Stanley Elias jadi wisudawan terbaik S2 FIB periode Maret 2019. (Ilustrasi: Feri Fenoria Rifai)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Melanjutkan studi S2 dengan keterbatasan pemahaman bahasa Indonesia bukanlah halangan bagi Stanley Elias. Wisudawan kelahiran Tanzania tersebut, tetap bertekad dan bertahan untuk berkuliah di Universitas Airlangga hingga berhasil dinobatkan sebagai wisudawan terbaik S2 FIB periode Maret 2019.

Menjadi mahasiswa asing bukanlah hal mudah bagi Stanley, menurutnya perbedaan bahasa dan lingkungan membuatnya harus beradaptasi lebih keras. Baik dalam kehidupan di kampus maupun saat menjalani kehidupan dengan masyarakat sekitar di luar kampus.

“Semester pertama bukanlah hal menarik bagi saya, karena saya tidak terlalu paham bahasa Indonesia dan saya takut berkuliah dengan dosen. Tapi, semester dua saya tingkatkan kemampuan bahasa saya dengan bantuan teman-teman dan dosen, hingga saya menikmati berkuliah S2 disini,” ungkapnya.

Berasal dari benua Afrika dan pernah merasakan momen perang, hal tersebut justru diangkat menjadi bahan tesis olehnya. Pengalamannya itu, mengantarkannya membuat tesis dengan judul, Kartografi Trauma dan Identitas Pengungsi dalam Karya Marie Therese Toyi Weep Not Refugee.

“Saya memilih judul ini, karena pengalaman saya dengan pengungsi di negara saya, saya pernah berkuliah dan tinggal bersama pengungsi, jadi saya ceritakan pengalaman trauma dan identitas krisis di thesis ini,” ujar Stanley.

Wisudawan yang merupakan anak pertama dari empat bersaudara tersebut, memiliki beberapa prestasi, antara lain Best invited Speaker in  the International Seminar on Literature, Language and Creative Industry 2018 dan Invited Speaker in STIKES conference on Interprofessional education in Kediri 2017.

Stanley pun berbagi 4 trik menjadi mahasiswa berprestasi, pertama yaitu jangan meremehkan kekuatan iman dalam akademis dan berdoalah dengan kerja keras. Kedua, tahu apa yang kita inginkan. Ketiga, jangan pernah meninggalkan kuliah tanpa alasan. Terakhir, menghindari penggunaan ekstrim media sosial, lebih baik manfaatkan waktu untuk belajar.

“Keempat hal tersebut adalah cara saya, tapi tidak bisa dijadikan patokan, karena semuanya tergantung dan kembali kepada diri masing-masing mahasiswa,” pungkas Stanley.

Penulis: Bastian Ragas

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone