Identifikasi Jenis Kelamin Korban Kriminalitas Melalui Sikat Gigi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh berita harian

Identifikasi personal merupakan permasalahan dalam kasus pidana maupun perdata.  Menentukan identitas personal dengan tepat amat penting dalam penyidikan karena adanya kekeliruan yang dapat berakibat fatal dalam proses peradilan. Identifikasi korban maupun tersangka pada kasus-kasus kriminalitas seperti pembunuhan, perkosaan dengan pembunuhan yang semakin hari semakin meningkat semakin mengukuhkan eksistensi kedokteran forensik. Identifikasi personal meliputi umur, jenis kelamin, ras, tinggi badan, perawakan dan lain sebagainya. Metode identifikasi meliputi sidik jari, property, medis, gigi, serologi dan metode eksklusi..

Sikat Gigi  Bahan Identifikasi Jenis Kelamin

Selama ini spesimen yang banyak dipakai dalam pemeriksaan penentuan jenis kelamin yakni melalui metode analisa antropologi. Sedang metode yang lain yakni melalui analisa DNA dalam mengidentifikasi, jenis kelamin. Adapun specimennya meliputi bercak darah/darah, bercak semen, vaginal swab, buccal swab dan tulang. Selain spencimen tersebut, bisa juga melalui benda-benda yang sering digunakan pelaku atau korban terakhir kalinya.misal sikat gigi. Sikat gigi digunakan oleh setiap manusia secara rutin. Dalam penggunaannya sikat gigi menempel pada mukuso mulut, gigi, gusi, lidah sehingga diduga diakibatkan oleh adanya sel-sel epitel lepas yang menempel pada alat tersebut. Hanya saja sampai saat ini belum banyak penelitian yang secara spesifik menjelaskan efektivitas penggunaan sikat gigi untuk digunakan sebagai bahan identifikasi.

Jenis kelamin mempunyai beberapa arti yang berbeda, yakni kromosomal, kromatinal, gonadal, hormonal, somatis, metrical dan psikis. Jenis kelamin kromosomal ditentukan oleh kromosom seksual. Jenis kelamin kromatinal ditentukan oleh kromatin seksual X        (Barr Body). Jenis kelamin kromosomal dan kromatinal disebut jenis kelamin genetiks. Jenis kelamin gonadal ditentukan oleh testes pada pria dan ovaria pada wanita yang terbentuk mulai bulan ketujuh intrauterin. Jenis kelamin hormonal atau metabolisme ditentukan oleh kualitas dan kuantitas hormon seksual. Kedua kelenjar kelamin tersebut memproduksi androgen dan estrogen. Androgen lebih banyak diproduksi oleh testes dan estrogen diproduksi oleh ovaria.

Androgen diproduksi juga oleh kelenjar anak ginjal sehingga kadar androgen dan estrogen dalam serum darah dapat menimbulkan kesalahan dalam menentukan jenis kelamin hormonal. Sedangkan jenis kelamin somatis ditentukan oleh perkembangnan alat kelamin dalam dan alat kelamin luar yakni penis dan scrotum pada laki-laki dan vagina pada wanita, Jenis kelamin somatis umumnya kentara dalam bentuk badan, tinggi badan, volume, proporsi badan, pilositi, bentuk tengkorak, bentuk panggul dan bentuk ekstremitas.

Metode dan Hasil

Penelitian ini dilakukan pada sikat gigi yang telah digunakan selama 1 minggu oleh responden pada populasi warga Tanzania di Surabaya. Kemudian, sampel sikat gigi tersebut dikirim ke laboratorium untuk dilakukan analisa pemeriksaan jenis kelamin.

Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa sikat gigi dapat digunakan sebagai bahan alternatif dalam identifikasi personal. Biologimolekuler, yakni melalui PCR (Polymerase Chain Reaction).  Salah satu teknik PCR untuk identifikasi jenis kelamin ialah dengan amplifikasi dari gen X-Y homolog amelogenin.. Amelogenin relatif mudah digunakan untuk amplifikasi DNA. Dengan menggunakan suatu pasang primer tunggal yang mencakup sebagian intron pertama, akan dihasilkan suatu produk PCR dari X dan Y homolog, yang kemudian diuraikan dengan suatu poliacrylamid gel elektroforese. Metode PCR terbukti mempunyai kegunaan  yang luas untuk forensik karena kesederhanaan, sensivitas dan reliabilitasnya dan juga lebih unggul karena secara teoritis dapat mendeteksi jenis kelamin dari satu sel dan jauh lebih cepat.

Dalam hasil penelitian ini, primer amelogenin masih mampu mengamplifikasi sehingga dalam hasil visualisasi masih nampak gambaran band-band, yakni pada sampel 1 adanya 2 band (212 bp dan 380 bp). Hasil band DNA dari rambut masih belum begitu sempurna atau samar, hal ini karena kadar DNA yang dihasilkan masih cukup rendah. Atau bahkan karena adanya proses degradasi DNAnya.

Penulis : Dr. dr. Ahmad Yudianto, SpFM[K]., SH., M.Kes

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :

http://www.scimagojr.com/journalsearch.php?q=19900194914&ip=sid&clean=0

Simon Martin Manyanza Nzilibili , Ahmad Yudianto, [2019], Amel gene profiling from toothbrush for sex determination among tanzanians in Surabaya, East Java. Journal Punjab Academic of Forensic Medicine Toxicology, Vol 19 No.1/ISSN 0972-5687, pp 51-54

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu