Dr. Cita Rosita Sigit Prakoeswa., dr., SpKK(K), FINSDV, FAADV., (paling kanan) bersama sejumlah peneliti di kantor Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO). (Foto: Istimewa)
Dr. Cita Rosita Sigit Prakoeswa., dr., SpKK(K), FINSDV, FAADV., (paling kanan) bersama sejumlah peneliti di kantor Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO). (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Dokter, dosen senior, sekaligus Konsultan Dermatologi Venereologi, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga atau RSUD Dr Soetomo menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang dipercaya menjadi tim Penulis ”Guidelines for The Diagnosis, Treatment, and Prevention of Leprosy” oleh organisasi kesehatan dunia (World Health Organization alias WHO). Termasuk dia dipercaya sebagai advisor untuk ”Global Partnership for Zero Leprosy”. Adalah Dr. Cita Rosita Sigit Prakoeswa., dr., SpKK(K), FINSDV, FAADV.

Dokter Cita –sapaan karibnya– dipercaya menangani proyek penelitian multi center tentang post exposure prophylaxis. Yakni, pemberian rejimen pada orang yang masih tampak sehat, tapi memiliki kontak dengan pasien kusta di daerah kantung endemis. Penelitian itu terutama ditujukan sebagai upaya pemutusan rantai transmisi penyakit tersebut.

Studi pendahuluan (pilot study) di Pasuruan, Jawa Timur, telah selesai pada awal 2018. Kini penelitian itu bakal berlanjut dengan melibatkan puluhan ribu narakontak kusta dari dua daerah, yaitu Pamekasan dan Pasuruan.

Kolaborasi Lintas Negara

Untuk proyek besar tersebut, Dokter Cita dan tim didukung sepenuhnya oleh Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan Jawa Timur. Ditambah, penyandang dana dari Netherlands Leprosy Relief. Saat ini Dokter Cita merupakan anggota tim Ahli untuk kusta di Kementerian Kesehatan.

Dokter Cita sangat percaya bahwa untuk memaksimalkan manfaat riset bagi masyarakat, kolaborasi dilakukan bukan hanya tingkat regional dan nasional, namun juga level internasional. Karena itu, The Netherland Leprosy Relief memercayai Dokter Cita untuk berkolaborasi riset dengan akademisi dari dua negara dengan angka kusta tertinggi di dunia, yaitu Brazil dan India.

Kolaborasi lintas negara ini melibatkan banyak pihak yang berhubungan langsung dengan kusta. Meliputi klinisi, ahli mikrobiologi, ahli imunologi, ahli farmakologi,  ahli molekuler epidemiologi, hingga pakar di bidang sosial. Sebab, kusta bukan hanya masalah kesehatan, tapi juga masalah sosial dengan masih adanya stigmatisasi di masyarakat yang tentu berdampak pada Quality of Life pasien dan keluarga.

”Pertemuan pertama kami tahun 2016 dan dilanjutkan tahun 2017. Keduanya di Amsterdam. Pilot Trial dilakukan tahun 2018 awal. Sekarang tinggal menunggu hasil Pilot Trial dari Brazil dan India, kemudian berlanjut pada Penelitian selama 5 tahun,” ujar Dokter Cita.

Tahun 2011–2015, penelitian tentang Kusta Stadium Subklinis yang dilakukan Dokter Cita dan tim melibatkan masyarakat di Pulau Raas, Madura, dan Nguling, Pasuruan. Didanai WHO, penelitian itu menggunakan metode Elisa dengan mendeteksi IgM anti-PGL1.

Upaya Eliminasi Kusta di Indonesia

Kini, lanjut Dokter Cita, telah ditemukan metode baru, yaitu rapid tes dengan menggunakan imunokromatografi dan kertas saring dengan mendeteksi NDO LID 1. Metode dengan media kertas yang penggunaannya lebih praktis di lapangan ini sedang dalam tahap optimalisasi.

Keberhasilan penelitian tersebut diharapkan akan membawa dampak positif yang signifikan terhadap upaya eliminasi Kusta di Indonesia. Melalui Program Kemenkes, jika berhasil, penelitian itu akan diadopsi untuk seluruh daerah endemis kusta di Indonesia.

”Jika berhasil, akan jadi program Kemenkes untuk pemberian rejimen profilaksis untuk narakontak Kusta. Sehingga mempercepat eliminasi kusta di Indonesia,” sebut dokter yang mendapatkan pendanaan dari Belanda dan Jepang saat riset tentang kusta untuk studi S3 dan penelitian post doktoralnya itu.

Aktif di Publikasi Riset dan Organisasi

Di samping melakukan penelitian tentang Kusta, Dokter Cita dipercaya menjadi ketua Divisi Alergi Imunologi, Dermatologi Venereologi, FK UNAIR / RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Dia dan tim juga bekerja sama dengan Universitas Bina Nusantara (BINUS) bagian teknologi pangan untuk penggunaan probiotik pada dermatitis atopik pada anak dan dewasa. Tahun 2017, penelitian tersebut telah dipublikasikan di jurnal internasional, Beneficial Microbes.

Saat ini, salah satu mahasiswa S3 bimbingan Cita juga akan melanjutkan riset di bidang yang sama. Mereka akan berkolaborasi dengan Universitas di Belanda, dengan riset menggunakan probiotik asli Indonesia.

Selain dipercaya sebagai Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan di RSUD Dr Soetomo, Cita aktif sebagai koordinator Penelitian di Dept / SMF Dermatologi Venereologi FK Unair / RSUD Dr. Soetomo. Salah satu unggulan Departemen Dermatologi Venereologi adalah riset tentang Stem Cell. Khususnya Metabolite Product dari Stem Cell.

”Awalnya, kami melakukan penelitian dengan subyek pasien kusta yang mengalami ulkus kronis dan sulit sembuh. Riset ini masih berjalan dan satu manuskrip telah berstatus accepted pada Journal of Dermatological Treatment,” tuturnya.

”Kemudian, penelitian tersebut berlanjut  ke penuaan dini, berawal dari kemiripan konsep  penuaan dini dengan terjadinya ulkus, yaitu kekurangan growth factor. Alhamdulillah satu riset tentang penuaan dini juga baru saja berstatus accepted di Journal of Dermatological Treatment,” tambah dokter yang juga menjabat Sekretaris Badan Perencanaan dan Pengembangan (BPP) UNAIR.

Penelitian tersebut berlanjut dengan kombinasi vitamin C, dan E. Menurut Dokter Cita, ke depan akan penelilitian tersebut menggunakan laser sebagai modalitas alternatif selain mikro needling. Dokter Cita menambahkan, seluruh penelitian yang dilakukannya tidak terlepas dari dukungan maksimal ketua Departemen Dermatologi Venereologi Dr. M. Yulianto Listiawan, dr, SpKK(K), FINSDV, FAADV.; seluruh guru besar, senior, teman sejawat, PPDS, dan mahasiswa; serta Lembaga Penyakit Tropis (LPT) UNAIR.

”Khusus untuk kusta, saya tidak pernah melupakan jasa guru saya, Alm. Prof. Dr. Indropo Agusni, dr, SpKK(K), FINSDV, FAADV, yang sangat memberikan kesempatan dan dukungan untuk melakukan banyak hal di bidang kusta. Kami sangat kehilangan inspirator dan motivator terbaik dan berharap dapat melanjutkan cita-cita luhur beliau,” ungkapnya.

Soal target, keinginan, dan rencana ke depan, Dokter Cita berharap bahwa kita dalam hal ini dirinya maupun peneliti yang lain tidak hanya berkiprah di ringkat lokal dan nasional, tapi juga internasional. Khususnya sebagai upaya memperluas jejaring sehingga lebih bermanfaat untuk masyarakat.

”Dan, sebagai dokter, ada dua hal yang bagi saya penting. Yaitu, semua dokter wajib memperoleh ilmu setinggi-tingginya dan mengaplikasikan ilmu tersebut untuk melayani masyarakat. Namun, juga  senantiasa menjaga kehormatan dan integritas dengan mengamalkan sumpah hippokrates,” (*)

 

Penulis: Binti Q. Masruroh

Editor: Feri Fenoria

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone