Dr. Irwanto, dr., Sp.A(K) (tengah) menjadi pembicara dalam talkshow yang digelar dalam semarak Jatim Fair 2018 di Grand City Convention Hall pada Rabu (10/10). (Dok. Zanna Afia Deswari)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Setiap orang tua tentu menginginkan yang terbaik bagi si buah hati. Salah satunya adalah dengan menanamkan pendidikan bagi anak sejak usia dini. Pada usia 0-6 tahun, otak anak mengalami perkembangan yang sangat pesat. Fase ini merupakan masa keemasan bagi tumbuh kembang anak, atau sering disebut sebagai golden age. Pada rentang usia tersebut, kemampuan anak dalam menyerap informasi dan mempelajari hal baru berlangsung cepat.

Maka tak heran, jika saat ini banyak orang tua berlomba-lomba untuk menyekolahkan anak pada usia sedini mungkin. Dengan anggapan, pendidikan formal sejak dini akan membuat anak lebih cerdas dan mampu menyerap ilmu pengetahuan lebih baik dibanding anak-anak lainnya. Terlebih, menjadi kebanggaan tersendiri bagi orang tua ketika kelak anak-anaknya mampu menyelesaikan studi dalam usia muda.

Namun, benarkah anggapan tersebut?

Ahli tumbuh kembang anak dari Rumah Sakit Universitas Airlangga, Dr. Irwanto, dr., Sp.A(K) memberikan jawabannya dalam talkshow Jatim Fair 2018. Talkshow yang berlangsung Rabu (10/10) itu mengupas permasalahan terkait Resiko dan Keuntungan Anak Sekolah Terlalu Dini. Pameran terbesar di Indonesia bagian Timur tersebut menggandeng para praktisi Rumah Sakit Universitas Airlangga untuk membantu memberikan sosialisasi dan edukasi seputar dunia kesehatan kepada masyarakat.

Menyoal problem yang kerap dialami orang tua tentang pendidikan anak, Dr. Irwanto mengatakan bahwa selama ini banyak orang tua yang salah kaprah dalam mendefinisikan pendidikan dini bagi anak. Saat ini, anak-anak usia pra sekolah cenderung mendapat tekanan untuk menelan materi pendidikan formal secara mentah-mentah.

“Yang keliru saat ini adalah banyak anak-anak PAUD, TK justru sudah diberi PR oleh guru. Padahal anak-anak seusia mereka belum layak mendapat tugas rumah. Mereka masih dalam tahap untuk mengenal lingkungannya. Jadi, biarkan mereka bermain menikmati dunianya,” jelasnya.

Dr. Irwanto memaparkan, pada usia 2-3 tahun, kemampuan bicara anak masih belum berkembang secara sempurna, yakni sekitar 50-75 persen. Kemampuan bicara pada anak, rata-rata mencapai tahap sempurna saat mereka menginjak usia empat tahun. Menurutnya, merupakan suatu hal yang wajar jika kemudian anak-anak di usia tersebut belum mampu mengerjakan tugas-tugas yang diberikan sekolah. Sebab, pada rentang usia tersebut, anak masih dalam tahap pematangan kemampuan bicara.

“Lingkungan pendidikan semacam PAUD dan taman kanak-kanak merupakan media bagi anak untuk belajar bersosialisasi, biarkan mereka menikmati usia bermain sebagaimana mestinya. Jangan dibebani dengan tugas-tugas dan pelajaran berat,” paparnya.

Lebih lanjut, Dr. Irwanto mengatakan, usia ideal anak untuk masuk sekolah dasar adalah usia 6-7 tahun. Namun bukan berarti, di bawah usia tersebut anak dilarang untuk bersekolah.

“Jika memang anak tersebut mampu, silakan saja menyekolahkan anak lebih muda. Asal bukan karena paksaan orang tua, melainkan karena pilihan anak itu sendiri,” imbuhnya.

Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Penelitian membuktikan, anak-anak yang bersekolah dengan usia matang cenderung lebih dapat mengelola emosi dan menangkap pelajaran lebih baik dibandingkan anak-anak yang bersekolah di usia terlalu muda.

Meski tak dapat dipungkiri jika terdapat beberapa anak yang terbukti lebih cepat menerima pelajaran di usia lebih muda. Anak-anak semacam ini biasanya memiliki kemampuan atau kecerdasan yang mumpuni di bidang akademik.

Namun, bagi anak-anak yang belum siap secara mental, risiko yang ditimbulkan ketika memaksakan sekolah terlalu dini dapat mengakibatkan kemampuan komunikasi anak menjadi terbatas, anak mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi dan kurangnya kemampuan untuk memecahkan masalah.

Perkembangan mental yang belum sempurna akan berpotensi terhadap semangat belajar anak. Sehingga, anak akan merasa cepat jenuh dan bosan dalam mengikuti proses belajar mengajar. Orang tua yang tidak peka akan hal tersebut, rentan membuat anak mengalami kondisi tertekan.  Sebab, mereka harus menjalani proses belajar mengajar berbasis pendidikan formal yang cenderung menjemukan. Anak yang seharusnya bahagia dan menikmati dunia bermainnya, justru harus dihadapkan dengan pelajaran-pelajaran yang tak semuanya sesuai dengan usia perkembangannya.

Dr. Irwanto mengimbau kepada orang tua untuk tidak pernah menyamakan atau membandingkan anak satu dengan yang lain. Setiap anak memiliki proses perkembangan dari sisi berpikir, emosi, dan kecerdasan serta sosial yang berbeda-beda. Oleh karena itu, orang tua dan guru harus bisa memahami karakter serta potensi masing-masing anak, supaya dapat diketahui cara yang tepat untuk menstimulus proses belajar sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. (*)

Penulis : Zanna Afia Deswari

Editor: Binti Q. Masruroh

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone