Tingkatkan Kampanye Baca untuk Masyarakat Melalui Inovasi Pusmintali

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Tribunnews.com

Perpustakaan umum rasanya tidak berhenti untuk berinovasi dalam rangka mendekatkan layanan kepada masyarakat. Namun kenyataannya perpustakaan umum kadangkala sulit dijangkau oleh masyarakat karena lokasi yang cukup jauh. Untuk meminimalisir masalah jarak dan untuk mengenalkan perpustakaan umum kepada masyarakat, maka perpustakaan banyak membuat inovasi seperti membangun program perpustakaan keliling, perpustakaan di mall, rumah sakit, taman bacaan masyarakat, dan taman-taman kota. Inovasi terbaru yakni layanan perpustakaan mini di Kota Wali Gresik yang diberi nama Perpustakaan Mini Kota Wali (Pusmintali).

Pusmintali merupakan inovasi dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gresik yang dirintis sejak Januari 2017. Perpustakaan mini ini didirikan di delapan halte bus di Kota Gresik yang ditujukan kepada masyarakat umum sedang menunggu angkutan umum. Selain itu, pusmintali ini juga sebagai media kampanye gemar membaca dan mendekatkan buku ke masyarakat di Kota Gresik. Perpustakaan Kota Gresik meletakkan sebuah rak buku beserta isinya di delapan halte bus tanpa dijaga. Sehingga masyarakat yang berada di halte tersebut dapat memanfaatkan koleksi sambil menunggu bus. Koleksi pusmintali banyak berisi majalah, pengetahuan umum, agama, dan koleksi terkait kota Gresik.

Pusmintali dan Pendidikan Karakter

Munculnya Pusmintali merupakan salah satu ide kreatif yang dilakukan oleh Dinas Perpustakaan Kabupaten Gresik. Pendirian perpustakaan mini ditengah masyarakat tanpa ada pengawasan dan tanpa ada penjagaan pengamanan merupakan yang pertama kali di Indonesia. Semangat Pusmintali adalah mendekatkan layanan perpustakaan dan membiasakan budaya baca kepada masyarakat. Selain itu juga ada nilai-nilai pendidikan karakter yang ingin diwujudkan dalam Pusmintali, yakni mengajak masyarakat untuk menjaga fasilitas umum, berperilaku jujur, dan bertanggungjawab.

Hasil survey menyatakan bahwa koleksi Pusmintali sangat kotor, rusak, bahkan banyak koleksi yang hilang. Hal tersebut adalah resiko yang diambil ketika mendirikan pusmintali, di mana pemerintah optimis dapat mendidik warganya untuk merawat fasilitas public. Masyarakat tidak terbiasa dengan hal tersebut sehingga menganggap bahwa buku-buku itu boleh diambil, dirusak, dan dihilangkan karena tidak ada yang mengetahui.

Sementara itu Dinas Perpustakaan Kabupaten Gresik tetap konsisten dengan programnya, di mana setiap dua bulan sekali petugas akan mendatangi Pusmintali, mengecek kondisi koleksi, dan menambahkan koleksi baru. Pusmintali yang berdiri lebih dari satu tahun, masih tetap digunakan oleh masyarakat yang datang ke halte bus. Pengguna pusmintali adalah pengguna bus, yakni masyarakat dengan usia 20-50 tahun. Sangat jarang dijumpai oleh anak sekolah usia 7-16 tahun. Jadi target untuk menanamkan budaya baca sejak dini dinilai kurang efektif. Hal ini bisa dilihat dengan rata-rata pengguna membaca di Pusmintali tidak lebih dari 3 menit. Dimana pengguna biasa membaca majalah atau berkala lainnya. Untuk fasilitas, pengguna memiliki pendapat bahwa tempat yang disediakan oleh Pusmintali tidak nyaman untuk membaca.

Secara keseluruhan, pengguna Pusmintali menilai bahwa Pusmintali itu positif dalam inisiasi pemenuhan informasi pengguna. Layanan Pusmintali dapat diteruskan dengan meningkatkan fasilitas yang layak, pemberian koleksi yang beragam dan bagus secara fisik. Program Pusmintali masih belum terlihat hasilnya mengingat program ini masih berjalan selama 1 tahun. Berdasarkan hasil evaluasi diantaranya, banyak koleksi pusmintali yang hilang, kondisi buku yang rusak, poster dan fasilitas pendukung pusmintali banyak yang dicorat coret, dan jumlah pengunjung pusmintali yang sangat rendah. Melihat hasil tersebut, perpustakaan masih terus melanjutkan program pusmintali dengan harapan masyarakat sadar akan pentingnya informasi dan pengetahuan bagi mereka.

Harapan terhadap Pusmintali

Kedepannya, pusmintali dapat digunakan sebagai gerakan membangun kesadaran masyarakat terhadap perpustakaan umum. Pusmintali dapat menjadi media promosi bagi perpustakaan umum, di mana poster dan pengumuman terkait perpustakaan dapat dimuat di pusmintali, sehingga masyarakat yang datang ke halte bus dapat membaca informasi tersebut.

Pusmintali juga bisa menambah koleksi yang menarik, tidak hanya majalah lama dan buku pengetahuan, melainkan buku-buku keterampilan, buku gaya hidup, teknologi, dan buku cerita anak. Untuk koleksi hendaknya mengikuti kebutuhan informasi pengguna, jika dilihat dari pengguna bis adalah para pekerja dan mahasiswa yang datang pagi dan kembali di sore hari. Para pengguna bus ini bisa mampir ke Pusmintali untuk ‘meminjam’ koleksi yang tersedia dan membawanya pulang dan dikembalikan dikemudian hari. Untuk memfasilitasi layanan tersebut, Pusmintali perlu memberikan tata tertib layanan agar pengunjung mengetahui hak dan kewajiban mereka.

Pusmintali juga dapat memberikan pendidikan literasi informasi melalui poster yang berisi ajakan untuk menjaga koleksi perpustakaan, memberi informasi bahwa koleksi perpustakaan tidak untuk dirusak karena koleksi tersebut penting bagi orang lain dengan mengajak untuk membantu memenuhi kebutuhan informasi orang lain dengan menjaga koleksi tersebut. Mendidik masyarakat untuk bertanggungjawab diawali dari hal yang paling kecil.

Penulis: Nove E. Variant Anna

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :

https://digitalcommons.unl.edu/libphilprac/2402/

Yoga Setya Perdana, Nove E, Variant Anna, (2019), Public library innovation to engage users: a case study of Pusmintali. Library Philosophy and Practice, May 2019.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu