NIA Nurmalasari usai mengikuti International Conference on Tourism and Architecture di Karabuk University, Turki, pada Rabu (24/9/18). (Foto: Dokumen Pribadi)
NIA Nurmalasari usai mengikuti International Conference on Tourism and Architecture di Karabuk University, Turki, pada Rabu (24/9/18). (Foto: Dokumen Pribadi)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Bagi sejumlah masyarakat, mengenyam pendidikan di perguruan tinggi masih menjadi sebuah kesempatan yang harus dibayar mahal. Terutama bagi penduduk yang tinggal jauh dari akses pendidikan. Butuh persiapan yang matang, termasuk biaya yang lebih untuk bertahan hidup, jika ingin mencecap ilmu dan keterampilan di kota orang.

Pemerintah terus berupaya untuk memberikan fasilitas –khususnya bagi kalangan kurang mampu– melalui Bantuan Pendidikan Mahasiswa Miskin Berprestasi (Bidikmisi). Salah seorang penerima manfaat dari subsidi negara itu adalah Nia Nur Malasari, mahasiswi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga angkatan 2015.

Ditemui pada sela-sela waktu senggangnya Selasa (30/4/19), Nia –begitu ia disapa– mengakui bahwa sebelumnya tidak pernah mendengar terkait Bidikmisi. Bahkan, ia sempat menjajal Seleksi Prestasi Akademik Nasional Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (SPAN-PTKIN), seperti kebanyakan teman-temannya di Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Kala itu Nia mendaftar di salah satu universitas islam negeri di Yogyakarta.

”Tapi nggak lolos. Terus, aku tau Bidikmisi dan macam-macam beasiswa yang ada di perguruan tinggi setelah ikut Bidikmisi Goes to School (BMGTS). Akhirnya coba seleksi lain seperti SNMPTN dan SBMPTN lewat jalur Bidikmisi,” tutur gadis asal Tulungagung itu.

Keuangan keluarga yang pas-pasan serta kondisi orangtua yang tak lagi muda membuat Nia bertekad untuk melanjutkan pendidikan tanpa membebani keduanya. Berbagai usaha ia lakukan, termasuk tidak mengikuti bimbingan belajar demi menghemat biaya. Bermodal soal-soal pinjaman gurunya semasa Sekolah Menengah Pertama (SMP), Nia giat belajar hingga akhirnya lolos di SBMPTN jurusan Ilmu Sejarah UNAIR.

”Ambil jurusan ini karena lihat passing grade dan mengukur kemampuan juga. Walaupun ibu sempat nggak yakin, mungkin karena lihat ke depan mau jadi apa. Tapi akhirnya ikhlas, berharap aku kuliah yang bener dan ternyata nggak seburuk itu kok,” imbuhnya.

Diterima di jurusan yang kental dengan sebutan ‘kuno’ dengan status penerima beasiswa tak lantas membuatnya berkecil hati ataupun berpuas diri. Perjalanan besar menantinya bersama amanah orangtua yang tersemat dipundaknya. Karena itu, ia bertekad untuk mencari ilmu serta menggali pengalaman sebanyak mungkin.

Beragam organisasi diikutinya, mulai himpunan mahasiswa, badan eksekutif mahasiswa (BEM) tingkat fakultas dan universitas sampai nasional seperti Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah se-Indonesia (IKAHIMSI). Selain itu, Nia berpartisipasi dalam komunitas sosial seperti Gerakan Melukis Harapan dan Tulungagung Muda.

”Kalau aktif di organisasi maupun komunitas, kita bisa berjejaring dan cari pengalaman. Begitu juga saat berpartisipasi di lomba atau conference, lebih luas lagi,” ujarnya.

NIA Nurmalasari setelah selesai mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat Ekspedisi Nusantara Jaya 2018 pada Kamis (30/8/18). (Foto: Dokumen Pribadi)
NIA Nurmalasari setelah selesai mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat Ekspedisi Nusantara Jaya 2018 pada Kamis (30/8/18). (Foto: Dokumen Pribadi)

Pengalaman berkesan lainnya didapat ketika Nia mengikuti Ekspedisi Nusantara Jaya (ENJ) 2018 di Pulau Masalembu. Bersama rekan-rekan satu timnya, ia merasakan betul bagaimana hidup di kawasan tertinggal dan serba terbatas. Menariknya, dari kondisi tersebut, timbul rasa kekeluargaan yang kuat antara anggota tim dengan warga setempat.

”Di sana cuma ada sekolah sampai SMP aja. Kalau mau lanjut SMA jauh, harus naik kapal selama tiga jam. Perjuanganku di sini nggak ada apa-apanya dibanding mereka,” katanya.

Beberapa kompetisi serta konferensi juga pernah diikutinya, antara lain History Week di Universitas Gajah Mada, Seminar Sejarah Nasional oleh Direktorat Sejarah di Palembang dan International Conference on Tourism and Architecture di Karabuk University Turkey.

”Dapat pengalaman dan menambah teman dengan ikut lomba. Aku juga ngajar les. Itu membantu sekali untuk memenuhi kebutuhan kuliah yang semakin meningkat di semester akhir menjelang skripsi ini,” terangnya.

Terakhir, Nia berpesan untuk tidak minder meskipun berasal dari keluarga kurang mampu. Menjadi diri sendiri lebih penting, tetapi tetap harus disertai usaha dan doa. (*)

 

Penulis: Nabila Amelia

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone