Geliat Bisnis Mahasiswa Selama Ramadhan, Dosen FEB Berikan Tips agar Tetap Berkelanjutan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
DOSEN Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Airlangga, sekaligus koordinator pembina kewirausahaan di unit Pusat Pembinaan Karir dan Kewirausahaan (PPKK), Dr. Tri Siwi Agustina SE., M.Si. (Foto: Nabila Amelia)
DOSEN Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Airlangga, sekaligus koordinator pembina kewirausahaan di unit Pusat Pembinaan Karir dan Kewirausahaan (PPKK), Dr. Tri Siwi Agustina SE., M.Si. (Foto: Nabila Amelia)

UNAIR NEWS – Ibarat sebongkah gula yang dikerubungi oleh kawanan semut. Perumpamaan tersebut agaknya tepat untuk menggambarkan situasi di bulan Ramadhan kemarin. Bagaimana tidak? Momentum itu seolah menjadi daya tarik tersendiri bagi sejumlah masyarakat yang hendak mengawali ataupun mengembangkan lahan bisnis miliknya.

”Ramadhan itu magnet bagi semua orang dalam memanfaatkannya sebagai ladang bisnis. Dari ta’jil, kue kering, katering, fashion, sampai travel agent.Semuanya ada,” kata dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga Dr. Tri Siwi Agustina SE., M.Si.

Hal tersebut lumrah terjadi seiring dengan meningkatnya permintaan produk selama puasa jika dibanding hari-hari normal. Ditambah lagi dengan partisipasi anak-anak muda yang mulai gencar untuk bertindak sebagai kompetitor di sektor ekonomi. Mereka juga turut menyasar lingkungan sekitar dan memperkenalkan aneka produk unik guna memikat para pembeli.

”Bisnis saat Ramadhan banyak sekali jenisnya. Karena itu, diperlukan sebuah pembeda, baik berupa inovasi pada produk, layanan, maupun fasilitas yang diberikan,” imbuh perempuan yang baru saja menerbitkan buku berjudul Kewirausahaan di Era Revolusi Industri 4.0 itu.

Meski sangat potensial, memulai bisnis di bulan Ramadhan tetap memerlukan strategi. Tidak bisa sekadar mengikuti tren. Bahkan, akan sangat menguntungkan apabila terus berlanjut pada masa mendatang. Beberapa tahap yang harus diperhatikan para pelaku usaha, antara lain, mencari tahu keinginan konsumen. Kemudian, melakukan tahap pengenalan atau promosi. Terakhir, adalah proses peningkatan produk (enhancement).

”Jangan melakukan tahap pengenalan terlalu singkat, lalu tiba-tiba dipaksa enhancement. Kalau perlu, berikan promo, bonus atau voucher, kurang lebih satu sampai dua bulan. Perhitungkan juga terkait harga dan risiko usaha,” tutur koordinator pembina kewirausahaan di unit Pusat Pembinaan Karir dan Keterampilan (PPKK) UNAIR tersebut.

Dr. Siwi juga membeberkan metode-metode yang telah digunakan oleh generasi millennial dalam mengelola bisnisnya. Yakni, melalui konten promosi serta fake account. Tujuannya mengepung pembeli dan mengelompokkan produk sesuai jenisnya.

”Bisa juga dengan membuat group chat atau kolam. Jadi, pembeli dikelompokkan pada satu wadah di media sosial berdasar produk yang disukainya. Kemudian, kita melakukan promosi di sana,” terang anggota asosiasi Forum Manajemen Indonesia (FMI) itu.

Dia berpesan mahasiswa maupun pengusaha yang baru merintis bisnisnya agar terus belajar dan menambah wawasan. Jika perlu, dapat mencari mentor. Sementara, bagi mereka yang telah menggeluti bisnis, itu merupakan fase untuk semakin mengembangkan produk. Dan, yang terpenting adalah upaya menjaga komitmen, juga sikap fokus.

”Komitmen berwirausaha jangan cuma dilihat saat uang kembali. Harus ada batasan dan pembagian yang jelas, kalian tidak sendiri, tumbuhkan motivasi serta perbanyak networking. Tidak boleh buru-buru merambah bisnis lain,” tutupnya. (*)

Penulis: Nabila Amelia

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

This post is also available in: English

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Berita Terkini

Laman Facebook

Artikel Populer
Close Menu