Ilustrasi oleh Makassar Tribunnews
Ilustrasi oleh Makassar Tribunnews
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Berpuasa sama artinya dengan menghentikan aktivitas makan dan minum. Itu artinya aktivitas berpuasa memberi kesempatan bagi organ pencernaan untuk ‘rehat’ sejenak dari aktivitas mencerna, melumat, dan memeras-remas sari-sari makanan. Hal ini akan sangat berpengaruh besar pada proses kerja usus.

Pakar ilmu Faal FK UNAIR Dr. Bambang Purwanto, M.Kes., menjelaskan, selama berpuasa, organ pencernaan melakukan serangkaian  adaptasi. Kondisi ini sebenarnya menguntungkan, karena memberi kesempatan bagi saluran pencernaan untuk memperbaiki segala bentuk kerusakan yang terjadi pada area dinding usus.

Misal seseorang dengan gangguan gastritis. Penderita gangguan lambung ini mengalami peningkatan pada asam lambungnya sehingga terjadi erosi pada dinding usus. Dengan berpuasa, maka usus punya waktu untuk memperbaiki kondisi tersebut.

“Kalau ada yang menganggap Gastritis disebabkan karena telat makan, ndak selalu karena itu. Bisa jadi peningkatan asam lambung disebabkan karena over makan,” jelasnya.

Puasa sebenarnya juga menguntungkan bagi mereka yang gemar mengonsumsi makanan berlemak, dan berminyak. Mengapa? karena dengan berpuasa, lonjakan enzim lipase yang tinggi di pencernaan akibat konsumsi makanan berlemak tadi akan ‘disetting’ ulang menjadi normal kembali.

“Selama usus bekerja mencerna makanan, maka usus tidak akan pernah punya kesempatan untuk memperbaiki diri. Untuk itu puasa adalah momen tepat bagi usus maupun organ tubuh lainnya untuk melakukan perbaikan secara alami,” jelasnya.

Ibarat mobil rusak masuk bengkel. Maka performa usus yang tadinya kurang maksimal akan diperbaiki dengan berpuasa. Saluran pencernaan akan kembali dalam kondisi yang lebih baik, terjadi adanya regenerasi sel secara cepat, berbagai enzim pada pencernaan akan disetting ulang sehingga kembali normal. Dengan begitu proses penyerapan sari makanan di dalam usus menjadi lebih baik.

Agar kesehatan lambung senantiasa terjaga, Bambang menyarankan pentingnya mengatur porsi makan, termasuk ketika sedang berbuka puasa. Alasan mengapa sebaiknya kita tidak makan berlebihan karena menyesuaikan dengan kapasitas lambung yang kita miliki. Lambung kita hanya mampu menampung makanan sebanyak 800 cc per jam.

“Setiap hari usus kita bekerja keras mencerna makanan. Dengan konsumsi kurma akan memberi proteksi bagi usus sehingga nggak mudah aus,” jelasnya.

Sebaliknya, kebiasaan berbuka puasa dengan makanan berat sebenarnya tidak disarankan.   “Kebiasaan mengonsumsi makanan berat di awal berbuka puasa dan berlebihan malah akan berdampak tidak baik bagi pencernaan, karena memasukkan makanan lebih dari 800cc dalam satu jam akan mengakibatkan kerja saluran pencernaan jadi berat. Enzim pencernaan yang dikeluarkan jadi lebih banyak,” jelasnya.

Contoh, memasukkan satu porsi nasi dan lauk, sebenarnya sudah mengisi ruang dalam lambung sebanyak 500cc, ditambah dengan minum segelas air 250 cc. Jika ditotal keseluruhan maka lambung sudah menampung 750 cc. padahal kapasitas lambung maksimal menampung 800 cc per jam. Mepet!

“Jika terus dipaksakan maka bisa terjadi peregangan usus, kemudian terjadi sekresi asam lambung yang berpotensi meningkatkan perlukaan pada permukaan dinding usus,” jelasnya.

Pola makan yang tidak terkontrol dengan baik mengakibatkan organ pankreas serta usus bekerja ekstra keras untuk mengolah sari makanan. Jika kita tidak memperdulikan pola makan, maka kebiasaan tersebut akan memicu datangnya penyakit berbahaya, seperti kanker usus, hingga infeksi di saluran pencernaan.

Itulah sebabnya, mengapa kita disarankan berbuka dengan buah kurma. Selain karena kadar glukosa pada kurma mudah dicerna dan cepat menggantikan kebutuhan gula tubuh, konsumsi kurma juga bermanfaat untuk memperkuat sistem saluran pencernaan.

Naskah: Sefya H Istighfaricha

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone