DARI kiri, Waka (Wakil Komandan) Densus (Detasemen Khusus) Polri (Kepolisian Republik Indonesia) Brigjen Pol Martinus Hukom, S.IK., M.Si., dan moderator Agastya Wardhana dalam Seminar Internasional bertajuk Airlangga Asean+3 Youth Conference and Cultural Programme (AAYCCP) 2018 pada Rabu (21/11) di Airlangga Convention Center (ACC). (Foto: Feri Fenoria)

Lawan Paham Radikal, Mahasiswa Dituntut Perbanyak Menulis

UNAIR NEWS – Bahasan mengenai terorisme beberapa dekade terakhir menjadi fokus perhatian di berbagai negara. Bukan hanya negara dengan penduduk muslim, tapi juga yang non-muslim.

Terjadinya hal itu bisa dimaknai sebagai buntut atas rentetan serangan terorisme di beberapa negara di dunia yang sempat terjadi dalam tempo waktu yang hampir bersamaan. Selain itu, fokus bahasan terkait dengan teroris menjadi penting karena gejolak pendirian negara Islam Irak dan Syiria (ISIS) di kawasan Timur Tengah.

Akibat laju pekembangan teknologi yang dewasa ini kian maju, gejolak tersebut memberikan perangsang bagi kelompok lain di luar Timur Tengah turut menggelar aksi. Tepatnya, karena melihat propaganda dari kelompok tersebut. Sebagai contoh, dalam lingkup terdekat di kawasan ASEAN, gejolak ISIS sempat membuat takut masyarakat. Tepatnya munculnya gerakan teroris yang menyatakan berafiliasi dengan ISIS di kawasan Filipina Selatan.

Di Indonesia sendiri, pada waktu yang terdekat, Surabaya sempat diberondong serentetan kasus bom bunuh diri, bulan Mei 2018. Yang menjadi perhatian, satu keluarga dilibatkan dalam kasus bunuh diri yang menyerang tiga gereja itu. Mirisnya, terdapat kalangan anak-anak dalam kasus bom bunuh diri tersebut.

Waka (Wakil Komandan) Densus (Detasemen Khusus) Polri (Kepolisian Republik Indonesia) Brigjen Pol Martinus Hukom, S.IK., M.Si., dalam Seminar Internasional bertajuk Airlangga Asean+3 Youth Conference and Cultural Programme (AAYCCP) 2018 pada Rabu (21/11) menyampaikan bahwa kemunculan paham teroris melewati tiga fase atau tiga prinsip. Pertama, intoleransi; kedua, radikal; dan ketiga, terorisme.

”Pada sejumlah kasus, anggapan tentang yang lain yang berbeda lebih buruk atau tidak baik menjadi bibit yang kemudian berkemungkinan menjadi gerakan yang lebih berbahaya berupa terorisme,” ujarnya di hadapan peserta dari berbagai negara, mulai kawasan ASEAN hingga Timur Tengah.

Intoleran, lanjut Martinus, menjadi salah satu embrio berkembangnya kebencian yang mengarah pada tindakan-tindakan kekerasan. Misalnya, anggapan kepada orang atau kelompok di luar barisannya lebih buruk. Intoleransi bermakna kurangnya sikap tenggang rasa.

Hal itu, ungkap Martinus, bakal berkembang pada paham radikal, salah satu contohnya Islam radikal. Mengutip pernyataan Said Aqil, Islam radikal dimaknai sebagai orang Islam yang mempunyai pikiran yang kaku dan sempit dalam memahami Islam. Pada akhirnya, prinsip tersebut berkembang menjadi gerakan terorisme.

Perkembangan Teknologi

Martinus menekankan pada ancaman yang ditimbulkan kemajuan teknologi atas persebaran paham radikal. Menjadi rahasia umum bahwa media sosial memliki andil yang cukup besar dalam persebaran paham-paham itu. Hal tersebut banyak dibuktikan pada kasus-kasus yang telah dihadapi Polri.

”Teknologi ini menjadi hal yang penting. Tidak sedikit pelaku tampak begitu baik di mata masyarakat dan orangtua. Tapi, yang bersangkutan justru mampu membuat bom sendiri. Ini benar ada. Seperti kasus di Jawa Barat,” sebutnya.

Dalam kasus itu, terang Martinus, yang bersangkutan memang rutin berselancar di internet. Paham-paham radikal yang diterima berasal dari membaca ulasan maupun mengikuti grup-grup online kelompok-kelompok radikal.

Padahal, dalam tampilan di rumah, yang bersangkutan tidak tampak mencurigakan. Dan tampak begitu pendiam di kamar berinteraksi di internet. Namun ternyata, yang bersangkutan mampu membuat bom dan ditaruh di bawah tempat tidur.

”Bahkan, orangtuanya kaget dengan temuan itu. Inilah yang menjadi perhatian kita bersama-sama untuk berhati-hati dengan akses kemudahan mendapat informasi di internet,” kata Martinus di Airlangga Convention Center (ACC) Kampus C UNAIR.

Menulis dan Menebar Virus Kebaikan

Martinus menjelaskan, persebaran paham radikal juga datang dari non-online. Misalnya dari persebaran buku-buku dan buletin. Fakta yang dihadapi masyarakat saat ini adalah sangat banyak bacaan yang mengandung paham radikal beredar luas.

Secara materi, harganya juga sangat murah dan mudah didapatkan jika dibandingkan dengan bacaan atau tulisan yang mengulas paham Islam moderat. Itulah yang menurut Martinus menjadi evaluasi semua orang.

Kepada mahasiswa, Martinus berharap, adanya keaktifan untuk menulis narasi-narasi yang positif sebagai upaya melawan berkembanganya paham radikal di Indonesia. Narasi-narasi positif itu bisa berupa tulisan-tulisan pendek di media sosial, juga di beberapa tulisan cetak dengan mengangkat tema persatuan, kesatuan, dan keberagaman Indonesia.

”Jadi, bersemangatlah menulis untuk ikut mengamankan negeri yang kita cintai ini dari teroris,” katanya.

SEJUMLAH personel tim Gegana Polda Jawa Timur seusai menggelar simulasi penanganan teror di depan mahasiswa luar negeri UNAIR di Halaman Airlangga Convention Center (ACC) Kampus C UNAIR. (Foto: Feri Fenoria)
SEJUMLAH personel tim Gegana Polda Jawa Timur seusai menggelar simulasi penanganan teror di depan mahasiswa luar negeri UNAIR di Halaman Airlangga Convention Center (ACC) Kampus C UNAIR. (Foto: Feri Fenoria)

Perlu diketahui, hadir dalam seminar nasional itu jajaran pimpinan UNAIR dan Kepolisisan Daerah (Kapolda) Jawa Timur. Di antaranya, Wakil Rektor IV UNAIR Junaidi Khotib S.Si, Apt., M.Kes., Ph.D., mewakili rector dan Wakapolda Jatim Brigjen Pol Toni Harmanto beserta jajaran.

Dalam seminar tersebut, turut delaksanakan simulasi dalam tim Gegana Polda Jawa Timur menangani kasus terorisme. Beserta kendaraan taktis yang lengkap, sejumlah personel tim Gegana Polda Jawa Timur menunjukkan prosedur penanganan bom pada benda-benda yang mencurigakan.

SALAH seorang anggota tim Gegana memeriksa benda mencurigakan dalam simulasi penanganan teror di depan mahasiswa luar negeri UNAIR di Halaman Airlangga Convention Center (ACC) Kampus C UNAIR. (Foto: Feri Fenoria)
SALAH seorang anggota tim Gegana memeriksa benda mencurigakan dalam simulasi penanganan teror di depan mahasiswa luar negeri UNAIR di Halaman Airlangga Convention Center (ACC) Kampus C UNAIR. (Foto: Feri Fenoria)

Tampak peserta yang berasal dari luar Indonesia begitu menikmati dan sangat antusias. Bahkan seusai simulasi tersebut digelar, sejumlah peserta tampak bersemangat dan ini berfoto bersama dengan sejumlah personel beserta rantisnya. (*)

 

 

Penulis: Feri Fenoria