SESI tanya jawab oleh salah seorang peserta seminar. (Foto: Ruli Maulana)
SESI tanya jawab oleh salah seorang peserta seminar. (Foto: Ruli Maulana)
ShareShare on Facebook4Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

 UNAIR NEWSDisruptive innovation (disruption) merupakan fenomena pergeseran era analog ke era digital. Di mana inovasi-inovasi digital diciptakan untuk mempermudah manusia memenuhi kebutuhannya. Dalam era disruption, kita harus senantiasa memosisikan diri  supaya mampu mengikuti perkembangan yang ada tanpa terjerumus dampak negatif era digital.

Pemahaman makna disruption sendiri harus matang, jangan sekali-kali dianggap remeh. Sebab, efek yang ditumbulkan bisa fatal. Contoh nyatanya bisa kita amati dari sedan biru (Bluebird).

Sebelumnya menguasai pangsa pasar transportasi di Indonesia. Sekitar 21.000 armada tersebar luas hampir di seluruh kota besar Indonesia. Namun dalam sekejap, hadirnya Gojek memporak-porandakan Bulebird yang sudah berdiri 46 tahun lalu. Sedan biru telah di-disruptive oleh si hijau yang hanya beroperasi melalui internet.

Era disruption tentu berdampak pada segala bidang, tak terkecuali bidang keperawatan. Dalam menghadapi tantangan itu, Magister Keperawatan UNAIR angkatan 11 menyelenggarakan Seminar Nasional Keperawatan yang bertema ”Peningkatan Kompetensi Perawat dalam Menghadapi Era Disruption” pada Sabtu (17/11) di Aula Kahuripan, Lantai 3, Gedung Manajemen UNAIR.

Seminar turut mengundang beberapa pembicara ahli seperti Wakil Rektor I UNAIR Prof. dr. Djoko Santoso, Ph.D., K-GH., FINASIM,. Dalam kesempatan tersebut, dia memaparkan materi terkait peran keperawatan dalam era disruption.

Menurut Prod. Djoko, disruption dalam pelayanan kesehatan dapat mengubah hubungan kepemilikan. Jika sebuah profesi tidak bisa berinovasi dan mempertahankan kompetensi, bisa jadi kompetensi tersebut diambil alih oleh profesi yang lain. Asuhan keperawatan yang dulunya fisik, sekarang menekankan pada need berupa emotional relationship.

”Kita harus pandai menyesuaikan diri dalam era disruption. Gelombang disrupsi ini membutuhkan masyarakat yang ahli membaca situasi. Masyarakat dituntut untuk berpengalaman dan cakap supaya tidak tertinggal,” tegasnya.

Prof. Djoko turut menambahkan bahwa pada era disruption, perawat harus menjelma menjadi tenaga kesehatan yang berbudi luhur, update keilmuan, menanamkan spiritual, emosional, dan kognitif. Pelayanan kesehatan kepada masyarakat harus bermartabat.

”Jangan terlalu terbenam dalam perkembangan teknologi informasi,” ujarnya.

Selain Prof Djoko, seminar itu menghadirkan delapan pembicara ahli dengan cakupan bahasan yang sama. Yakni, Prof. Dr. H Nursalam, M. Nurs.,(Hons) selaku dekan Fakultas Keperawatan (FKp); Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur; Dr. Kusnanto, S. Kp., M. Kes selaku wakil dekan I FKp; Ns. Rosa Dwi Sahati (direktur keperawatan RKZ Surabaya); Hidayat Arifin, S. Kep., Ns; Khadijah, S.Kep.,Ns; Herryanoor, S.Kep.,Ns; dan Toto Indarto, S.Kep.,Ns. (*)

 

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Feri Fenoria

ShareShare on Facebook4Tweet about this on Twitter0Email this to someone