Proses pembuatan Dermaga Baca oleh panitia Ksatria Maritim Project (KMP) di SDN 04 Sidogentung Batu Pulau Gili Noko Kabupaten Gresik. (Foto: Pandu Wibisono)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) yang tergabung dalam kegiatan Ksatria Maritim Project (KMP) mendirikan dermaga baca di SDN 4 Sidogedung Batu Pulau Gili Noko Kabupaten Gresik pada Senin-Kamis, (12-15/11). Kegiatan ini adalah bentuk upaya mahasiswa UNAIR untuk memajukan pendidikan di luar Jawa lewat rumah baca.

Mohamad Da’i Efendi selaku koordinator acara mengatakan, dermaga baca ini didirikan sebagai tempat istirahat atau bermain yang berwawasan edukasi bagi anak-anak di pulau Gili Noko.

Hal yang dipersiapkan antara lain; grand design (rancangan desain) yang sesuai kondisi geografis,  sarana edukasi seperti buku, poster, peta, dan papan tulis. Kemudian, perizinan ke kepala desa, kepala dusun, dan kepala sekolah. Lalu yang terakhir adalah belanja material bangunan seperti kayu, asbes, cat, kuas, dan tiner.

TAMPAK DEPAN: Dermaga baca di SDN 04 Sidogentung Batu Pulau Gili Noko Kabupaten Gresik, yang dibangun oleh mahasiswa UNAIR. (Foto: Pandu Wibisono)

“Kesulitan dalam membangun rumah baca di pulau terluar seperti Gili itu belanjanya di luar pulau (Bawean, Red), dengan harga yang mahal dan transportasi yang tidak menentu. Kemudian kendaraan dan keterbatasan tenaga dari segi pengalaman panitia, serta ditambah peralatan yang mengharuskan meminjam peralatan warga sekitar,” terang mahasiswa Fakultas Hukum UNAIR tersebut.

Dengan didirikannya rumah baca di SDN 04 Sidogentung Batu, Da’i berharap anak-anak Gili punya mimpi untuk terus berpendidikan, dan bisa bermain dengan cara yang edukatif di dermaga baca.

Panitia dan siswa SDN Sidogentung Batu 04 belajar bersama di dermaga baca yang dibuat oleh mahasiswa Ksatria Maritim Project (Foto: Fariz Ilham Rosyidi)

Timu selaku pimpinan sekolah merespon positif kegiatan yang dilakukan di SDN 4 Sidogedung Batu 4 Pulau Gili. Menurutnya, kegiatan ini menjadi bekal panitia untuk berkarya dan menambah pengalaman selama belajar mengabdi di Pulau Gili.

“Mumpung masih muda, banyak-banyak cari kesibukan dan pengalaman. Kalian (panitia, Red) kalau sudah menikah akan sulit untuk mengadakan pengabdian seratus persen seperti ini. Makanya jadikan pengabdian sebagai ladang kalian belajar,” pesannya. (*)

Reporter : Fariz Ilham Rosyidi

Editor : Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone