Alumni UNAIR Ciptakan Aplikasi Speaktograph

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
FUAD beserta tim saat memaparkan speaktografh di Jawa Pos. (Foto: istimewa)

UNAIR NEWS – Siapa yang tak kenal dengan Abdullah Aufa Fuad. Salah satu alumni prodi Fisika UNAIR sekaligus alumni Magister Nano Science di University of Lyon, Prancis. Namanya kini familiar di kalangan publik. Ia dikenal berkat kesuksesannya dalam merangkai aplikasi. Lantas, aplikasi apakah yang membawa Fuad melejit di era digital ini ?

Di era digital, Fuad mampu merancang speaktograph. Secara sederhana, speaktografh diartikan sebagai aplikasi untuk menganalisis dan mengubah bentuk audio menjadi teks yang dapat dikelompokkan.

Bagi Fuad, aplikasi ini dirancang karena dirinya merasa tidak nyaman melihat masyarakat yang seringkali melakukan aksi debat kusir dengan saling klaim satu sama lain. Ditambah lagi melihat banyaknya pakar yang diundang di televisi untuk saling membela calonnya sendiri.

“Sejak saat itu saya tergugah untuk ikut serta berperan sebagai pemuda Indonesia,” ujarnya.

Fuad menuturkan, pembuatan aplikasi ini hanya membutuh waktu sekitar 2,5 bulan. Ia merangkai aplikasi speaktograph ini bersama temannya yaitu, Kalimah Wasis Lestari (Mahasiswa FISIP UNAIR) dan Afifudin Maari (Mahasiswa University of Lyon).  Speaktograph ini telah digunakan untuk menganalisis debat PILPRES jilid dua, antara capres 1 Joko Widodo dan capres 2 Prabowo Subianto.

Perlu diketahui, hasil yang dapat ditampilkan berkat alat ini terdapat empat kategori. Pertama, konten yang berisikan total kata yang diucapkan, kata unik, dan frekuensi jeda maupun pengambilan nafas.

Kedua, frekuensi kata yang berisikan banyaknya pengulangan kata. Ketiga, pola kalimat yang diucapkan untuk memetakan pola kata penyusunan dari kalimat yang diucapkan. Keempat, karakter yang memiliki nilai kepercayaan diri, kearifan lokal, optimis, dan frekuensi dalam penyebutan data ataupun angka.

Fuad mengungkapkan, speaktograph ini memiliki perbedaan dengan Google Voice yakni, kata yang keluar dari si pembicara dapat dihitung berapa banyak kata-kata yang keluar seperti “saya, jalan, dll” yang diutarakan dalam satu sesi debat. Sehingga, dari itulah kita dapat mengetahui apa yang lebih ditekankan si pembicara melalui perkataannya.

“Hasilnya dapat di-ranking melalui bentuk grafris lingkaran agar data lebih menarik dan mudah dipahami. Ketika ukurannya semakin besar, berarti intesitas kata didalam lingkaran itu sering diucapkan,” tandasnya.

“Hampir semua kosa kata dalam KBBI telah dicantumkan, bahasa inggris yang familiar pun sudah diinput. Meskipun begitu, masih ada bahasa yang tidak terdeteksi yaitu, bahasa gaul “selow”,” tegasnya.

Tak hanya itu, aplikasi ini juga dapat menerjemahkan beberapa singkatan yang dapat dikenal luas. Misalnya penulisan KPU, tulisan yang muncul bukan lagi kata Ka-Pe-U. Lanjut Fuad, Kami pastikan tingkat keakuratannya bisa mencapai 96 persen.

Untuk kedepannya, mereka akan terus membangun program tersebut agar dapat merekam jejak postingan netizen di media sosial. Hal itu berkenaan dengan isu dan produk yang berkembang, kemudian diperkenalkan ke publik agar tak dianggap ketinggalan zaman.

Penulis : Rolista Dwi Oktavia

Editor : Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu