Tim debat FH UNAIR juara 1 dalam kompetisi debat nasional bertajuk Ubaya Law Fair 2018. (Dok. Pribadi)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga yang tergabung dalam Badan Semi Otonom (BSO) Masyarakat Yuris Muda Airlangga (MYMA) kembali menorehkan prestasi di kancah nasional. MYMA sebagai BSO yang fokus pada bidang debat ini sering mengirimkan anggotanya dalam berbagai kompetisi debat, baik tingkat regional maupun nasional. Sehingga, tak jarang MYMA sering mendapat hasil yang memuaskan.

Prestasi paling baru diraih oleh enam mahasiswa yang mengikuti kompetisi di Universitas Surabaya. Kompetisi debat nasional itu bertajuk Ubaya Law Fair 2018 dengan tema “Konstelasi Hukum Dalam Mewujudkan Indonesia Berlandaskan Pancasila”. Keenam mahasiswa itu meraih posisi pertama dalam acara yang dilaksanakan pada 9-11 November 2018.

Tak hanya itu, dalam Ubaya Law Fair 2018, tim UNAIR yaitu Krisna Murti berhasil mendapatkan penghargaan sebagai best speaker.

Keenam mahasiswa itu adalah Ave Maria (2016), Safira Noor (2016), Krisna Murti (2016), Windy Agustin (2016), Abiyyu Hilmi (2017), dan Agung Jaya (2017).

Selama satu bulan lebih, berbagai persiapan mereka lakukan. Mulai dari mempelajari mosi, menyusun argumen pro dan kontra, dan menjalani latihan rutin disela-sela jadwal kuliah.

Kemenangan yang diraih oleh tim UNAIR merupakan prestasi yang sangat membanggakan. Pasalnya, sejak babak penyisihan, mereka telah berada di dalam chamber yang terdiri dari tim-tim berpengalaman. Dengan kerja keras dan semangat tim, akhirnya delegasi UNAIR berlanjut ke babak semifinal.

Pada babak semifinal tim UNAIR kembali menghadapi saingan berat, yaitu tim debat dari Universitas Padjadjaran Bandung dengan mosi “Penghidupan Kembali Pasal Penghinaan Presiden”. Dalam babak perdebatan yang sengit itu UNAIR berhasil mengalahkan tim dari Universitas Padjadjaran Bandung dengan victory point yang sangat meyakinkan yaitu 4 vs 1.

Sementara dalam babak final, tim UNAIR harus menghadapi tim debat dari Universitas Kristen Maranatha Bandung dengan mosi “Perampasan Aset Tanpa Pidana dalam Tindak Pidana Korpsi (non convicted based)”. Dalam babak final itu, tim UNAIR tampil sangat meyakinkan sehingga menghantarkan memenangkan babak final.

Pada hari yang sama ketika Ubaya Law Fair diadakan, juga diadakan UIN Law Fair di Jakarta, di mana tim debat UNAIR juga menorehkan prestasi yang sama. Yaitu, juara 1 dan best speaker. Hal ini membuat BSO MYMA memenangkan penghargaan dua kali berturut-turut dalam waktu yang sama.

Safira selaku pembicara kedua dalam kompetisi tersebut merasa bangga akan prestasi yang diraih oleh tim UNAIR dam Ubaya Law Fair 2018.

Alhamdulillah kami sangat senang dan sedikit tidak percaya. Tetapi berkat kerja keras kami dan ridho Tuhan kami akhirnya mampu memperoleh juara 1,” ujar Safira.

Safira melanjutkan, ia dan tim mengikuti lomba bukan berorientasi menang. “Kami hanya melakukan yang terbaik setiap lomba dan akhirnya sampai tahap ini. Jujur di antara kami juga pernah mengikuti berbagai lomba dan pernah juga kalah. Tetapi kami tetap semangat mengikuti lomba,” tambahnya.

Safira berharap, kemenangan timnya dapat menginspirasi mahasiswa FH lainnya agar FH UNAIR semakin berjaya di kancah nasional maupun internasional. (*)

Penulis : Xavier Nugraha

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone