Diskusikan Problem TB, UNAIR-PDPI Adakan Simposium Internasional INA-TIME

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
PEMUKULAN gong oleh Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, Sp.M (K), menteri Kesehatan Republik Indonesia, sebagai simbol dibukanya acara Symposium INA-Time 2019. (Foto: Istimewa)
PEMUKULAN gong oleh Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, Sp.M (K), menteri Kesehatan Republik Indonesia, sebagai simbol dibukanya acara Symposium INA-Time 2019. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Tuberculosis (TB) merupakan salah satu dari sepuluh penyebab utama kematian dan menjadi satu agen infeksius (di atas HIV/AIDS). Jutaan orang jatuh sakit disebabkan TB. Secara global, diperkirakan sekitar 10,0 juta orang (kisaran, 9,0–11,1 juta) terkena penyakit TB pada 2017, yakni 5,8 juta pria; 3,2 juta perempuan; dan 1,0 juta anak-anak.

Salah satu hal yang terus menjadi krisis kesehatan masyarakat adalah TB yang resistan. Selain itu, sekitar 1,7 miliar orang, 23 persen dari populasi dunia, diperkirakan memiliki infeksi TB laten dan karenanya berisiko terkena penyakit TB aktif selama masa hidup mereka.

Dengan permasalahan tersebut, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) bekerja sama dengan Pulmonary and Respiratory Medicine Rumah Sakit Dr. Soetomo; Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga; serta Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyelenggarakan Symposium Indonesian Tuberculosis International Meeting (INA-TIME) 2019 di Isyana & Rajasa Ballroom, Bumi Surabaya City Resort, Sabtu (6/4/19).

Acara INA-TIME mengangkat judul ”A Joined Force to Bring Down”. Berbentuk symposium yang bertajuk ”Recent Developments in the Diagnosis and Management of Tuberculosis”, acara itu menghadirkan delapan speakers yang memaparkan tentang permasalahan TB di Indonesia. Termasuk strategi pengobatan dan pencegahan untuk masyarakat. Acara tersebut juga dihadiri dan dibuka Menteri Kesehatan Republik Indonesia Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, Sp.M (K).

Tutik Kusmiati, dr., Sp.P (K), ketua pelaksana INA-TIME 2019, dalam sambutannya menyampaikan bahwa berdasar laporan WHO, Indonesia merupakan negara dengan TB terbesar ketiga setelah India dan China. INA-TIME 2019 diharapkan dapat menekan dan mengakhiri angka tuberkulosis di Indonesia.

”Saya harap pertemuan ilmiah ini dapat mengakhiri angka tuberkulosis di Indonesia melalui peneliti, sumber daya, kebijakan, dan stakeholder terkait di sektor nasional serta internasional dalam jangka pendek maupun panjang,” ungkapnya.

Mewakili rektor UNAIR, Prof. Mochammad Amin Alamsjah, Ir., M.Si., Ph.D., selaku wakil rektor III UNAIR menyampaikan bahwa TB merupakan masalah besar di dunia. Banyak negara, organisasi, dan lembaga yang meneliti tentang TB. Salah satunya adalah UNAIR. Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan solusi yang dapat di implementasikan kepada masyarakat.

”Universitas Airlangga ikut berpartisipasi dalam melakukan implementasi penelitian dan kajian mengenai tuberkulosis dalam acara INA-TIME ini,” ujarnya.

Acara INA-TIME secara resmi dibuka oleh Menkes RI Prof. Nila. Sebelumnya ia menjelaskan bahwa Indonesia menyumbangkan 40 persen angka TB di dunia. Untuk menekan angka tersebut, seluruh elemen masyarakat harus berpikir holistik dan komprehensif. Bukan hanya kuratif, namun juga dimulai dari upaya promotif dan preventif.

”Ayo kita hidup sehat. Karena, sehat dimulai dari diri kita sendiri,” tegas Prof. Nila  pada akhir sambutannya. (*)

Penulis: Ulfah Mu’amarotul Hikmah

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

This post is also available in: English

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Close Menu