Benahi Kurikulum Jadi Cara Perguruan Tinggi Hadapi Revolusi Industri 4.0

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Badri Munir Sukoco SE., MBA., Ph.D., selaku guru besar FEB Universitas Airlangga saat memberikan paparan dalam diskusi bertajuk Gathering Perguruan Tinggi se-Jawa Timur di Lounge Jawa Pos, Lantai 4, Graha Pena, pada Rabu (19/12). (Foto: Agus Irwanto)
Prof. Badri Munir Sukoco SE., MBA., Ph.D., selaku guru besar FEB Universitas Airlangga saat memberikan paparan dalam diskusi bertajuk Gathering Perguruan Tinggi se-Jawa Timur di Lounge Jawa Pos, Lantai 4, Graha Pena, pada Rabu (19/12). (Foto: Agus Irwanto)

UNAIR NEWS – Peguruan tinggi diharapkan dapat melahirkan tenaga kerja kompeten yang siap menghadapi industri kerja yang kian berkembang seiring dengan kemajuan teknologi, keahlian kerja, kemampuan beradaptasi, dan pola pikir yang semakin dinamis. Itulah yang benar-benar harus mampu dilakukan perguruan tinggi dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0. Salah satu caranya adalah melalui pembenahan kurikulum.

Diskusi bertajuk Gathering Perguruan Tinggi se-Jawa Timur digelar dalam membahas berbagai isu tantangan perguruan tinggi untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0 itu. Tepatnya pada Rabu (19/12) di Lounge Jawa Pos, Lantai 4, Graha Pena.

Hadir dalam diskusi yang diikuti pegawai humas sejumlah perguruan tinggi tersebut Dr. Ir. Patdono Suwignjo, M. Eng., Sc., selaku dirjen (direktur jenderal) Kelembagaan (IPTEK-DIKTI) Kemenristekdikti; Prof. Badri Munir Sukoco SE., MBA., Ph.D., selaku guru besar FEB Universitas Airlangga; Prof. Dr. Ir. Djwantoro Harjito, M. Eng, selaku rektor Universitas Kristen PETRA; dan Akhyari Hananto selaku founder GNFI & se-Asia. Dengan dimoderatori Ketua Pusat Informasi dan Humas (PIH) UNAIR Dr. Suko Widodo, M. Si., diskusi tersebut mengangkat tema ”Menyiapkan Perguruan Tinggi untuk Melihat Tantangan dan Peluang di Era Disruption”.

Upaya menyiapkan perguruan tinggi dalam menghadapi revolusi 4.0 terus dilakukan pemerintah. Salah satunya melalui Kementerian Perindustrian dengan merancang Making Indonesia 4.0 yang terintegrasi. Khsususnya guna mencapai sejumlah strategi dengan langkah kolaboratif antar beberapa pemangku kepentingan. Mulai institusi pemerintah, akademisi, pelaku indutri, hingga asosiasi.

”Adanya Revolusi 4.0 menyebabkan terjadinya 75.000 sampai 325.000 jabatan yang dihilangkan dan digantikan dengan jabatan yang baru,” sebut Dr. Ir. Patdono dalam paparannya.

”Perlu disadari, perubahan ini (dampak Revolusi Industri 4.0, Red) harus kita sikapi bersama dengan melakukan pembenahan diri antar perguruan tinggi untuk mencapai kualitas mutu kompetensi mahasiswa,” imbuhnya.

Bukan hanya itu, Dr. Ir. Patdono menyebut fungsi ijazah sekolah saat ini sedikit mengalami pergeseran, bukan berarti tidak penting. Justru yang sangat menentukan dan dibutuhkan adalah kompetensi.

”Dibutuhkan kompetensi baru, yaitu digital kompetensi, big data kompetensi, dan human literation,” tuturnya.

Selain itu, kompetensi tersebut bukan hanya terkait dengan lulusan atau mahasiswa, melainkan juga para pengajar yang mesti sesuai dan mumpuni. Lembaga sertifikasi profesi menjadi bagian tuntutan bagi perguruan tinggi untuk memenuhi standar kualitas pendidikan menuju Revolusi Industri 4.0.

”Jika perguruan tinggi tidak membekali mahasiswanya, maka lulusannya pun akan sulit untuk mendapatkan pekerjaan,” ungkapnya.

”Jadi, reputasi perguruan tinggi tersebut bakal berpengaruh atas ketidakmampuan itu. Dan dampaknya, tidak akan ada siswa yang ingin kuliah di perguruan tinggi tersebut,” tambah Dr. Ir. Patdono.

Melanjutkan paparan itu, Prof Badri menyebut perguruan tinggi mesti mengarahkan kurikulum pada peningkatan kemampuan kreativitas mahasiswa. Artinya, kemampuan untuk menghadapi atau merespons tren-tren perubahan sosial kemasyarakat yang terjadi dengan penemuan kreativitas baru alias aktif memunculkan solusi baru.

”Mahasiswa didorong untuk menumbuhkan kreativitas,” ujarnya.

Di sisi lain, Dr. Suko Widodo mengakui bahwa era Revolusi Industri 4.0 menjadi gejala sosial yang harus dihadapi. Sangat diperlukan ketermampuan perguruan tinggi dalam meningkatkan kompetensi mahasiswa. Khususnya dengan senantiasa menyeimbangkan antara praktik dan teori yang diberikan di bangku kuliah.

”Jika perguruan tinggi tidak bisa mengikuti perkembangan era revolusi 4.0, maka kita akan ketinggalan,” ujarnya.

Sejumlah kebijakan telah dipersiapkan oleh Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dalam mengantisipasi dan menghadapi dampak serta perubahan yang akan terjadi. Salah satuya adalah dengan membenahi kurikulum perguruan tinggi yang ada dan tidak menyamaratakan.

Artinya, terjadi diferensiasi prioritas fokus keilmuan yang disesuaikan dengan ketermampuan setiap perguruan tinggi. Termasuk menyiapkan kompetensi baru yang harus didorong oleh para pengajar di setiap universitas yang ada. (*)

 

Penulis: Khefti Al Mawalia/ Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).