SALAH satu peserta NDC 2019 menyampaikan argumentasinya saat debat berlangsung. (Foto: Istimewa)

Hadapi Tantangan Era Disrupsi, FKp UNAIR Gali Inovasi Mahasiswa melalui NDC

UNAIR NEWS –Hadirnya era disrupsi saat initelah menciptakan perubahan dan pola baru bagi dunia kerja. Tak terkecuali pada bidang profesi keperawatan. Seiring dengan kemajuan teknologi, seorang perawat harus siap menghadapi perkembangan industri kerja yang dinamis. Selain menguasai ilmu dan keahlian profesi,perawat juga dituntut mampu beradaptasi sekaligus berinovasi, supaya perannya tak tergeser oleh kecanggihan teknologi.

Berkenaan dengan hal tersebut, Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Airlangga (UNAIR) mencoba menggali inovasi para calon perawat muda melalui Nursing Debate Competition (NDC) 2019. NDC 2019 mengusung tema Current Nurse’s Innovation on Improving Health Care Quality in Industry Revolution 4.0. Kompetisi debat tingkat nasional itu digelar untuk mengasah kemampuan berpikir kritis mahasiswa untuk menghadapi tantangan dunia keperawatan di masa mendatang.

Setho Hadisuyatmana S.Kep., Ns., M.NS (CommHlth&PC), dosen yang juga salah satu dewan juri NDC 2019 menyampaikan bahwa Revolusi Industri 4.0 merupakan kontinuitas dari revolusi industri di era sebelumnya. Adanya Revolusi Industri 4.0 secara tidak langsung memberi dampak serta tantangan bagi profesi keperawatan.

“Tahun ini menginjak ke generasi Gen Z, di mana orang ituidentik dengan 4 hal. Yang pertama, stay connected. Dia akan terkoneksi untuk mengakses informasi di mana-mana. Itu tantangan yang harus diwaspadai oleh perawat. Dimana nanti ke depan justru pasien kemungkinan akan jauh lebih pintar dari perawat,” terangnya.

Yang kedua, lanjut Setho, adalah tentang big data. Ia mengatakan bahwa ke depan, data informasi kesehatan pasien bukan hanya terekamdi EMR (Electronic Medical Record) melainkan menggunakan sistem big data.

Ketiga adalahcloud computing. Di mana pengguna tidak perlu membawa piranti elektronik dengan kapasitas besar untuk bisa mengaksesatau mendapatkan informasi yang disimpan di dalamnya.

Terakhir adalah artificial intelligent,kecerdasan buatan pada teknologi komputer atau mesin yang menyerupaikecerdasan manusia.

“Permasalahannya tidak hanya di sektor keperawatan di rumah sakit. Orang kan sekarang mulai sok tahu, tuh. Kalau kena luka misalnya, dia langsung browsing di Google. Nah,kita tidak tahu benar apa salah (cara mengobati, Red). Dankita tidak bisa men-judge bahwa tindakan itu salah. Konsekusensinya kita harus meng-counter, rasional dari tindakan itu apa,” papar Setho.

Sementara itu, Ika Nur Pratiwi S.Kep., Ns., M.Kep., selaku penangungjawab NDC 2019 mengatakan, melalui NDC, mahasiswa akan berpikir untuk menyusun bagaimana strategi perawat untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0.

“Kita istilahnya akan memasuki era seperti itu (Revolusi Industri 4.0, Red), mau tidak mau perawat harus siap. Harus punya strategi bagaimana untuk menghadapi situasi tersebut. Karena persaingan juga akan semakin tinggi. Tidak hanya dari dalam tetapi dari luar negeri juga,” jelas Ika.

Perlu diketahui, NDC merupakan salah satu rangkaian Dies Natalis FKp UNAIR ke-20. NDC diselenggarakan pada Sabtu (23/03/2019) di Gedung FKp Kampus C UNAIR dan diikuti oleh 30 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. (*)

Penulis : Zanna Afia Deswari

Editor : Binti Q. Masruroh




ANGGA Kresna Pranata, ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keperawatan (FKp) 2019. (Foto: Istimewa)

Usung Semangat SUPER, Angga Dorong BEM Fakultas Keperawatan Beda

UNAIR NEWS – Dalam dunia organisasi, terkadang program kerja yang ada membuat para mahasiswa merasa bosan, terutama para organisator itu sendiri. Dengan itu, Angga Kresna Pranata selaku ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keperawatan (BEM FKp) dalam periode 2019–2020 membuat suatu hal yang berbeda.

Angga –sapaan akrabnya– berbagi cerita kepada tim UNAIR NEWS tentang BEM FKp 2019. Baginya, telah menjadi anggota BEM selama dua tahun yang seperti itu-itu saja membuat Angga merasa monoton. Karena itu, Angga membuat BEM FKp lebih berbeda dari kepengurusan sebelumnya.

”Saya ingin memajukan BEM FKp jadi lebih beda bukan ingin memajukannya. Karena, selama dua tahun saya menjadi anggota BEM ini kok gini-gini aja,” ujarnya.

Kegelisahan itulah yang kemudian mengantarkan Angga pada inisiatif membuat hal yang berbeda. Baginya, keinginan itu adalah menjadikan BEM FKp menjadi lebih baik bukan menjadi lebih maju.

Karena itu, Angga mencari inovasi baru dengan mengkaji acara atau program kerja BEM FKp sebelumnya relevan tidaknya dengan jaman sekarang. Angga memfokuskan BEM membuat acara lebih berbeda dengan mengubah acaranya atau sistemnya.

”Mencari inovasi baru, membuat acara lebih beda entah acara atau sistemnya yang diubah. Buat beda bukan meneruskan bisa bermanfaat lebih lah istilahnya,” ungkap mahasiswa semester VI tersebut.

Setiap organisasi pasti memiliki kabinet begitu juga BEM FKp. Pada periode 2019–2020, BEM FKp memiliki kabinet dengan nama SUPER.

Bagi Angga, kabinet SUPER merupakan singkatan dari Suportif, Unggul, Prestatif, dan Revolusioner. Kabinet SUPER tersebut memiliki filosofi bahwa sesuatu yang tangguh, yang super dengan adanya revolusi dari BEM periode 2019–2020 dapat memberikan kekuatan sendiri.

Pada akhirnya, Angga berharap BEM FKp sesuai dengan tujuannya. Yakni, membuat lebih berbeda dan anggotanya satu tujuan. Baginya, suatu organisasi bisa menjadi lebih baik karena ada kerja sama yang baik antar anggota dengan satu tujuan yang sama.

”Saya berharap BEM FKp ini sesuai dengan tujuan saya. Lebih beda dan yang paling penting anggota satu tujuan dengan saya,” pungkas Angga. (*)

 

Penulis: Asthesia Dhea C.

Editor: Feri Fenoria Rifa’i




2. PENYERAHAN secara simbolis bibit pohon oleh Dosen Fakultas Keperawatan UNAIR kepada perwakilan warga RT 03 Kendang Sari. (Foto: Istimewa)

FKp UNAIR Ajak Masyarakat Kampung Pelangi Kendang Sari Kelola Sampah

UNAIR NEWS – Mahasiswa Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Airlangga angkatan 2015 mengajak masyarakat Kampung Pelangi Kendang Sari mengelola sampah melalui Bank Sampah. Ajakan tersebut diwujudkan mahasiswa FKp melalui kegiatan perkuliahan komunitas empat dengan mengangkat tema ”Pengolahan Sampah: Bank Sampah dan Penghijauan Lingkungan”.

Kegiatan yang menjadi bagian dari kuliah berbasis metode project based learning (PJBL) itu dilaksanakan oleh mahasiswa di Kendang Sari RT 3, RW 4, Surabaya. Tepatnya dilaksanakan selama dua kali, yaitu pada Minggu (9/12) dan Minggu (16/12).

Daerah tersebut merupakan wilayah binaan pengabdian masyarakat dosen Departemen Keperawatan Jiwa dan Komunitas FKp UNAIR yang saat ini dijuluki ”Kampung Pelangi”. Pelaksanaan kegiatan itu didasari fakta permasalahan banyaknya sampah dan masih kurangnya penghijauan lingkungan di wilayah itu.

Karena itu, mahasiswa, dosen, dan masyarakat sekitar bersama-sama untuk mengubah Kampung Pelangi menjadi lebih indah. Daerah tersebut memiliki jumlah produksi sampah yang cukup besar dan belum diolah, baik itu sampah organik maupun anorganik.

”Kami bermitra dengan Bank Sampah Surabaya untuk melakukan pengolahan sampah. Serta melakukan penyuluhan pada Minggu 9 Desember 2018 kepada ibu-ibu PKK di Kendang Sari. Harapannya akan terbentuk kader-kader bank sampah,” jelas Eri Retno, mahasiswa FKp UNAIR.

Masyarakat juga diajari tentang pemanfaatan sampah organik, terutama limbah rumah tangga untuk dijadikan pupuk organik dengan menggunakan tong komposter. Di sisi lain, sampah organik dipilah kembali untuk dijual di bank sampah.

Cara tersebut sangat efektif untuk mengurangi volume sampah di kawasan tersebut. Ibu-ibu begitu antusias dengan acara itu. Terbukti banyak ibu yang bertanya saat materi penyuluhan tengah diberikan.

Pada hari berikutnya, Minggu (16/12), diadakan kegiatan penanaman tanaman yang bermitra dengan Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau Surabaya untuk mendapatkan tanaman hias, pupuk, serta tong komposter. Sebelum acara dimulai, dilakukan acara pemberian tanaman, kompos, dan tong komposter dari mahasiswa serta dosen kepada ketua RT 3 Kendang Sari secara simbolis. Berikutnya, digelar penanaman tumbuhan bersama dengan masyarakat sekitar.

”Semoga kegiatan ini dapat bermanfaat serta Kampung Pelangi dapat benar-benar terwujud. Bukan hanya isinya yang berwarna-warni, tapi lingkungannya juga hijau dan terhindar dari permasalahan sampah,” pungkasnya. (*)

 

Penulis: Wiwik Yuni Eryanti Ningrum

Editor: Feri Fenoria




SEBANYAK 89 Perawat FKP UNAIR Kembali Dilantik di Airlangga Convention Center, Selasa (18/12). (Foto: Istimewa)

FKP UNAIR Kembali Lantik 89 Perawat

UNAIR NEWS – ”Perawat harus berperan aktif sebagai agent of change menghadapi MEA. Perawat harus mempunyai keberanian untuk berbuat dan berubah lebih baik lagi dengan meningkatkan mutu pelayanan dan meningkatkan nasib profesi keperawatan”. Motivasi itu disampaikan oleh Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Prof. Dr. Nursalam, M. Nurs (Hons), saat memberikan sambutannya pada Pelantikan Keperawatan di Airlangga Convention Center, Selasa (18/12).

Hadir dalam acara tersebut Sekretaris Jendral Dewan Pimpinan Wilayah Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Timur Misutarno, S. Kep., NS., M. Kep yang sekaligus melantik 89 perawat baru dari jalur alih jenis (D3 ke S1). Prof. Nursalam menuturkan, hari ini adalah awal untuk mengabdikan diri kepada masyarakat. Perawat harus menunjukkan keunggulan dan profesionalitas lulusan Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga.

Today is the beginning of new day. You can use this day as you will. You can use it for something better and useful or you can use something useless”, pungkas Prof. Nursalam.

Kebahagiaan dan rasa haru juga meliputi ruangan tersebut. Prof Nursalam mengungkapkan rasa syukurnya atas keberhasilan Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga yang baru saja memperoleh akreditasi A pada Program Studi Profesi Keperawatan dan Program Studi Pendidikan Keperawatan. Terutama kepada para perawat yang baru dilantik. Dia mengimbau para perawat untuk turut serta berkiprah di lingkungan masyarakat mengikuti perkembangan zaman terlebih memasuki Mayarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

”Era kesejagatan MEA hendaknya dipersiapkan secara benar dan menyeluruh. Kompetensi yang harus dipersiapkan adalah ethic  and legal practice, professional nursing practice, leadership and management, education and research, professional and personal and quality development,” ujarnya.

”Ia juga memberikan ucapan selamat dan terima kasih. Harapannya, kepada para alumni agar terus menjalin komunikasi dan dukungan terhadap almamater serta memberikan masukan untuk terus membangun Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga menjadi lebih baik lagi,” tambahnya. (*)

 

Penulis: Khefti Al Mawalia

Editor: Feri Fenoria




EMPAT Mahasiswa berhasil meraih medali perak dalam kompetisi Seoul International Invention Fair (SIIF), Seoul, Korea Selatan, pada Kamis–Sabtu (6–8/12/2018). (Foto: Istimewa)

Tim UNAIR Raih Perak di Kompetisi Inovasi Internasional Seoul

UNAIR NEWS – Tiga mahasiswa Fakultas Keperawatan (FKp) serta satu mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga meraih medali perak dalam kompetisi Seoul International Invention Fair (SIIF), Seoul, Korea Selatan, pada Kamis–Sabtu (6–8/12/2018). SIIF merupakan kompetisi yang diselenggarakan oleh Korea Invention Promotion Association (KIPA).

Berawal dari adik kelasnya di keperawatan yang juga baru menang di ajang international di Jepang, informasi kompetisi tersebut diterima Teguh Dwi Saputro (ketua tim) dan Yenny. Selanjutnya, keduanya menelusuri informasi tersebut hingga akhirnya mengajak Fina dan Wildan sebagai tim untuk mengikuti lomba inovasi di Korea itu.

”Kami mengikuti lomba ini karena dorongan yang kuat dari impian kami yang sudah kami tulis dan belum tercoret sampai sekarang. Karena itu, meski kami sudah semester VII, tapi kami masih berusaha untuk mewujudkan hal itu. Yakni, menang di perlombaan tingkat internasional,” ungkap Teguh.

”Selain itu, kami berempat mempunyai impian untuk berperan penting dalam membawa nama baik Universitas Airlangga di tingkat internasional,” imbuhnya.

Akhirnya tim UNAIR berhasil meraih juara dengan mempresentasi inovasi bernama PINELICA (Pineapple Peel as Hair Care. Yakni, inovasi dengan memanfaatkan limbah kulit nanas sebagai gel yang dapat digunakan sebagai masker dan krim untuk mengatasi ketombe.

Tim PINELICA terdiri atas Teguh Dwi Saputro, mahasiswa FKp angkatan 2015, selaku ketua; Fina Ainur Rohmah, FKp angkatan 2015; Yenny P, FKp angkatan 2015; dan Wildani Abdala N, FISIP angkatan 2015. Dengan dibimbing Dr. Kusnanto., S.Kp., M.Kes, tim UNAIR mampu melewati tahap demi tahap dengan baik.

Teguh mengakui, timnya terbentuk saat pengumpulan abstrak H-1 akan ditutup. Tim juga sempat dihinggapi perasaan takut dan tidak yakin untuk mengikuti lomba inovasi tersebut. Mengingat, lomba inovasi Seoul International Invention Fair (SIIF), Seoul, Korea Selatan, digelar pada Desember, tak sedikit dana fakultas dipakai untuk kegiatan.

”Sempat pesimistis tidak mendapat pendanaan. Selain itu, pada jadwal itu, kami (mahasiswa, Red) musim UAS (ujian akhir semester), ada yang take home pula,” katanya.

Namun, tim akhirnya mampu melewati hambatan tersebut. Komitmen dan tekad yang kuat dari setiap anggota tim membuahkan hasil.

”Kami presentasi dengan topik PINELICA (Pineapple Peel as Hair Care. Nah, di sana, kami mempresentasikan secara oral di depan dua juri dari negara lain tentang bagaimana inovasi kami,” tutur Fina, salah seorang anggota tim.

”Bagaimana kami membuatnya (PINELICA), apa kelebihannya, bagaimana analisis SWOT-nya. Bagaimana future research-nya,” imbuh Wildan, salah seorang anggota tim yang lain.

Atas presentasi tersebut, delegasi UNAIR akhirnya mendapatkan medali perak. Menurut Teguh, ide awal inovasi timnya berasal dari banyaknya kulit nanas yang dibuang begitu saja sehingga menumpuk dan menjadi limbah. Padahal, kulit nanas mempunyai banyak kandungan yang bermanfaat bagi kesehatan rambut. Khususnya untuk mengatasi ketombe yang jadi masalah bagi manusia pada era modern saat ini.

”Kami berinovasi membuat sebuah gel dari ektrak kulit nanas yang dapat digunakan multifungsi. Yakni, dapat digunakan sebagai masker dan krim rambut dalam mengatasi ketombe yang tentu lebih praktis, ekonomis, aman, dan ramah lingkungan,” ungkapnya.

Diketahui, tim UNAIR bersaing dengan peserta dari total 606 invention dan 33 negara. Di antaranya, Arab Saudi, Taiwan, Thailand, Korea, Malaysia, Macau, Taiwan, dan Kroasia. Para pesertanya berasal dari latar belakang yang beragam, mulai siswa SMP–SMA, mahasiswa, dosen, hingga peneliti. Yang dari Indonesia, total ada 70 tim yang turut serta, termasuk dari FKp UNAIR.

Seusai mendapatkan perak di Seoul, ungkap Teguh, timnya berencana mengembangkan inovasi tersebut. Lebih tepatnya menelurkan inovasi baru untuk diikutkan lomba di tingkat internasional lainnya.

”Dan, yang terpenting dari usaha kami ini adalah mengembangkan diri serta membawa nama baik Universitas Airlangga di tingkat Internasional,” tuturnya. (*)

Penulis:  Feri Fenoria/ Dwi Saputro




PROF. Gramae Drummond Smith RN. BA FEANS Phd dari University of Edunburg, Skotlandia, saat memberikan paparan dalam ”Workshop Reworking Manustcript For Publication” di ruang Rapat Pimpinan 2, Fakultas Keperawatan, Universitas Airlangga pada Kamis (6/12). (Foto: Khefti Al Mawalia)

Galakkan Publikasi, FKp Hadirkan Profesor University of Edinburgh, Skotlandia

UNAIR NEWS – Publikasi ilmiah jurnal internasional menjadi peluang mendapatkan penghargaan dan membangun kerja sama universitas dalam dan luar negeri. Aturan Permenpan No 46/2013 dan Permenpan No 17/2013 bagi para Dosen, Lektor Kepala dan Guru Besar menjadi suatu kewajiban yang harus dipenuhi untuk menunjukkan reputasi dan kontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan. Hal itu juga sejalan dengan salah satu tri dharma perguruan tinggi, yakni penelitian.

Tuntutan publikasi yang diterapkan di Perguruan Tinggi memberikan dampak yang cukup besar dengan meningkatnya kesadaran para dosen dalam melakukan kajian dan penelitian karya ilmiah. Dosen mejadi semakin aktif dan produktif untuk menulis karya ilmiah pada tingkat nasional dan internasional bereputasi.

Menuju perguruan tinggi tingkat kelas dunia, Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Airlangga berbenah diri dengan menggelar ”Workshop Reworking Manustcript For Publication” dalam rangkaian acara Adjunct Professor. Kali ini Wakil Rektor III Universitas Airlangga Prof. Mochammad Amin Alamsjah, Ir., M.Si., Ph.D, Ir., M.Si., Ph.D., menerima kedatangan Prof. Gramae Drummond Smith RN. BA FEANS Phd dari University of Edinburgh. Bertempat di ruang Rapat Pimpinan 2 Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Kamis (6/12).

Dalam sambutannya, Prof. Mochammad Amin Alamsjah, Ir., M.Si., Ph.D, menyatakan, kolaborasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan reputasi jurnal Universitas Airlangga.

”Kegiatan ini sebagai suatu inisiasi untuk menjalin kerja sama dalam meningkatkan kolaborasi research dan publikasi internasional untuk mendukung Universitas Airlangga menuju top 500 World Class University,”ungkapnya.

Sementara itu, Prof. Gramae Drummond Smith RN. BA FEANS Ph.D dari University of Edunburg dalam workshop tersebut memberikan beberapa acuan cara menulis dan mempublikasikan jurnal internasional untuk memperoleh peninjau.

”Ada banyak orang bisa bahasa Inggris, tapi tidak semua orang bisa menulis bahasa Inggris, khususnya tulisan ilmiah,” terang Prof Smith.

SESI foto bersama dalam ”Workshop Reworking Manustcript For Publication” di ruang Rapat Pimpinan 2, Fakultas Keperawatan, Universitas Airlangga pada Kamis (6/12). (Foto: Khefti Al Mawalia)
SESI foto bersama dalam ”Workshop Reworking Manustcript For Publication” di ruang Rapat Pimpinan 2, Fakultas Keperawatan, Universitas Airlangga pada Kamis (6/12). (Foto: Khefti Al Mawalia)

Kegiatan workshop kali ini menjadi starting point para dosen dalam membuka wawasan tentang publikasi jurnal internasional. Publikasi jurnal internasional bagi para dosen dalam satu tahun sekali memberikan keuntungan terbukanya peluang beasiswa dan tantangan dalam mencari peninjau. Hal itu menjadi sangat penting untuk menunjukkan bahwa dosen adalah pakar di bidangnya. (*)

 

Penulis: Khefti Al Mawalia

Editor: Feri Fenoria Rifa’i




SESI tanya jawab oleh salah seorang peserta seminar. (Foto: Ruli Maulana)

Seminar Nasional Keperawatan Kupas Tuntas Hadapi Era Disruption

 UNAIR NEWSDisruptive innovation (disruption) merupakan fenomena pergeseran era analog ke era digital. Di mana inovasi-inovasi digital diciptakan untuk mempermudah manusia memenuhi kebutuhannya. Dalam era disruption, kita harus senantiasa memosisikan diri  supaya mampu mengikuti perkembangan yang ada tanpa terjerumus dampak negatif era digital.

Pemahaman makna disruption sendiri harus matang, jangan sekali-kali dianggap remeh. Sebab, efek yang ditumbulkan bisa fatal. Contoh nyatanya bisa kita amati dari sedan biru (Bluebird).

Sebelumnya menguasai pangsa pasar transportasi di Indonesia. Sekitar 21.000 armada tersebar luas hampir di seluruh kota besar Indonesia. Namun dalam sekejap, hadirnya Gojek memporak-porandakan Bulebird yang sudah berdiri 46 tahun lalu. Sedan biru telah di-disruptive oleh si hijau yang hanya beroperasi melalui internet.

Era disruption tentu berdampak pada segala bidang, tak terkecuali bidang keperawatan. Dalam menghadapi tantangan itu, Magister Keperawatan UNAIR angkatan 11 menyelenggarakan Seminar Nasional Keperawatan yang bertema ”Peningkatan Kompetensi Perawat dalam Menghadapi Era Disruption” pada Sabtu (17/11) di Aula Kahuripan, Lantai 3, Gedung Manajemen UNAIR.

Seminar turut mengundang beberapa pembicara ahli seperti Wakil Rektor I UNAIR Prof. dr. Djoko Santoso, Ph.D., K-GH., FINASIM,. Dalam kesempatan tersebut, dia memaparkan materi terkait peran keperawatan dalam era disruption.

Menurut Prod. Djoko, disruption dalam pelayanan kesehatan dapat mengubah hubungan kepemilikan. Jika sebuah profesi tidak bisa berinovasi dan mempertahankan kompetensi, bisa jadi kompetensi tersebut diambil alih oleh profesi yang lain. Asuhan keperawatan yang dulunya fisik, sekarang menekankan pada need berupa emotional relationship.

”Kita harus pandai menyesuaikan diri dalam era disruption. Gelombang disrupsi ini membutuhkan masyarakat yang ahli membaca situasi. Masyarakat dituntut untuk berpengalaman dan cakap supaya tidak tertinggal,” tegasnya.

Prof. Djoko turut menambahkan bahwa pada era disruption, perawat harus menjelma menjadi tenaga kesehatan yang berbudi luhur, update keilmuan, menanamkan spiritual, emosional, dan kognitif. Pelayanan kesehatan kepada masyarakat harus bermartabat.

”Jangan terlalu terbenam dalam perkembangan teknologi informasi,” ujarnya.

Selain Prof Djoko, seminar itu menghadirkan delapan pembicara ahli dengan cakupan bahasan yang sama. Yakni, Prof. Dr. H Nursalam, M. Nurs.,(Hons) selaku dekan Fakultas Keperawatan (FKp); Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur; Dr. Kusnanto, S. Kp., M. Kes selaku wakil dekan I FKp; Ns. Rosa Dwi Sahati (direktur keperawatan RKZ Surabaya); Hidayat Arifin, S. Kep., Ns; Khadijah, S.Kep.,Ns; Herryanoor, S.Kep.,Ns; dan Toto Indarto, S.Kep.,Ns. (*)

 

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Feri Fenoria




Salah satu anak ketika dikhitan pada perayaan Hari Kesehatan Nasional yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keperawatan. (Foto: istimewa)

Hari Kesehatan Nasional, BEM FKp Adakan Khitan Massal

UNAIR NEWS – Dalam rangka merayakan Hari Kesehatan Nasional (HKN), Departemen Sosial Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Keperawatan (FKp) mengadakan khitan (sunat) massal.  Kegiatan tersebut bertempat di Fakultas Keperawatan UNAIR dan diikuti oleh sembilan anak di sekitar Universitas Airlangga.

Diwawancarai UNAIR NEWS pada Senin (12/11), Afita Nur Dwiyanti, koordinator kegiatan tersebut menuturkan bahwa kegiatan itu bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Khitan massal dipilih karena mengingat pentingnya berkhitan dan tidak sedikit warga Surabaya yang kurang mampu.

“Apabila khitan tidak dilakukan maka banyak infeksi kulit dan kelamin seperti herpes, chlamydia, syphilis, gonorrhea, dan masih banyak lagi,” tambahnya.

Mahasiswa Pendidikan Ners 2016 tersebut menambahkan, selain mengadakan khitan massal, BEM FKp juga mengadakan cek kesehatan gratis berupa cek tekanan darah dan pemeriksaan gula darah. Kegiatan tersebut diperuntukkan bagi warga bagi warga yang kurang mampu.

Afita sapaan akrabnya, mengatakan bahwa seharusnya HKN tersebut jatuh pada tanggal 12 November. Namun dikarenakan bertepatan pada hari Senin, maka khitan massal diadakan sebelum HKN. Afita juga menambahkan khitan massal tersebut diharapkan menambah kemeriahan serta memberi kesan tersendiri bagi mahasiswa dan masyarakat di Hari Kesehatan Nasional tersebut.

Awalnya kami bingung mau merayakan hari kesehatan ini dengan kegiatan apa, kami ingin mengadakan kegiatan yang benar-benar berkesan untuk seluruh panitia dan seluruh masyarakat atas Hari Kesehatan Nasional (HKN)  ini,  akhirnya tercetusnya sunnatan massal.

“Respon masyarakat sangat antusias saat tahu bahwa kami mengadakan kegiatan ini, banyak yang membantu kami  dalam mempublikasikan acara ini, terutama para RT di beberapa daerah di Surabaya,” ucapnya.

Dengan dilaksanakannya kegiatan tersebut Afita berharap masyarakat Indonesia bisa lebih peduli terhadap kesehatan diri sendiri. Masyarakat diharapkan sadar bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati.

“Untuk mahasiswa sendiri, harapannya, mereka menjadi lebih sadar kalau membantu itu jangan setengah-setengah. Memang berat, tetapi hasil dari kelelahan itu semua terbayar oleh senyum terima kasih dari masyarakat,” pungkasnya.

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Nuri Hermawan




2. SEJUMLAH delegasi AYIMUN 2018 Universitas Airlangga ketika selesai mengikuti Cultural Night. (Foto: Istimewa)

UNAIR Kirim Banyak Delegasi Ikuti Event Asia AYIMUN 2018

UNAIR NEWS – Mahasiswa UNAIR mendapatkan kesempatan mengikuti Asian International Model United Nations (AYIMUN). Bertempat di Prince Palace Hotel, Bangkok, Thailand, acara itu dilaksanakan pada awal November ini (3–6/11). Adalah Ferisya Kusuma Sari, mahasiswa Teknik Biomedik 2015, sebagai salah seorang pesertanya. Saat UNAIR NEWS berkesempatan menemuinya, Ferisya menyatakan bahwa acara tersebut banyak diikuti oleh mahasiswa UNAIR.

”Ada banyak dari UNAIR. Jadi, saya juga bertemu banyak teman se-almamater. Meski, memang dalam proses seleksi kami mendaftar secara individu,” terang Ica, sapaan akrab Ferisya Kusuma Sari di kampus.

Dari UNAIR, Ica menyebutkan beberapa nama yang ikut di AYIMUN. Di antaranya, Sayyid M. Quthb, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) 2016; Ahya Adristi Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) 2017; Talia Puspita Adianti Fakultas Keperawatan (FKp) 2016; Anisa Gita R Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) 2015; dan Hanifah Ayu Nandasari, alumnus Fakultas Hukum (FH) 2013.

 

BACA JUGA: Tiga Mahasiswa Farmasi Langganan Juarai Kompetisi Kefarmasian

 

Ica menuturkan, proses seleksi ada dua tahap. Yakni, web registration, kemudian dilanjutkan fill the form atau mengisi formulir pendaftaran. Yang diterima kemaudian akan mendapatkan Letter Of Acceptance (LoA).

”Dalam tahap formulir secara online, saya harus mengisi, selain identitas pribadi, tapi juga pengalaman yang pernah dilakukan dan beberapa macam esai,” tutur Ica.

Esai yang harus dimasukkan adalah tulisan yang menunjukkan bahwa kenapa pengisi harus dipilih menjadi delegasi. Termasuk menjelaskan skill yang dipunyai dan menerangkan apa yang akan dilakukan jika terpilih.

Setelah mendapatkan LoA, delegasi akan dibagi menjadi beberapa council (dewan) dan country. Di AYIMUN tersebut, ada beberapa jenis council seperti WHO, UNESCO, IMF, IMO, ILO, FAO, LC, dan CC. Setelah tahu mewakili council dan country, delegasi harus membuat positioning paper yang berisi tentang argumen mereka mengenai sebuah isu sesuai peran yang didapat.

1.DELEGASI AYIMUN 2018 ketika sedang membahas isu di meeting session. (Foto: Istimewa)
1. DELEGASI AYIMUN 2018 ketika sedang membahas isu di meeting session. (Foto: Istimewa)

Banyak kegiatan yang dilakukan di sana dengan acara inti meeting session. Yakni, AYIMUN sendiri, kemudian ada city tour dan diakhiri dengan cultural night sekaligus closing ceremony.

”Acara inti, meeting session, dilakukan per-council dengan topik yang telah ditentukan. Diawali membahas isu umum hingga sub-sub topik dengan hasil akhir berupa Draft Resoultion,” katanya.

Ica mengungkapkan, bertemu dengan teman-teman dari berbagai negara adalah hal yang paling berkesan. Apalagi meski sesuai dengan namanya yang mencakup wilayah asia, ternyata ada delegasi dari Afrika, Amerika, bahkan Eropa.

”Mengikuti MUN adalah pengalaman yang luar biasa. Saya sendiri tidak menyangka ternyata sangat berkesan. Pada awalnya, saya tidak tahu apa-apa menjadi tahu banyak hal dan banyak lagi yang saya dapatkan,” tuturnya. (*)

 

Penulis: Hilmi Putra Pradana

Editor: Feri Fenoria




IBU-ibu PKK Kelurahan Pacarkembang mempersiapakan tanaman hidroponik dalam program pengabdian masayarakat dosen Fakultas Keerawatan Universitas Airlangg. (Foto: Fariz Ilham R.)

Dosen FKp UNAIR Kelola Lingkungan Pacar Kembang Lewat Urban Farming  

UNAIR NEWS – Pengembangan gerakan pertanian perkotaan, khususnya di Surabaya, masih perlu ditingkatkan. Salah satunya melalui Urban Farming. Hal itu dapat meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat lewat tanaman keluarga. Dr. Hanik Endang Nihayati, S.Kep, Ns, M.Kep, Dosen Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Airlangga, memberikan paparan mengenai kegiatan Urban Farming di RW 5 Kelurahan Pacar Kembang pada Minggu (9/9).

Kegiatan tersebut bertajuk ”Pengembangan Urban Farming bagi Kelompok PKK untuk Kelurahan Pacar Kembang Yang Hijau” yang dipelopori Departemen Kesehatan Jiwa dan Komunitas FKp UNAIR. Diikuti anggota PKK sejumlah 50 orang yang terdiri perwakilan 2–3 orang dari 20 RT setempat.

Urban Farming adalah konsep yang memanfaatkan pekarangan rumah dan lahan yang sempit dengan mengembangkan tanaman yang diprediksi dapat menjadi solusi dan penguatan ketahanan pangan. Urban Farming menjadi solusi penyediaan pangan sehat dan gaya hidup warga kota Surabaya.

Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka pengabdian masyarakat. Juga, dikembangkan melalui PKK agar dapat menularkan ilmu kepada anggota keluarga lain, terutama kepada anak-anak.

Dilakukan sejak April, kegiatan itu meliputi sosialisasi, uji coba, pelaksanaan, evaluasi, dan panen raya. Pada tahap pelaksanaan, dilakukan pelatihan anggota PKK agar mau menanam. Salah satunya dengan sistem hidroponik. Yakni, jenis budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah dengan menekankan pada kebutuhan nutrisi bagi tanaman.

Cara lainnya adalah menanam di pot-pot dari barang bekas seperti kaleng, botol, dan bak (timba). Anggota PKK merasa bahagia karena ketika menanam dibarengi dengan yel-yel, menyanyi dan berjoget bersama.

Atas pelaksanaan kegiatan tersebut, Dr. Hanik berharap gerakan tersebut mampu meningkatkan kemandirian sekaligus kesejahteraan masyarakat. Khususnya setiap keluarga mampu menghadirkan gizi makanan lewat tanaman di rumah. Dampak terbesarnya adalah lingkungan hijau dan asri.

”Selain itu, menjadikan Kelurahan Pacar Kembang sebagai Ikon Urban Farming di Surabaya,” ujarnya.

”Pada 2016, Kampung Pacar Kembang mendapat penghargaan Green And Clean Kategori pemula Se-Surabaya. Pada 2017, dari lomba yang sama mendapat kategori terinovatif berkembang. Dan diharapkan pada 2018 mengdapatkan kategori maju,” imbuhnya. (*)

Penulis: Faris Ilham R

Editor: Feri Fenoria Rifa’i