Potlach, Sebuah Konsep Pemberian Masyarakat Kuno

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi unguvioolet.files.wordpress.com

Perkembangan era globalisasi terus menerus mengasah kemampuan manusia untuk lebih terbuka dengan informasi baru. Era ini berdampak pada sendi-sendi perilaku manusia yang sering disebut manusia modern yang semakin sibuk dengan pekerjaannya cenderung individualis. Amerika sebagai negara penganut paham ideologi liberalis sering dijadikan contoh sebagai negara masa depan bagi negara-negara berkembang. Karena itulah, kemajuan teknologi selalu dikaitkan dengan kepribadian orang-orang di Amerika.

Mereka dipandang manusia yang individualis, sehingga setiap orang mengira bahwa perilakunya itu akibat dari arus globalisasi yang semakin mengakar ini. Komunikasi yang terjadi pun atas dasar kepentingan semata, yaitu kekeluargaan. Seolah jiwa sosial mereka digambarkan oleh sebagian orang sudah mulai luntur. Akibatnya, interaksi mereka pun hanya sebatas pada pekerjaan semata.

Hal ini berbeda dengan negara-negara berkembang, apalagi negara miskin yang masih terlihat interaksi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari yang tidak didasarkan pada pekerjaan semata. Terkadang masyarakat berkumpul hanya sekadar bertukar cerita tentang kehidupannya masing-masing sehingga masih dimungkinkan terjadinya saling bertukar barang atau saling memberi satu sama lain ketika ada tetangga atau orang di sekitarnya yang sedang mengalami kesulitan.

Kewajiban Membalas Pemberian  

Kegiatan saling memberi atau benda pemberian diartikan oleh beberapa masyarakat tidak hanya sekadar memberikan atau menerima suatu benda kepada dan dari orang lain, namun kegiatan itu memiliki makna mendalam. Di Samoa misalnya, setiap pemberian meninggalkan kewajiban bagi yang mendapatkan pemberian itu untuk membalas pemberian tersebut. Mereka berkewajiban untuk mengembalikan hadiah yang telah diterima, yang diatur oleh adanya hukuman akan kehilangan nama, otoritas, dan kekayaan apabila tidak melakukannya.

Contoh lain terjadi di Suku Taonga pada suku Maori. Ketika kita mendapatkan hadiah dari orang yang kita beri suatu benda atau hadiah yang lainnya, di sana suatu pemberian itu dimaknai sebagai sebuah kebaikan yang harus dibalas dengan kebaikan. Jadi ada semacam kewajiban untuk menerima dan memberi. Kewajiban memberi ini terjadi pada suku Dayak, ketika mereka akan melaksanakan makan, kemudian ada orang lain, maka orang lain itu akan diajak bersama-sama untuk turut makan. Orang yang mengetahui ada proses penyajian makanan, maka orang itu pun wajib diajak ikut makan bersama-sama.

Hal lain yang unik pada beberapa masyarakat suku bangsa bahwa ketika menolak untuk memberi hadiah atau lalai mengundang, adalah –sama dengan menolak untuk menerima– sama dengan membuat suatu pernyataan perang; ini sama dengan suatu penolakan terhadap saling berhubungan dan persahabatan.

Makna-makna pemberian ini dibahas lengkap dalam sebuah buku karya Marcell Mauss yang berjudul “Bentuk dan Fungsi Pertukaran di Masyarakat Kuno”. Pada festival Mia-mila, sebuah potlach untuk menghormati yang sudah mati, dua macam vaygu’a – benda-benda kuala dan yang Malinowski mendeskripsikannya untuk pertama kali sebagai vaygu’a yang permanen – diperlihatkan dan ditawarkan kepada para ruh, yang mengambil bayangan dari semuanya ini dan membawanya ke tempat mereka yang sudah meninggal; di mana para ruh itu bersaing satu sama lain dalam hal kekayaan sebagaimana yang dilakukan manusia dalam kepulangan kembali dari kuala yang bersifat keagamaan. Van Ossenbrugen, seorang ahli teori dan juga seorang pengamat unggul telah mencatat suatu permasalahan lain. Pemberian hadiah kepada sesama manusia dan kepada dewa-dewa mempunyai tujuan yang lebih jauh untuk membeli perdamaian.

Pentingnya memberi kepada orang lain, terutama kepada si miskin ini memunculkan tindakan konsep sedekah, ini didasarkan bahwa manusia muncul sebagai perwakilan dari dewa-dewa dan mereka yang sudah mati. Orang Hausa sering menderita penyakit demam endemik pada waktu jagung-guinea sudah siap dipanen, dan cara satu-satunya untuk mengatasinya ialah dengan memberikan hadiah gandum kepada orang miskin.

Jadi konsep berpikir tentang pemberian tersebut kemungkinan diadopsi oleh beberapa lembaga kemanusiaan yang tidak selalu mempunyai orientasi profit dalam menjalankan kegiatannya. Hal itu pula mirip dengan konsep ajaran-ajaran agama, misalnya Islam yang menganjurkan membantu sesama manusia tanpa pamrih dan ketika membalas kebaikan orang lain harus lebih dari apa yang ia terima.

Kedermawanan, Kehormatan dan Uang

Kepulauan Andaman, Manusia Pygmi. Sasaran dari tukar-menukar itu untuk menghasilkan persahabatan diantara dua orang yang bersangkutan; dan jika ini tidak terlaksana maka maksud tujuan itu telah gagal.

Sistem perdagangan di Kepulauan Trobriand, yaitu Kula, adalah bentuk luas dari Potlatch, karena disini terjadi tukar-menukar barang dalam jumlah besar yang terjadi antar-suku bangsa. Perdagangan Kula ini bersifat aristokratis, dan hanya diperuntukkan bagi para-kepala yang merupakan pemimpin armada Kula dan kano-kano, para pedagang untuk vasal-vasal mereka (anak-anak dan para ipar), dan tampaknya juga bagi kepala dari sejumlah desa-desa vasal. Pertukaran itu dilakukan dalam tata cara kebangsawanan, netral, dan sopan.

Masih terkait dengan potlatch, di Fiji terdapat satu musim, yaitu kerekere yang pada waktu musim itu orang dilarang untuk menolak apapun yang diminta oleh siapa pun. Mata uang Fiji dari gigi binatang kachalot sama dengan uang di Trobriand. Ini dikenal sebagai tambua.

Dalam sistem potlatch, seseorang dibatasi untuk mengeluarkan sesuatu yang dimiliki sampai habis-habisan. Orang kaya yang memperlihatkan kekayaannya dengan cara mengeluarkan biaya tanpa perhitungan, adalah seorang yang memenangkan prestise. Kedudukannya juga bisa hilang seperti dalam perang, perjudian dll. Kadang tidak ada keraguan mengenai penerimaan imbalan ini; seseorang menghancurkan sesuatu semata karena hendak memberi kesan bahwa ia tidak ingin menerima imbalan apa pun.

Pada sistem potlatch ini, orang Kwakiutl dan Tsimshian membuat perbedaan terhadap barang yang dimiliki yang berlaku pada zaman Romawi, orang-orang Trobriand dan Samoa. Mereka mempunyai barang-barang biasa untuk dikonsumsi dan didistribusikan, dan juga harta kekayaan keluarga yang berharga —jimat-jimat, tembaga-tembaga yang diberi dekorasi, selimut-selimut kulit dan kain-kain yang dibordir. (*)

Berita Terkait

Ijud Irawan

Ijud Irawan

Penulis adalah mahasiswa jurusan Antropologi FISIP Universitas Airlangga; mahasiswa peserta ekspedisi NKRI 2016 yang bertugas di Papua.

Leave Reply

Close Menu