku pembicara pertama ia mengatakan bahwa konflik seperti itu dapat terjadi di masyarakat Indonesia yang plural.

Berpedoman pada data-data seperti survei umat muslim dan guru agama yang intoleran dari UIN Jakarta. Ia menilai bahwa bibit-bibit kebencian terhadap agama dan ras sudah mulai muncul beberapa waktu ini.

“Politik identitas di Indonesia telah menjadi isu yang serius dan bisa mengancam kehidupan bermasyarakat di Indonesia,” ujar dosen Hukum Tata Negara itu.

Selain itu Yovi Wicaksono, selaku pembicara kedua mengungkapkan bahwa problema utama baik di film itu dan kondisi negara saat ini adalah pemikiran negatif terhadap perbedaan. Selaku Bidang Advokasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI), ia mengatakan bahwa pemikiran negatif itu bisa didapatkan dari peran pengajar yang intoleran, tulisan yang provokatif, faktor keluarga, dan lain-lain. Disitu ia mengkritik udara kebebasan yang telah dihirup masyarakat Indonesia di era reformasi ini.

“Kebebasan yang rakyat ingin-inginkan di tahun 1998, telah menyimpang menjadi kebebasan yang tidak bertanggung jawab,” tegasnya.

Penulis : Pradnya Wicaksana

Editor : Khefti Al Mawalia            

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu