Kenali MRSA, Bakteri Yang Kebal Terhadap Antibiotik

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Artikel Ilmiah oleh Feri Fenoria
Ilustrasi Artikel Ilmiah oleh Feri Fenoria

UNAIR NEWS – Methicilin Resistant Staphylococcus Aureus atau dalam istilah medis disebut MRSA adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus yang kebal terhadap semua jenis antibiotik, seperti amoxilin atau penisilin. Diketahui, Staphylococcus adalah bakteri yang tidak membahayakan pada manusia.

Namun, ketika pertumbuhannya tidak terkendali, bakteri ini dapat menyebabkan infeksi pada manusia. Penyebarannya melalui kontak secara langsung dan tidak langsung, yakni pada carrier atau yang sudah terinfeksi bakteri melalui hidung, tenggorokan, dan ketiaknya.

Belanda merupakan negara dengan tingkat MRSA terkecil di dunia. Namun meskipun begitu, pasien MRSA masih sering ditemui. Setelah diteliti, sumbernya ada pada hewan. Karena biasanya hewan diberi obat perangsang pertumbuhan Antibiotik Group Promotor (AGP) oleh pemiliknya. Hal itu akan menimbulkan penguatan bakteri Staphylococcus yang tersebar..

Dari hasil penelitian di beberapa rumah sakit, mengungkapkan bahwa rata-rata masalah MRSA di Indonesia terjadi sekitar 30% hingga 50%. Dalam penelitiannya, Prof. Dr. Kuntaman dr., MS., Sp.MK(K)., Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) mengungkapkan bahwa 643 pasien yang terdiri dari laki-laki dan perempuan yang terdaftar dalam rumah sakit, 8% diantaranya terjangkit bakteri MRSA. Menyikapi persoalan tersebut, ditemukanlah formulasi untuk mengobati pasien MRSA dengan cara eradikasi.

Ada tiga dalam radikasi yaitu dengan menggunakan antibiotik jenis sulfar selama tujuh hari, mandi dengan antiseptik selama tujuh hari, dan mengoleskan salep antibiotik pada bagian yang terinfeksi. Namun, jika kasus MRSA ini terjadi di rumah sakit, disarankan untuk segera melakukan skrining (tes) untuk mencegah penyebaran yang sangat berbahaya bagi pasien lainnya.

“Hal itu untuk mencegah penyebaran. Kalau kita merawat orang sakit itu cukup diobati orangnya selesai, tapi kalau carrier yang terkena MRSA itu kalau dibiarkan akan lebih besar, dan berdampak pada pasien lainnya,” tegasnya.

Terakhir, Prof. Kuntaman berharap, dengan penelitiaannya serta pengembangan pedoman yang sudah disusun bersama, dapat mengatasi permasalahan MRSA di Indonesia. Khususnya apabila BPJS dapat dilibatkan, karena biaya penanganan MRSA itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Penulis : Fariz Ilham Rosyidi

Editor : Khefti Al Mawalia

Referens: K. Kuntaman, et. Al. 2016. Prevalence of Methicillin Resistant Staphylococcus Aureus From Nose and Throat of Patients on Admission to Medical Wards of Dr. Soetomo Hospital, Surabaya, Indonesia. Southeast Asian Journal of Tropical Medicine and Public Health Vol 47 No 1

Link : https://www.researchgate.net/publication/304946202_PREVALENCE_OF_METHICILLIN_RESISTANT_STAPHYLOCOCCUS_AUREUS_FROM_NOSE_AND_THROAT_OF_PATIENTS_ON_ADMISSION_TO_MEDICAL_WARDS_OF_DR_SOETOMO_HOSPITAL_SURABAYA_INDONESIA

This post is also available in: English

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Berita Terkini

Laman Facebook

Artikel Populer
Close Menu