Lebaran Tak Mudik, Yusuf: Kesempatan Nikmati Lengangnya Surabaya

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Muhammad Yusuf Patamani, mahasiswa Fakultas Farmasi UNAIR yang berasal dari Gorontalo. (Dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – Hari Raya Idul Fitri menjadi momen yang sangat istimewa bagi umat muslim di seluruh dunia. Kerap disebut sebagai hari lebaran, di Indonesia Hari Raya Idul Fitri identik dengan berkumpul bersama keluarga dan kerabat. Sayangnya, beberapa mahasiswa luar daerah terpaksa melalui hari raya di Surabaya, demi menuntaskan kewajiban sebagai mahasiswa.

Salah satunya adalah Muhammad Yusuf Patamani, mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (UNAIR) yang berasal dari Gorontalo. Yusuf mengungkapkan, tahun ini adalah kali keduanya menghabiskan lebaran di tanah rantau. Ia pun membagikan pengalaman dan kesannya pada tim UNAIR NEWS.

Menurut Yusuf, perbedaan yang paling terasa saat ia melalui momen lebaran di Surabaya adalah kebersamaan bersama keluarga. Jika di Gorontalo ia melewati Ramadan dan lebaran bersama orang-orang tersayang, maka di Surabaya ia harus melakukan semuanya sendiri. Mulai dari menyiapkan makanan untuk sahur dan berbuka, beribadah, hingga salat Ied.

“Selain itu, perbedaan yang lain tentu makanannya. Makanan di Surabaya sulit ditemui di Gorontalo, dan sebaliknya. Terutama sempol dan telur gulung, pasti nggak ada di Gorontalo,” ujarnya sambil tertawa.

“Juga, tradisi sebelum salat Isya’ juga berbeda. Doa-doa yang dibaca berbeda dengan di Gorontalo,” lanjutnya.

Meskipun sendiri, Yusuf bercerita bahwa ia berusaha menikmati waktu yang ia miliki. Usai menunaikan salat Idul fitri, Yusuf memilih untuk berkeliling Surabaya dengan motornya. Ia mengaku senang bisa menikmati suasana Surabaya yang terasa lengang pada hari lebaran.

“Dari pada sendiri di kos, saya pikir lebih baik jalan-jalan. Jadi, ya, saya berkeliling kota selagi Suarabaya sepi,” kisahnya.

Untuk malam takbiran, Yusuf memilih menghabiskannya di Jembatan Air Mancur Pelangi Kenjeran. Menurutnya, menghabiskan waktu di tengah keramaian bisa sedikit mengobati kerinduannya akan keluarga.

“Tahun lalu, saat hari pertama lebaran saya juga pergi ke Surabaya Carnival Park. Lumayan, selagi Suarabaya sedang sepi, jadi bisa leluasa mencoba wahana yang ada di sana,” ujar Yusuf.

Bagi Yusuf, hal yang paling ia rindukan dari kampung halamannya selain kebersamaan bersama keluarga adalah tradisi yang hanya ada di Gorontalo. Terutama tradisi Tumbilotohe, dimana setiap rumah membuat hiasan lampu semenarik mungkin.

Meskipun sendiri, Yusuf mencoba untuk terus berpikir positif dan melalui lebarannya di Surabaya dengan baik. Dengan menghabiskan waktu di tempat-tempat menarik di Surabaya, ia berharap bisa sedikit mengurangi rasa sepinya. (*)

Penulis : Sukma Cindra Pratiwi

Editor : Binti Q Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu