MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara dalam Expert Sharing sebagai rangkaian acara peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2019 di Surabaya di Aula Garuda Mukti, Kampus C Universitas Airlangga, pada Jum’at siang (8/2/2019). (Foto: Feri Fenoria Rifa’i)
MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara dalam Expert Sharing sebagai rangkaian acara peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2019 di Surabaya di Aula Garuda Mukti, Kampus C Universitas Airlangga, pada Jum’at siang (8/2/2019). (Foto: Feri Fenoria Rifa’i)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Menjadi pembicara kunci dalam diskusi publik bertajuk Expert Sharing, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengajak anak muda optimistis menatap kemajuan teknologi yang kian pesat saperti saat ini. Rudiantara hadir dalam kegiatan tersebut sebagai rangkaian acara peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2019 di Surabaya. Tepatnya digelar di Aula Garuda Mukti, Kampus C Universitas Airlangga, pada Jum’at siang (8/2/2019).

Menkominfo Rudiantara menyampaikan bahwa fakta perkembangan teknologi yang semakin cepat dan maju tidak untuk dipandang sebagai sesuatu yang mengancam. Namun, hal tersebut mesti dipandang sebagai salah satu peluang untuk dioptimalkan.

”Kita (masyarakat Indonesia, Red) tidak boleh pesimis menghadapi kemajuan teknologi. Justu melihat itu adalah sebuah peluang,” ujarnya.

”Lihat yang dilakukan unicorn Indonesia Bukalapak dan Gojek,” imbuhnya.

Pesimistis yang muncul di masyarakat tidak berlebihan. Mengingat, sejumlah survei dan prediksi beberapa lembaga memperkirakan adanya fenomena lahan pekerjaan yang hilang. Namun, sebut Rudiantara, juga tidak sedikit sejumlah pekerjaan baru yang bermunculan.

”Justru dengan kemajuan itu, kita semua dituntut mengeklporasi kemampuan kita untuk melakukan lompatan-lompatan yang jauh ke depan. Salah satunya dengan model perekonomian berbagi atau kolaborasi,” katanya.

”Kita melihat perusahaan Gojek dan Bukalapak. Sepeda motornya punya siapa? Dapur atau warungnya milik siapa? Mereka menyiapkan platform untuk mewadahi usaha-usaha kecil. Inilah yang pada akhirnya mengerakkan perekonomian sampai ke tingkat bawah, UKM (Usaha Kecil Menengah, Red),” tambahnya.

Meski demikian, ungkap Rudiantara, sejumlah problem terkait dengan teknologi masih dihadapi Indonesia. Di antaranya, perihal infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM).

Rudiantara mengakui bahwa sejumlah daerah masih mengalami kendala terkait dengan koneksi internet. Namun, pemerintah melalui Kemenkominfo terus berupaya menyediakan layanan internet berkecepatan tinggi untuk seluruh wilayah Indonesia.

”Kalau di Surabaya, walikota sudah berpikir maju. Koneksinya cepat. Namun sejumlah daerah memang masih mengalami kendala,” katanya.

Saat ini wilayah Barat Indonesia sudah seratus persen terkoneksi meski tidak dengan kecepatan tinggi. Termasuk untuk wilayah tengah Indonesia. Namun untuk wilayah timur, persentasenya masih pada angka 90,41 persen.

”Ini target integrasinya akan dilakukan pada tahun 2019. Merdeka dalam internet berkecepatan tinggi,” sebutnya.

Sejumlah kantor publik juga belum seluruhnya terkoneksi internet. Mulai puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat), pondok pesantren, lembaga pendidikan, kantor desa, kantor polisi sektor (polsek), dan Koramil. Itulah yang akan dipenuhi pemerintah ke depan.

Namun, di sisi lain, terkoneksinya internet juga mesti didukung dengan integritas sumber daya manusia. UNAIR, sebut Rudiantara, perlu mengajak mahasiswa melakukan survei bagaimana ASN (Aparat Sipil Negara) berinternet.

”Ada pula yang membuka internet bukan sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat. Adanya akses internet mesti juga diimbangi dengan semangat mengabdi dan mengubah cara pandang. Jangan-jangan membuka game,” katanya.

Selain itu, untuk menyiapkan SDM itu, Kemenkominfo juga meluncurkan program 20 ribu talent. Yakni, sebuah program pendidikan bidang IT untuk lulusan SMK, Diploma, dan S1 IT, tepatnya yang berumur di bawah 29 tahun.

”Kita butuh skill yang punya keterampilan. Dan, kita mendorong mereka untuk membuat start-up,” sebutnya.

”Jadi, jangan berpikir hanya pada pekerjaan yang repetitif (pengulangan, Red). Ada banyak peluang yang bisa dimanfaatkan. Semoga Indonesia kian menjadi negara maju,” imbuhnya. (*)

 

Penulis: Feri Fenoria Rifa’i

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone