Fotografer Antara Bagi Ilmu Foto Jurnalistik di Student Journalism

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ZABUR Karuru kiri mengaMbil gambar salah seorang peserta Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa. Zabur mencontohkan pfoto yang baik dan bagus kepada masyarakat. (Foto: Andri Hariyanto)
ZABUR Karuru kiri mengaMbil gambar salah seorang peserta Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa. Zabur mencontohkan pfoto yang baik dan bagus kepada masyarakat. (Foto: Andri Hariyanto)

UNAIR NEWS  Hari kedua Student Journalism Pusat Informasi dan Humas Universitas Airlangga Surabaya di Swiss-Belinn Jalan Manyar Kertoarjo Surabaya, Minggu (25/11), diisi dengan kelas foto jurnalistik. Selama 2,5 jam, Zabur Karuru fotografer Antara memaparkan secara detail teori dasar foto jurnalistik.

Dalam kesempatan itu, Zabur menjelaskan teori yang perlu diketahui seorang fotografer. Seperti rule of third, teori segitiga, bayangan, permainan garis, maupun strategi momen puncak. Fotografi banyak menghadirkan teori yang harus dipahami supaya foto yang dihasilkan bisa mendukung sebuah informasi.

“Apa jadinya kalau majalah tanpa foto. Foto itu penting untuk menguatkan sebuah informasi media,” ujar Zabur.

Mengingat pentingnya sebuah foto, lanjut Zabur, seorang fotografer juga perlu memahami kode etik dalam fotografi. Misalnya, batasan privasi seseorang yang menjadi subjek foto.

Dalam konteks privasi, orang yang sedang makan pun tidak etis difoto. Kecuali untuk dokumentasi permintaan tertentu. Ketika privasi dilanggar, hal terburuk yang terjadi adalah penolakan dari subjek yang difoto.

Kondisi ini berpotensi menggagalkan harapan fotografer untuk mendapatkan foto yang diinginkan. Di sini, fotografer perlu membangun interaksi dengan orang di sekelilingnya sehingga kehadiran seorang fotografer bukan menjadi pihak yang menakutkan.

Sementara itu, dalam eksekusi peristiwa di lapangan, fotografer membutuhkan waktu untuk observasi. Pengamatan di lapangan sebelum eksekusi akan memudahkan fotografer fokus mengambil momen yang dibidik. Bilamana observasi tidak dilakukan, kesalahan yang biasa terjadi adalah hasil foto yang tidak memuaskan.

”Sudah banyak jepret sana-sini, tapi begitu sampai kantor, fotonya tidak memuaskan. Akhirnya terkesan jadi sampah,” tutur Zabur.

Dan yang tidak kalah penting, menunggu menjadi pilihan terbaik. Momen terbaik dari sebuah peristiwa tidak bisa terulang sehingga fotografer sukses mengabadikan momen puncak peristiwa.

Pria asal Makassar itu juga menambahkan, foto membutuhkan penjelasan atau caption. Penulisan caption harus menjelaskan tentang apa yang terjadi di foto itu dan pesan yang ingin disampaikan. Penulisan caption tidak dilakukan asal-asalan.

Sebab, caption berfungsi mengantarkan arti yang tersampaikan dalam sebuah foto. Sebagai rule, keterangan jenis binatang, misalnya, fotografer wajib untuk menuliskan nama latin, seperti yang berlaku di Antara.

Seiring berkembangnya teknologi, seorang fotografer membutuhkan gear yang mumpuni. Kamera DSLR dengan berat yang terbilang lumayan, kini sudah tergantikan dengan mirrorless yang jauh lebih ringan dan mumpuni. Prinsip aktual dan fakta dari sebuah foto, sudah menjadi harga mati. Dengan menjadi seorang fotografer, banyak peluang untuk bisa melihat dunia lebih luas.

Join with us. and you will see the world,” tegasnya. (*)

 

Penulis: Andri Hariyanto

 

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu