KURNIA Ramadhani ketika menjalani aktivitas di Coady Institute, St. Francis Xavier University, Canada. (Foto: Istimewa)
KURNIA Ramadhani ketika menjalani aktivitas di Coady Institute, St. Francis Xavier University, Canada. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Kurnia Ramadhani atau yang akrab dipanggil Dhani merupakan alumni S1 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga yang lulus pada 2009. Saat ini Dhani menjabat Kasi (Kepala Seksi) Pelayanan Kesehatan dan Keperawatan di RSUD Tongas, Probolinggo. Meski begitu, keinginannya untuk belajar tidak berhenti begitu saja. Dhani terus mengembangkan kompetensinya hingga ke mancanegara.

Pada September 2016, Dhani mengikuti shortcourse bertajuk Local Economic Development di Hague Academy for Local Governance, Belanda. Saat itu dia masih bekerja di RSUD Waluyo Jati, Probolinggo. Saat mengikuti shorcourse tersebut Dhani lebih berfokus pada pengembangan moringa atau yang biasa kita kenal sebagai daun kelor.

”Pemilihan daun kelor tersebut adalah karena saat itu RSUD Waluyo Jati tengah berupaya untuk menjadi rumah sakit yang berfokus pada pemanfaatan daun kelor,” ujar Dhani ketika ditemui oleh NEWS UNAIR.

Tidak berhenti di Negeri Kincir Angin saja. Selepas diangkatnya Dhani menjadi Kasi Pelayanan Kesehatan dan Keperawatan di RSUD Tongas, dirinya terus berupaya meningkatkan skill leadership. Salah satu upaya yang Dhani lakukan adalah dengan mengikuti program kepemimpinan bertajuk Global Change Leaders di Coady Institute, St. Francis Xavier University, Kota Antigonish, bagian Nova Scotia, Kanada, pada Mei hingga Juni 2018.

”Program tersebut lebih berfokus pada women leadership sehingga seluruh peserta merupakan perempuan,” ungkap Dhani.

Program diikuti hanya diikuti oleh 25 peserta terpilih yang berasal dari 22 negara di dunia. Dhani merupakan satu-satunya delegasi dari Indonesia yang mengikuti program tersebut.

Tidak hanya diajarkan terkait hal-hal kepemimpinan, Dhani juga belajar tentang kepedulian terhadap perubahan iklim, prinsip-prinsip good governance dan hal-hal umum lainnya. Selain belajar di dalam kelas, dalam kegiatan tersebut Dhany diajak untuk mengunjungi women resource centre provinsi dan women resource centre kota.

”Di women resource centre tersebut, kami mempelajari banyak hal. Seperti bagaimana penanganan untuk korban kekerasan kepada wanita dari segala aspek. Baik medis, ekonomi, maupun psikologis,” ungkap Dhani.

Banyak hal yang terjadi selama di Kanada. Pengalaman yang paling berkesan untuk Dhani adalah ketika bulan Ramadhan datang. Dia harus berpuasa dan merayakan Idul Fitri bukan di kampong halamannya. Waktu subuh yang sama dengan waktu di Indonesia, tapi waktu berbuka yang mencapai pukul 9 malam membuat puasa yang dilalui Dhani begitu terasa.

”Hal yang paling menarik adalah ketika Idul Fitri. Kami shalat di gedung ibadah umum, satu kompleks dengan gereja,” ucapnya.

Tidak lengkap rasanya apabila jauh-jauh ke luar negeri, tapi tidak memperkenalkan budaya Indonesia. Karena itu, katika hari kelulusan tiba, Dhani menampilkan sebuah tarian berjudul tari Galiyer. Tarian tersebut mendapat sambutan yang sangat baik.

”Bahkan, sampai ada tamu yang datang menghampiri saya untuk mengucapkan terima kasih karena menurutnya tarian tersebut begitu indah hingga membuat dia sangat kagum,” tuturnya.

Meski telah kembali ke tanah air, tugas Dhani tidak selesai begitu saja. Dia harus membuat suatu inovasi baru. Jadi, pada Selasa (6/11) di Perpustakaan Kampus B UNAIR, Dhani datang berkunjung untuk menemui Dr. Ernawati, drg., M.Kes yang merupakan dosen pembimbingnya ketika kuliah dulu tepatnya, membagi pengalamanya saat memperdalam keilmuannya di luar negeri.

Kepada adik tingkatnya yang kini masih kuliah, terlebih mahasiswa S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM), Dhani berpesan agar memilih peminatan di S1 IKM yang seusai dengan pilihan hati. Sebab, tidak sedikit adik tingkatnya yang kerap masih bimbang dengan piliah kelak bakal berkarir di bidang apa.

”Apa pun yang dipilih sesuai dengan minat. Sebab, ke depannya bisa jadi lebih profesional di bidang itu. Baik di AKK (Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Red), promosi kesehatan, kesehatan lingkungan maupun bidang yang lain,” pungkasnya. (*)

 

Penulis: Galuh Mega Kurnia

Editor: Feri Fenoria

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone