SAMBUTAN Wakil Dekan I FST UNAIR, Dr., Dra., Hartati M. Si dalam pembukaan seminar. (Foto: Tim pubdok HIMA TL UNAIR)
SAMBUTAN Wakil Dekan I FST UNAIR, Dr., Dra., Hartati M. Si dalam pembukaan seminar. (Foto: Tim pubdok HIMA TL UNAIR)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Konsep zero emission menyatakan proses industri seharusnya tidak menghasilkan limbah dalam bentuk apapun. Sebab, limbah berdampak buruk terhadap lingkungan, termasuk manusia. Artinya, produksi sampah dari suatu industri sebisa mungkin diminimalkan.

Dari segi lingkungan, konsep eliminasi limbah zero emission merupakan langkah solutif mengatasi pencemaran yang mengancam ekosistem. Baik dalam skala lokal maupun global.

Pemakaian sumber daya harus minim. Disarankan, digunakan sumber daya alam yang bisa diperbaharui supaya dapat direduksi oleh alam dan menghasilkan keberlanjutan.

Di Indonesia, zero emission masuk dalam list to do yang harus segera ditangani. Menjawab tantangan itu, Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga mengadakan Seminar Nasional bertajuk “Implementasi SDGs Sebagai Komitmen Industri di Indonesia menuju Zero Emission” pada Sabtu (3/11) di Hall ACC, Lantai 2, UNAIR Kampus C.

Rektor ITS Prof. Ir. Joni Hermana MScES PhD didapuk mengisi materi tentang “Peran Perguruan Tinggi dalam Implementasi SDGs Menuju Indonesia Zero Emission”. Dalam sesi diskusi pertama itu, dia menyampaiakan perlunya kontribusi mahasiswa dalam mengatasi perubahan iklim.

Perubahan iklim berdampak pada air, makanan, ekosistem, hingga cuaca ekstrim. Bila tidak segera diatasi, harapan pemenuhan tujuan SDGs (Sustainable Development Goals) hanya sebatas angan.

”Penting sekali membentuk triple helix. Kelembagaan kerja sama antar perguruan tinggi, industri (swasta), dan pemerintah. Wujudnya, penelitian bersama yang hasilnya dapat diaplikasikan untuk pembangunan bangsa,” tutur Prof. Joni.

Sesi kedua dilanjutkan oleh Direktur Produksi PT Pupuk Kalimantan Timur Bagya Sugihartanan. Paparan berjudul ”Peran Pupuk Kaltim untuk Mewujudkan Konsep Zero Emission Dalam SDGs” disampaikannya dalam sesi itu. Pupuk Kaltim, imbuh Bagya, mencanangkan berbagai program, seperti kampung hijau, pengembangan masyarakat pesisir, dan menerapkan clean production untuk menurunkan emisi.

”Pihak Pupuk Kaltim juga gencar melakukan reuse dan reduce seperti pengolahan gas CO2 dan pengolahan limbah,” sebutnya.

Sementara itu, sesi akhir diisi oleh Nur Setianto Suroto, co founder Energi Bersih Indonesia. Dia menjelaskan materi soal ”Renewable Energy and Community”. Dalam bahasannya tersebut, Nur menjelaskan future energy concepts yang terdiri atas affordable, reliable, dan clean.

”Rancangan harus dibarengi dengan action karena awareness without action is worthless,” pungkasnya. (*)

 

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Feri Fenoria

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone