SISWA-siswa SDN 2 Karangrejo-Banyuwangi bersama mahasiswa Perikanan dan Kesehatan Masyarakat UNAIR PSDKU. (Foto: Bastian Ragas)
SISWA-siswa SDN 2 Karangrejo-Banyuwangi bersama mahasiswa Perikanan dan Kesehatan Masyarakat UNAIR PSDKU. (Foto: Bastian Ragas)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – COSFET (Coastal School for Environmental Health) merupakan program kerja gabungan antara Himpunan Mahasiswa Budidaya Perairan (HMPB) dan Banyuwangi Public Health Association (B-PHA), himpunan mahasiswa fakultas kesehatan masyarakat.

Dijelaskan oleh Indra Wicaksono selaku ketua pelaksana COSFET sekaligus kepala departemen pengabdian masyarakat HMBP, kerja sama HMBP dengan B-PHA untuk program kerja COSFET itu bermula dari kegiatan sharing proker antar kedua Hima. Kemudian, dari kedua pihak tersadar jika ada proker yang memiliki tujuan yang sama.

”Akhirnya kami sepakat untuk bekerja sama,” ujarnya.

Selain itu, mahasiswa FKM dirasa lebih berpengalaman dalam bidang sosialisasi kepada masyarakat. Terutama kepada anak-anak SD. Sebab, dari FKM sendiri, sudah ada mata kuliah khusus sosialisasi.

”Jadi, harapan kami, FKM dapat menyempurnakan proker ini guna terwujudnya goal dari COSFET ini,” imbuhnya.

Kegiatan COSFET yang mengambil sasaran siswa SDN 2 Karangrejo-Banyuwangi, khususnya kelas IV dan V tersebut. Tujuan kegiatan tersebut adalah memberikan pengetahuan tentang bagaimana cara mencegah kerusakan lingkungan, terutama lingkungan pesisir bagi anak-anak SD.

”Kami memilih SDN 2 Karangrejo ini, selain letaknya di daerah pesisir, SD ini sendiri awalnya memang merupakan sekolah Adiwiyata yang basic-nya memang sudah ditanamkan untuk menjaga lingkungan. Jadi, kami hadir untuk memperkuat basic tersebut,” ujar Indra.

Sosialisasi COSFET telah dilaksanakan selama tiga hari, yaitu 22 September, 6 Oktober, dan 21 oktober, dengan subtema yang berbeda setiap pertemuannya.

Subtema tersebut, antara lain, pemilahan sampah, dampak sampah terhadap biota, dan sanitasi lingkungan. Dalam pelaksanakan sosialisasi, panitia menerapkan sistem teori dan praktik. Sistem teori dilaksanakan di dalam kelas, sedangkan untuk praktiknya dilakukan di halaman sekitar sekolah.

”Kami sengaja menambahkan praktikum di COSFET ini. Agar siswa SD ini lebih mudah memahami apa yang sebenarnya kita sampaikan. Misalnya kita ingin menyampaikan pemilahan sampah, pada hari itu kami sediakan satu karung sampah campuran organik dan non organik, kemudian bersama siswa SD. kami mencontohkan cara memilah mana sampah organik dan mana yang termasuk sampah non-organik. Sekaligus kami jelaskan juga dampaknya,” jelas Indra.

”Meski sosialisasi COSFET telah dilaksanakan, namun COSFET belum berakhir. Sebab, kegiatan puncak kami, yaitu gerakan pesisir. Ini masih akan berlangsung pada 3 November besok,” imbuhnya.

Sementara itu, Wakil ketua pelaksana COSFET sekaligus Kepala Departemen SAS (Pengmas B-PHA) Intan Ayu menambahkan bahwa dirinya berharap COSFET bisa bekelanjutan untuk generasi Hima selanjutnya. Bahkan, COSFET bisa menjadi proker tahunan yang menggabungkan dua program studi, bahkan lebih.

”Mungkin juga, setiap tahun, kita mengangkat tema yang berbeda, tetapi tetap bernama COSFET yang berbasis edukasi pesisir dengan sasaran yang berbeda pula,” katanya. (*)

 

Penulis: Bastian Ragas

Editor: Feri Fenoria

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone