Infeksi Parasit Kutu Kepala yang bisa Berisiko Infeksi dan Anemia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber foto: unsplash.com
Sumber foto: unsplash.com

Pedikulosis adalah infeksi parasit pada kulit kapala. Agen yang menyebabkan merupakan suatu kutu yang bernama latin Pediculus humanis var. capitis. Kutu ini menghisap darah manusia.

Umumnya infeksi ini mengenai anak yang berusia 6-12 tahun di daerah pedesaan. Angka kejadian bervariasi mulai dari 13,3 persen  hingga 49 persen pada anak yang berumur 3-13 tahun.

Pedikulosis lebih sering dialami oleh anak perempuan, yaitu 2-4 kali lebih sering banding laki-laki. Diperkirakan ada 2.400 kasus baru pedikulosis per 10.000 anak setiap tahunnya. Pedikulosis dapat ditularkan secara langsung melalaui kontak dengan manusia yang terinfeksi atau secara tidak langsung melalui sisir, bantal, handuk, dan topi yang telah terinfeksi.

Infeksi pedikulosis tersebar hampir di seluruh negara dan menjadi masalah baik di negara maju maupun negara berkembang. Sebanyak 13 persen anak di Australia mengalami infeksi kutu di kepalanya, sementara di Brazil 43 persen anak di area perkotaan, dan 28 persen anak di area perdesaan mengalami infeksi kutu di kepalanya.

Kemudian, di China prevalensi pedikulosis mencapai 14 persen, sedangkan di Inggris prevalensinya hanya 2 persen. Ras Kaukasoid di Kanada dan Amerika Serikat terbukti lebih sering terkena infeksi kutu kepala dibanding dengan orang berkulit hitam.

Penyakit pedikulosis ditegakkan jika terdapat kutu dewasa, nimpa, dan atau telur pada kepala manusia. Infeksi pedikulosis akan memberikan rasa gatal yang terus-menerus akibat iritasi karena saliva atau air liur yang dikeluarkan oleh kutu rambut saat menghisap darah supaya darah yang dihisap tidak membeku.

Rasa gatal akan muncul 2-6 minggu setelah infeksi pertama, namun beberapa gejala lain dapat muncul beberapa jam setelah infeksi. Selain menyebabkan gatal-gatal, pedikulosis dapat juga menyebabkan ekskoriasi atau ruam, konjungtivitis (mata merah), infeksi bakteri, dermatitis (kulit merah) setelah terapi, pembengkakan kelenjar getah bening/adenopati, dermatitis menyeluruh yang tidak spesifik, anemia, dan reaksi alergi yang menyebabkan obstruksi rongga hidung dan hidung yang penuh cairan lendir/rhinorrhea.

Anemia umumnya jarang terjadi kecuali pada infeksi kutu yang parah dan gizi yang kurang baik. Selain itu anemia defisensi besi mungkin terjadi pada infeksi kutu yang berkepanjangan, nutrisi yang kurang serta pada beberapa kondisi tertentu misalnya adanya pendarahan saluran pencernaan.

Infeksi pedikulosis yang parah biasanya dihubungkan dengan sosial ekonomi yang rendah, kebersihan, dan nutrisi yang kurang, karakteristik rambut, parasit yang kebal dengan insektisida, faktor genetik, dan kebiasaan. Tata laksana pada infeksi pedikulosis yang sangat penting, yaitu menghilangkan telur pasit yang menempel kemudiaan ditambah dengan pedikulisida (obat kutu) oles untuk mencegah resistensi.

Pedikulisida (obat kutu oles) akan membuat parasit tidak bisa bergerak dan akhirnya membunuh kutu. Penggunaan pedikulosida harus dibilas menggunakan air dingin karena jika menggunakan air panas akan menyebabkan vasodilatasi atau pelebaran pembuluh darah sehingga meningkatkan penyerapan sistemik (penyerapan kedalam tubuh). Apabila tidak ditangani dengan baik, komplikasi yang mungkin terjadi yaitu infeksi bakteri sekunder, anemia, pembesaran kelenjar getah bening di leher dan bagian belakang kepala, bahkan sepsis (infeksi yang berat) yang dapat menyebabkan kematian.

Meskipun usia yang rentan terkena pedikulosis adalah anak-anak namun tidak menutup kemungkinan infeksi pedikulosis terjadi pada orang lanjut usia/geriatri. Seperti salah satu laporan kasus di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, pasien wanita yang berusia 80 tahun datang dengan keluhan gatal dan terdapat kutu di bagian kepalanya, penurunan nafsu makan, dan terkadang demam.

Sehari-harinya pasien hanya berbaring di kasur karena terkena hemiparesis (kelemahan anggota tubuh) sejak 6 bulan yang lalu. Cucu laki-lakinya juga pernah terkena pedikulosis yang mungkin menjadi sumber penularan. Pemerikasaan fisik pada pasien juga didapatkan adanya pembesaran kelenjar getah bening di belakang telinga, ada bercak kemerahan, serta erosi pada kulit kepalanya. Selain itu pemeriksaan laboratorium menunjukkan anemia hipokromik mikrositik dan peningkatan jumlah leukosit.

Wanita ini didiagnosis dengan pedikulosis kapitis dengan komplikasi infeksi berat (sepsis) dan anemia. Kemudian pasien diberikan injeksi antibiotik suntik ceftriaxone, metronidazole, transfusi sel darah merah, dan permethrin 1 persen. Setelah terapi selama 1 minggu kondisi klinis dan pemeriksaan laboratorium menunjukkan hasil yang baik dan tanpa efek samping.

Pedikulosis dapat menyerang semua golongan usia mulai dari anak-anak hingga lanjut usia. Oleh sebab itu, diperlukan edukasi supaya setiap orang menjaga kebersihan diri sendiri serta tidak berbagi sisir, bantal, dan topi kepada orang lain dan nutrisi yang baik. Pentingnya eradikasi parasit secara dini karena komplikasi pedikulosis dapat menyebabkan infeksi berat yang mengancam nyawa. (*)

Penulis: dr. Rahmadewi, Sp.KK(K),  FINS-DV, FAADV

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://e-journal.unair.ac.id/BIKK/article/view/12393

Judul jurnal: Kutu Kepala pada Pasien Geriatric dengan Komplikasi Sepsis dan Anemia: Laporan Kasus

Rahmadewi Rahmadewi, Riyana Noor Oktaviyanti

Department of Dermatology and Venereology, Faculty of Medicine, Universitas Airlangga / Dr. Soetomo General Hospital, Surabaya, Indonesia

http://dx.doi.org/10.20473/bikk.V31.2.2019.165-170

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu