Tantangan Jurnalis di Era Disrupsi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Dr. Imron Mawardi SP., M.Si., memberikan paparannya dalam sekolah jurnalistik. (Foto: Andi Pramono)

UNAIR NEWS – Akses kemudahan arus informasi seperti saat ini menimbulkan sejumlah problem. Menurut Sekretaris Pusat Informasi dan Humas (PIH) Universitas Airlangga Dr. Imron Mawardi SP., M.Si., masyarakat saat ini dihadapkan pada dua model arus pemberitaan. Selain karena tren, hal itu sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi melalui internet dan gawai.

Pertama, banyak tersebar tulisan atau pemberitaan yang sangat menarik, tapi tidak begitu penting. Kedua, berita yang sangat penting, namun tidak banyak diberitakan.

”Tidak semua berita itu berita. Dan, tidak semua berita itu perlu diberitakan,” ujar mantan redaktur Jawa Pos itu pada Kamis (7/3/2019) di Kahuripan 301, Lantai 3, Kantor Manajemen UNAIR.

Memberikan materi tentang teknik kepenulisan dalam Sekolah Jurnalistik 2019 (Batch 1), Dr Imron menekankan bahwa menjadi seorang jurnalis mesti bisa menggabungkan dua model pemberitaan itu. Seorang jurnalis harus mampu menginformasikan sesuatu yang penting, tapi dengan cara yang sangat menarik.

”Jadi, intinya jurnalis adalah mampu menuliskan sesuatu yang penting dengan tulisan yang menarik,” sebutnya.

Mengangkat kasus penelitian tentang narkoba di kalangan siswa, Dr Imron menjelaskan sudut pandang dan fokus value dalam berita. Sebuah peristiwa memiliki informasi yang sangat banyak. Bagaimana informasi itu menarik untuk diberitakan, lanjut dia, bergantung pada cara seorang jurnalis menaruh ideologi atau fungsi yang ditekankan di dalamnya.

”Fungsi pers itu, ada to inform, to education, to entertain, dan to social control,” katanya.

Selain itu, seorang jurnalis mesti mampu membedakan sudut pandang faktual dan opini dalam berita. Berita bersifat sesuai dengan fakta. Karena itu, menulis dengan sudut pandang yang bersifat subjektivitas harus diminimalkan.

”Jangan sampai menulis berita faktual, tapi terlalu banyak model menulis seperti opini. Jangan membuat opini seakan-akan itu menjadi fakta. Jangan berasumsi,” imbuhnya.

Dr Imron menjelaskan, model menulis berita yang banyak digunakan adalah teknik segitiga terbalik. Artinya, lead atau kepala berita (paragrap pembuka) menjelaskan informasi yang sangat penting dan yang ditekankan.

”Berikutnya adalah penjelasan pendukung atau paparan yang nilainya tidak begitu penting dibanding tulisan yang sebelumnya,” katanya.

”Jadi sederhananya, semakin ke bawah semakin tidak penting (penjelas, Red),” imbuhnya.

Pada Akhir, kelayakan berita untuk ditulis, ungkap Dr Imron, juga perlu mempertimbangkan news value. Terdapat sepuluh news value yang bisa menjadi pertimbangan. Yakni, nilai aktual, dramatis, spektakuler, informatif, eksklusif, ketokohan, human interest, unik, punya kedekatan (ruang dan emosi), dan angle yang lain (berbeda).

Perlu diketahui, Sekolah Jurnalistik 2019 (Batch I) digelar UNAIR melalui Pusat Informasi dan Humas. Sejumlah mahasiswa lintas fakultas hadir dalam kegiatan tersebut. Selain untuk meningkatkan minat literasi mahasiswa, kegiatan tersebut memberikan bekal mahasiswa dalam dunia kepenulisan. Termasuk ditujukan untuk merekrut penulis untuk laman pemberitaan kampus, news.unair.ac.id. (*)

 

Penulis: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu