DARI KIRI: Moh. Fakhrul, Aditya, Dian, dan Fitra sedang mempresentasikan gagasan soal inovasi pertanian di Korea Selatan. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Sebanyak empat mahasiswa yang tergabung dalam komunitas Lingkar Prestasi (Lipres) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR) berkesempatan mengikuti konferensi internasional di Korea Selatan beberapa waktu yang lalu.

Empat mahasiswa tersebut adalah Fitra Riyanto, Aditya Putra Pratama, Moh. Fakhrul Ardiansyah, dan Dian Agustin. Keempat mahasiswa tersebut mewakili UNAIR dalam The 11th Conference of Indonesian Student Association in South Korea (CISAK).

Di Korea Selatan, keempat mahasiswa tersebut menyampaikan gagasan soal inovasi teknologi pertanian yang mampu diterapkan di Indonesia.

Fitra Riyanto, salah satu perwakilan delegasi menjelaskan bahwa tema yang diangkat mengenai pertanian berawal dari keresahan saat mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN). Keresahan saat KKN yang dialami oleh Dian Agustin memberikan inovasi dalam bidang pertanian.

“Pertanian yang ada di Jember masih jauh dengan adanya modernisasi dalam bidang teknologi. Teknologi seperti traktor pun masih sulit untuk ditemui bahkan digunakan,” ungkap Fitra.

Fitra juga mengungkapkan bahwa di Jember, distribusi hasil pertanian masih sulit untuk dilakukan. Kesulitan terutama masa panen yang masih jauh dari kata layak dan mampu masuk pasar menjadi tantangan para petani.

Era digitalisasi pada masa sekarang membuat apapun menjadi serba mudah. Hal inilah yang memotivasi Fitra dan kawan-kawan melakukan inovasi pertanian dalam pemanfaatan digitalisai. Aplikasi Pak Tani Digital adalah salah satu media yang digunakan untuk pengembangan pertanian.

“Kami mencoba mensosialisasikan penggunaan media digital untuk membantu para petani,” ungkapnya. “Tidak hanya mensosialisasikan, harapannya di era digitalisasi, pertanian di Indonesia tidak tergusur oleh modernitas,” tambahnya.

Fitra berharap, untuk para petani dapat memanfaatkan modernisasi teknologi. Hasil panen petani dapat dijual tidak hanya di pasar konvensional, namun juga dapat merambah hingga pasar online.

Dengan menggunakan media online, keuntungan yang diperoleh petani dapat langsung digunakan. Berbeda dengan pasar konvensional yang masih sering dijumpai menunggu keuntungan beberapa bulan sekali.

“Belajar dari Korea Selatan, semua produk petani bahkan nelayan sudah penuh dengan teknologi dari awal hingga pasca-panen. Harapannya juga sama. Untuk Indonesia, semoga pertanian mampu maju seperti di Korea Selatan,” pungkasnya.(*)

Penulis: Aditya Novrian

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone