Komposisi Jenis dan Sebaran Ekosistem Mangrove di Pesisir Desa Kedawang

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi mangrove. (Sumber: Pemkab Buleleng)

Pengembangan suatu daerah selalu berimbas terhadap peningkatan jumlah penduduk yang cukup signifikan, sehingga mengakibatkan kebutuhan lahan menjadi semakin tinggi. Pada akhirnya dapat memicu peningkatan konversi lahan untuk permukiman, kawasan industri, sarana dan prasarana dan kegiatan lainnya.

Konversi hutan mangrove merupakan salah satu bentuk konversi lahan yang tidak dapat terelakkan dikawasan pesisir dan pulau-pulau kecil akibat peningkatan pertumbuhan penduduk yang tak terkendali pada suatu daerah. Hal ini mendorong terjadinya kerusakan sumber daya pesisir dan laut, yang akan berdampak negatif terhadap kehidupan manusia.

Keberadaan hutan mangrove di wilayah pesisir Kabupaten Pasuruan tepatnya kawasan pesisir wilayah administrasi Kecamatan Kedawang pada kenyataannya terus mengalami kerusakan atau degradasi. Hal itu disebabkan oleh berbagai tekanan dalam pemanfaatan dan pengelolaan yang kurang memperhatikan aspek kelestarian. Di beberapa kawasan utara mangrove di Kabupaten Pasuruan sudah mengalami kerusakan yang cukup memprihatinkan.

Sebagai upaya awal untuk mencegah dan menanggulangi kerusakan ekosistem mangrove diperlukan data dan informasi yang akurat tentang kondisi ekosistem yang meliputi identifikasi dan inventrarisasi kondisi eksisting biofisik mangrove ekosistem mangrove di suatu kawasan. Data yang akurat tentang kondisi aktual mangrove di pesisir Desa Kedawang saat ini sangat diperlukan sebagai data dasar serta acuan program-program pengelolaan secara berkelanjutan.

Informasi biofisik dikumpulkan melalui analisis citra dan analisis Geographic Information System (GIS), dan dilanjutkan dengan verifikasi melalui survei langsung lapangan dengan menggunakan metode transek untuk analisis vegetasi. Data penunjang seperti hasil kajian sebelumnya dan data dari instansi telah di-review sebagai pembanding kondisi ekosistem mangrove terkini (current condition).

Pengumpulan data dilakukan melalui cara pengukuran dan pengamatan langsung (observasi) dan pengambilan sampel. Parameter pengukuran biofisik ekosistem mangrove di lapangan terdiri dari (a) jenis mangrove, (b) kerapatan mangrove. Data yang telah dikumpulkan kemudian ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif kualitatif.

Dari penelitian yang dilakukan didapatkan hasil bahwa di daerah penelitian dibagi tiga stasiun, yaitu stasiun 1, stasiun 2 dan stasiun 3. Beberapa jenis mangrove yang ditemukan antara lain, Avicennia alba, Avicennia Marina, Sonneratia Alba, Rhizophora mucronata, dan Rhizophora apiculata. Dari semua stasiun penelitian yang diamati terdapat Avicennia alba yang tumbuh.

Hasil pengukuran tekstur tanah distasiun 1 dan 2 bertekstur lempung berpasir dikarenakan stasiun 1 dan 2 ini berhadapan dengan laut. Sedangkan tekstur tanah stasiun 3 adalah lempung. Hal ini diperkirakan karena stasiun 3 lebih banyak dipengaruhi dari daratan dan aktivitas penduduk. Informasi terkait keragaman jenis dan kepadatan mangrove dapat digunakan sebagai alternatif pemulihan sumber daya perikanan dan pesisir di perairan Indonesia. (*)

Penulis : Wahyu Isroni

Informasi lebih detail dari penelitian ini dapat ditemikan pada jurnal ilmiah pada link berikut ini:https://www.researchgate.net/publication/333754390_Short_Communication_Species_composition_and_density_of_mangrove_forest_in_Kedawang_Village_Pasuruan_East_Java_Indonesia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu