Hari Santri
Wakil Rektor III UNAIR Prof. Amin saat memberikan sambutan dalam Deklarasi Santri Mahasiswa. (Foto: Agus Irwanto)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, Universitas Airlangga mengadakan acara Deklarasi Gerakan Santri Mahasiswa. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Senin, (22/10) di Aula Kahuripan Kantor Manajemen Universitas Airlangga.

Acara tersebut dihadiri oleh wakil rektor III Prof. Ir. Moch. Amin Alamsjah, M.Si., Ph.D., Dr. MHadi Subhan, SH., MH., CN., Gus Nadirsyah Hosen selaku Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa Nahdhatul Ulama Australia, dan Ahmad athoillah yang merupakan founder Gerakan Santri Milenial yang juga sebagai ketua Hari Santri Nasional 2017. Acara tersebut juga dimeriahkan oleh Ustadz Zulfikar dan Veve Zulfikar serta Unit Kegiatan Mahasiswa Seni Religi dan Pagar Nusa UNAIR. Acara tersebut dihadiri oleh 300 peserta dari Universitas Airlangga maupun umum.

“Kontribusi para ulama harus kita isi dengan segala aktivitas kita untuk menyejahterakan umat,” tutur Prof. Amin.

Hari santri, lanjut Prof. Amin, menjadi sebuah pemicu bagi para pemuda Islam untuk menunjukkan eksistensinya. Dengan begitu, para pemuda Islam diharapkan pintar dalam menyejahterakan umat Islam. Selain itu, adanya hari santri dan deklarasi tersebut diharapkan mampu membakar seangat para santri untuk bergerak bersama-sama mencerdaskan umat.

“Ada lima poin yang harus diperhatikan sebagai seorang santri yaitu santri sampai kapanpun harus tetap belajar, santri harus berkhidmah dan berdakwah, santri harus mau menapak tilas jejak para ulama, menggunakan Islam sebagai prinsip kehidupan, dan harus siap menerima segala risiko,” terangnya.

Sementara itu, Ahmad Athoillah atau yang akrab dipanggil Gus Aik mengatakan hari santri yang jatuh pada tanggal 22 Oktober merupakan hari yang sangat istimewa. Hari santri merupakan bentuk apresiasi adanya semangat para santri terutama santri milenial atau mahasiswa yang bersemangat untuk berkarya.

“Hendaknya santri memanfaatkan tekhnologi  dengan baik diiringi dengan akhlak yang bagus,” tambahnya.

Di sisi lain, Gus Nadirsyah menuturkan tantangan santri di masa kini bukan semata-mata bersifat fisik, namun datang dari berbagai hal. Di zaman sekarang, umat Islam harus mampu melawan berbagai ujaran kebencian serta berita bohong (hoax) yang bermunculan.

“Hidup ini untuk mencari maslahat atau kebaikan, bukan sibuk mencari tipu muslihat. Jadi saat kita belajar kita harus fokus dalam mencari kemaslahatan karena Rasulullah SAW bersabda sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat bagi orang lain,” pungkasnya.

Kegiatan tersebut ditutup dengan pembacaan Deklarasi Gerakan Santri Milenial oleh seluruh peserta dan sholawat bersama yang dipimpin oleh Ustadz Zulfikar dan Veve Zulfikar.

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone