Peran Mahasiswa dalam Menjaga Dunia Anak

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh DiginationID
Ilustrasi oleh DiginationID

Masa kanak-kanak sangat berpengaruh bagi masing-masing individu kedepannya. Keluarga dan lingkungan masyarakat sekitarnya merupakan lembaga sosial yang bertanggung jawab membentuk persepsi awal seorang anak. Akan tetapi, kini dunia anak terancam bahaya akibat ulah pihak-pihak yang bertanggung jawab. Kehidupan masa kanak-kanak kini jauh dari hingar-bingar permainan sensorik.Orang tua lebih sering mengurung anaknya ketimbang membiarkannya bebas menjelajahi tempat baru. Bahkan, lebih mengapresiasi kemampuan nalar rasional anak daripada daya kreativitas dan imajinasinya.Selain orang tua dan masyarakat, pihak yang bertanggung jawab atas terancamnya dunia anak adalah negara. Pemerintah sebagai pihak yang berkuasa, seharusnya menjaga dunia anak dari ekspansi dan agresi dunia orang dewasa.

Sebuah kisah dari gang-gang kecil Karangmendjangan. Ketika saya melewati gang tersebut, seorang ibu mengoceh dan mengusir lima anak kecil yang hendak bermain sepak bola, tepat di jalan depan rumahnya. Salah seorang anak membela diri dan teman-temannya, dengan berujar ‘rumah kami sempit dan kami tidak menemukan ruang yang cukup luas untuk bermain disana’. Saya tertegun dan tetap melangkahkan kaki.

Ruang-ruang kota di Surabaya telah banyak yang diprivatisasi. Sementara ruang kota yang tersisa dan cukup luas untuk dimanfaatkan sebagai pengganti arena bermain hanyalah jalan setapak atau jalan raya. Pembangunan kota merampas hak anak. Akibatnya, sebagian besar anak-anak beralih dari permainan tradisional ke game virtual. Akan tetapi, dampak paling destruktif justru terkait fase kehidupan masa kanak-kanak yang terampas, dan terpaksa langsung beranjak menuju fase kehidupan manusia dewasa.

Refleksi Sejarah Anak-Anak

23 Oktober 1908, surat kabar Het Nieuws van Den Dag, memuat berita yang menceritakan seorang anak bersembunyi di selokan. Sanitasi perkampungan yang buruk dengan selokan dangkal, kering, kotor dan sarang penyakit justru dimanfaatkan untuk ruang bersembunyi. Terlepas dari muatan politis kolonial dan isu higienitas, kisah tersebut memberitahu kita betapa bahagianya anak-anak jaman dulu hingga tidak memperdulikan keadaan sekitarnya. Permainan petak umpat yang dimainkan anak-anak dapat mengasah berbagai segi kecerdasan dan melatih fungsi organ tubuhnya. Kecerdasan mengambil keputusan, meningkatkan kepercayaan diri, kemandirian bertindak, menjunjung sportivitas, menstimulus sensor motorik, berlatih kejujuran, menerima tanggung jawab dan merangsang fluktuasi beragam emosi sehingga menghidupkan sisi kemanusiaan melalui kontak fisik dalam ruang sosial tanpa mengabaikan fantasi dan kebebasan.

Kegiatan bermain anak-anak jaman dulu lebih bebas dan bersifat spontan. Seperti menjelajah dan mengumpulkan benda-benda yang sekarang kehilangan keseruannya akibat pembangunan kota dan privatisasi besar-besaran terhadap ruang-ruang kota. Kegiatan bermain penjelajahan ini biasanya melibatkan teman sekelompoknya atau teman-teman yang baru dikenalnya. Jiwa-jiwa petualang anak-anak memberikan pengalaman-pengalaman menarik yang seringkali dijadikan bahan cerita dengan teman-temannya. Anak-anak mengeksplorasi wilayah baru dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Dorongan mencari hal-hal baru itu menjadikan anak-anak bertindak inisiatif, berjiwa pemberani, berpikir solutif, bersikap tenang menghadapi masalah serta percaya diri dan bertanggung jawab atas segala keputusannya.

Yang paling mengasikkan bagi anak-anak jaman dulu adalah kegiatan menciptakan mainan sendiri dari daya kreativitas mengelolah bahan dari alam atau lingkungan yang kini digantikan permainan dalam ruang virtual. Biasanya usai mainan ciptaannya jadi, anak-anak menamainya dengan kata unik berdasarkan cara bermainnya, bahan bakunya dan lain sebagainya. Anak-anak menyulap barang bekas, sampah, batang pohon pisang, bambu, daun rumput gajah dan segala apapun dari alam sekitarnya menjadi mainan yang menyenangkan.

Ruang ekologi menyediakan berbagai bahan baku untuk menciptakan dan bermainan mainan ciptaannya. Cuaca, iklim dan musim mempengaruhi permainan anak-anak. Jikalau hujan dan menyebabkan banjir, anak-anak bermain gethekan dari bambu ataupun batang pohon pisang. Sementara apabila angin berhembus kencang, maka mereka akan bermain layang-layang. Permainan, bermain dan mainan anak-anak adalah karya cipta kreativitas yang memainkannya menggunakan imajinasi dengan aturan bebas yang mereka buat dan mereka langgar sendiri. Permainan, bermain dan mainan anak-anak merangsang kesenangan luar biasa dengan kebebasan berekspresi, kesan penghargaan atas karya ciptanya dan memakai daya imajinasinya yang dapat menstimulus beraneka ragam emosi-emosi. Akan tetapi, semua kegiatan bermain itu sudah jarang dapat dilakukan di kota Surabaya yang padat penduduk dengan bangunan-bangunan dan gedung-gedung megah melahap habis ruang-ruang kota.

Berita Terkait

Manda Firmansyah

Manda Firmansyah

Leave a Replay

Close Menu