Indonesia Bersih Narkoba Butuh Power Generasi Milenial

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
RIA Damayanti, Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNN Provinsi Jawa Timur saat memberikan paparan dalam Seminar Nasional HTTS HANI 2019. (Foto: Ulfah Mu’amarotul Hikmah)
RIA Damayanti, Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNN Provinsi Jawa Timur saat memberikan paparan dalam Seminar Nasional HTTS HANI 2019. (Foto: Ulfah Mu’amarotul Hikmah)

UNAIR NEWS – Seminar Nasional dalam rangka memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) dan Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) 2019 digelar Unit Kegiatan Mahasiswa Peduli Penyalahgunaan NAPZA dan Penyebaran HIV-AIDS (UK MAPANZA) Universitas Airlangga (UNAIR). Kali ini membahas permasalahan sekaligus langkah gerak yang dapat dilakukan masyarakat pada era sekarang.

Seperti diketahui, generasi milenial yang dekat dengan dunia teknologi sangat aktif menggunakan internet dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan itu bisa berupa browsing, streaming, dan media sosial.

Tessa Rachmaviani Duta Anti Narkoba Jawa Timur 2018 mengakui bahwa dirinya merupakan representatif generasi milenial yang harus melek dengan permasalahan penyalahgunaan narkoba di Indonesia yang semakin buruk. Generasi milenial, lanjut dia, memiliki power positif yang dapat mempengaruhi masyarakat untuk sadar akan bahaya narkoba. Taermasuk tahu tentang langkah konkret yang harus dilakukan demi mendukung Indonesia bebas narkoba.

”Generasi milenial saat ini punya power (positif, Red), media sosial yang bisa digunakan untuk menulis hal yang bermanfaat sesuai dengan passion kalian masing-masing,” ujarnya.

Menurut Tessa, kolaborasi power antar pemuda dan sektor lain seperti pemerintah itu sangat penting. Sebab, power yang dibangun dengan sendiri akan kalah kuat dari tenaga yang dibangun secara bersama-sama untuk mencapai perubahan.

”Jika power yang dibangun hanya sendiri, maka tidak akan kuat. Harus dilakukan bersama-sama. Untuk itu, kolaborasi sangat penting untuk dilakukan,” tambahnya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNN Provinsi Jawa Timur Ria Damayanti turut mendukung pernyataan Tessa. Ria menyampaikan bahwa generasi milenial, terutama pemuda, memiliki kemampuan critical thinking atau berpikir cepat dengan memandang dari berbagai sudut pandang yang sangat bagus. Kemampuan critical thinking itu dapat mendukung power yang mereka miliki.

”Dengan kemampuan critical thinking, generasi milenial dapat menangani tantangan dan modus dari narkoba dengan lebih mudah,” ujarnya.

Ada beberapa tantangan permasalahan narkoba di Indonesia. Di antaranya, efek jera kurang, Indonesia menjadi surga bagi sindikat, modus yang semakin bermacam-macam, para bandar membeli integritas para penyelenggara negara atau penegak hukum, perkembangan narkotika jenisnya banyak. Selain itu, terjadi kecenderungan madat pada pemuda tinggi dan merebak fenomena narkotika masuk kampung. Untuk modus operasi narkotika, meliputi adu banteng, fake import, paket, sallowed, ranjau, dan body wrapping.

Ria menyampaikan, dalam penanganan narkoba, dibutuhkan peran seluruh elemen bangsa. Peran tersebut meliputi komitmen diri, regulasi anti narkoba, konsolidasi kekuatan, bersih narkoba, deteksi dini, serta penegakan hukum.

Sementara itu, Reza Nangin, aktivis anti narkoba sekaligus pembicara ketiga, memaparkan pengalamannya mulai menjadi pecandu hingga bersih dari narkoba. Termasuk beberapa gerakan untuk membebaskan dirinya dan orang disekitarnya dari pengaruh narkoba. Gerakan yang dilakukan Reza, antara lain, bergabung pada komunitas, membangun siklus pertemanan yang positif, dan membangun grup curhat di lingkungan entertainment sebagai wadah sharing bagi para artis.

Bebicara mengenai sosial media, reza mendukung bahwa itu bisa menjadi power yang kuat bagi generasi milenial untuk mendukung Indonesia bebas narkoba. Selain itu, kasih sayang orangtua merupakan hal yang paling efektif untuk mengatasi permasalahan narkoba.

”Sekarang mengumpulkan 150 orang itu sangat sulit sekali, tapi jika kita nge-post informasi di sosial media seperti Instagram, viewersnya bisa mencapai lebih dari 150 orang,” ungkapnya.

”Berdasar penelitian, zat dari narkoba bisa didapatkan dari pelukan orangtua,” imbuhnya. (*)

 

Penulis: Ulfah Mu’amarotul Hikmah

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu