2. PENYERAHAN secara simbolis bibit pohon oleh Dosen Fakultas Keperawatan UNAIR kepada perwakilan warga RT 03 Kendang Sari. (Foto: Istimewa)

FKp UNAIR Ajak Masyarakat Kampung Pelangi Kendang Sari Kelola Sampah

UNAIR NEWS – Mahasiswa Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Airlangga angkatan 2015 mengajak masyarakat Kampung Pelangi Kendang Sari mengelola sampah melalui Bank Sampah. Ajakan tersebut diwujudkan mahasiswa FKp melalui kegiatan perkuliahan komunitas empat dengan mengangkat tema ”Pengolahan Sampah: Bank Sampah dan Penghijauan Lingkungan”.

Kegiatan yang menjadi bagian dari kuliah berbasis metode project based learning (PJBL) itu dilaksanakan oleh mahasiswa di Kendang Sari RT 3, RW 4, Surabaya. Tepatnya dilaksanakan selama dua kali, yaitu pada Minggu (9/12) dan Minggu (16/12).

Daerah tersebut merupakan wilayah binaan pengabdian masyarakat dosen Departemen Keperawatan Jiwa dan Komunitas FKp UNAIR yang saat ini dijuluki ”Kampung Pelangi”. Pelaksanaan kegiatan itu didasari fakta permasalahan banyaknya sampah dan masih kurangnya penghijauan lingkungan di wilayah itu.

Karena itu, mahasiswa, dosen, dan masyarakat sekitar bersama-sama untuk mengubah Kampung Pelangi menjadi lebih indah. Daerah tersebut memiliki jumlah produksi sampah yang cukup besar dan belum diolah, baik itu sampah organik maupun anorganik.

”Kami bermitra dengan Bank Sampah Surabaya untuk melakukan pengolahan sampah. Serta melakukan penyuluhan pada Minggu 9 Desember 2018 kepada ibu-ibu PKK di Kendang Sari. Harapannya akan terbentuk kader-kader bank sampah,” jelas Eri Retno, mahasiswa FKp UNAIR.

Masyarakat juga diajari tentang pemanfaatan sampah organik, terutama limbah rumah tangga untuk dijadikan pupuk organik dengan menggunakan tong komposter. Di sisi lain, sampah organik dipilah kembali untuk dijual di bank sampah.

Cara tersebut sangat efektif untuk mengurangi volume sampah di kawasan tersebut. Ibu-ibu begitu antusias dengan acara itu. Terbukti banyak ibu yang bertanya saat materi penyuluhan tengah diberikan.

Pada hari berikutnya, Minggu (16/12), diadakan kegiatan penanaman tanaman yang bermitra dengan Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau Surabaya untuk mendapatkan tanaman hias, pupuk, serta tong komposter. Sebelum acara dimulai, dilakukan acara pemberian tanaman, kompos, dan tong komposter dari mahasiswa serta dosen kepada ketua RT 3 Kendang Sari secara simbolis. Berikutnya, digelar penanaman tumbuhan bersama dengan masyarakat sekitar.

”Semoga kegiatan ini dapat bermanfaat serta Kampung Pelangi dapat benar-benar terwujud. Bukan hanya isinya yang berwarna-warni, tapi lingkungannya juga hijau dan terhindar dari permasalahan sampah,” pungkasnya. (*)

 

Penulis: Wiwik Yuni Eryanti Ningrum

Editor: Feri Fenoria




SEBANYAK 89 Perawat FKP UNAIR Kembali Dilantik di Airlangga Convention Center, Selasa (18/12). (Foto: Istimewa)

FKP UNAIR Kembali Lantik 89 Perawat

UNAIR NEWS – ”Perawat harus berperan aktif sebagai agent of change menghadapi MEA. Perawat harus mempunyai keberanian untuk berbuat dan berubah lebih baik lagi dengan meningkatkan mutu pelayanan dan meningkatkan nasib profesi keperawatan”. Motivasi itu disampaikan oleh Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Prof. Dr. Nursalam, M. Nurs (Hons), saat memberikan sambutannya pada Pelantikan Keperawatan di Airlangga Convention Center, Selasa (18/12).

Hadir dalam acara tersebut Sekretaris Jendral Dewan Pimpinan Wilayah Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Timur Misutarno, S. Kep., NS., M. Kep yang sekaligus melantik 89 perawat baru dari jalur alih jenis (D3 ke S1). Prof. Nursalam menuturkan, hari ini adalah awal untuk mengabdikan diri kepada masyarakat. Perawat harus menunjukkan keunggulan dan profesionalitas lulusan Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga.

Today is the beginning of new day. You can use this day as you will. You can use it for something better and useful or you can use something useless”, pungkas Prof. Nursalam.

Kebahagiaan dan rasa haru juga meliputi ruangan tersebut. Prof Nursalam mengungkapkan rasa syukurnya atas keberhasilan Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga yang baru saja memperoleh akreditasi A pada Program Studi Profesi Keperawatan dan Program Studi Pendidikan Keperawatan. Terutama kepada para perawat yang baru dilantik. Dia mengimbau para perawat untuk turut serta berkiprah di lingkungan masyarakat mengikuti perkembangan zaman terlebih memasuki Mayarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

”Era kesejagatan MEA hendaknya dipersiapkan secara benar dan menyeluruh. Kompetensi yang harus dipersiapkan adalah ethic  and legal practice, professional nursing practice, leadership and management, education and research, professional and personal and quality development,” ujarnya.

”Ia juga memberikan ucapan selamat dan terima kasih. Harapannya, kepada para alumni agar terus menjalin komunikasi dan dukungan terhadap almamater serta memberikan masukan untuk terus membangun Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga menjadi lebih baik lagi,” tambahnya. (*)

 

Penulis: Khefti Al Mawalia

Editor: Feri Fenoria




EMPAT Mahasiswa berhasil meraih medali perak dalam kompetisi Seoul International Invention Fair (SIIF), Seoul, Korea Selatan, pada Kamis–Sabtu (6–8/12/2018). (Foto: Istimewa)

Tim UNAIR Raih Perak di Kompetisi Inovasi Internasional Seoul

UNAIR NEWS – Tiga mahasiswa Fakultas Keperawatan (FKp) serta satu mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga meraih medali perak dalam kompetisi Seoul International Invention Fair (SIIF), Seoul, Korea Selatan, pada Kamis–Sabtu (6–8/12/2018). SIIF merupakan kompetisi yang diselenggarakan oleh Korea Invention Promotion Association (KIPA).

Berawal dari adik kelasnya di keperawatan yang juga baru menang di ajang international di Jepang, informasi kompetisi tersebut diterima Teguh Dwi Saputro (ketua tim) dan Yenny. Selanjutnya, keduanya menelusuri informasi tersebut hingga akhirnya mengajak Fina dan Wildan sebagai tim untuk mengikuti lomba inovasi di Korea itu.

”Kami mengikuti lomba ini karena dorongan yang kuat dari impian kami yang sudah kami tulis dan belum tercoret sampai sekarang. Karena itu, meski kami sudah semester VII, tapi kami masih berusaha untuk mewujudkan hal itu. Yakni, menang di perlombaan tingkat internasional,” ungkap Teguh.

”Selain itu, kami berempat mempunyai impian untuk berperan penting dalam membawa nama baik Universitas Airlangga di tingkat internasional,” imbuhnya.

Akhirnya tim UNAIR berhasil meraih juara dengan mempresentasi inovasi bernama PINELICA (Pineapple Peel as Hair Care. Yakni, inovasi dengan memanfaatkan limbah kulit nanas sebagai gel yang dapat digunakan sebagai masker dan krim untuk mengatasi ketombe.

Tim PINELICA terdiri atas Teguh Dwi Saputro, mahasiswa FKp angkatan 2015, selaku ketua; Fina Ainur Rohmah, FKp angkatan 2015; Yenny P, FKp angkatan 2015; dan Wildani Abdala N, FISIP angkatan 2015. Dengan dibimbing Dr. Kusnanto., S.Kp., M.Kes, tim UNAIR mampu melewati tahap demi tahap dengan baik.

Teguh mengakui, timnya terbentuk saat pengumpulan abstrak H-1 akan ditutup. Tim juga sempat dihinggapi perasaan takut dan tidak yakin untuk mengikuti lomba inovasi tersebut. Mengingat, lomba inovasi Seoul International Invention Fair (SIIF), Seoul, Korea Selatan, digelar pada Desember, tak sedikit dana fakultas dipakai untuk kegiatan.

”Sempat pesimistis tidak mendapat pendanaan. Selain itu, pada jadwal itu, kami (mahasiswa, Red) musim UAS (ujian akhir semester), ada yang take home pula,” katanya.

Namun, tim akhirnya mampu melewati hambatan tersebut. Komitmen dan tekad yang kuat dari setiap anggota tim membuahkan hasil.

”Kami presentasi dengan topik PINELICA (Pineapple Peel as Hair Care. Nah, di sana, kami mempresentasikan secara oral di depan dua juri dari negara lain tentang bagaimana inovasi kami,” tutur Fina, salah seorang anggota tim.

”Bagaimana kami membuatnya (PINELICA), apa kelebihannya, bagaimana analisis SWOT-nya. Bagaimana future research-nya,” imbuh Wildan, salah seorang anggota tim yang lain.

Atas presentasi tersebut, delegasi UNAIR akhirnya mendapatkan medali perak. Menurut Teguh, ide awal inovasi timnya berasal dari banyaknya kulit nanas yang dibuang begitu saja sehingga menumpuk dan menjadi limbah. Padahal, kulit nanas mempunyai banyak kandungan yang bermanfaat bagi kesehatan rambut. Khususnya untuk mengatasi ketombe yang jadi masalah bagi manusia pada era modern saat ini.

”Kami berinovasi membuat sebuah gel dari ektrak kulit nanas yang dapat digunakan multifungsi. Yakni, dapat digunakan sebagai masker dan krim rambut dalam mengatasi ketombe yang tentu lebih praktis, ekonomis, aman, dan ramah lingkungan,” ungkapnya.

Diketahui, tim UNAIR bersaing dengan peserta dari total 606 invention dan 33 negara. Di antaranya, Arab Saudi, Taiwan, Thailand, Korea, Malaysia, Macau, Taiwan, dan Kroasia. Para pesertanya berasal dari latar belakang yang beragam, mulai siswa SMP–SMA, mahasiswa, dosen, hingga peneliti. Yang dari Indonesia, total ada 70 tim yang turut serta, termasuk dari FKp UNAIR.

Seusai mendapatkan perak di Seoul, ungkap Teguh, timnya berencana mengembangkan inovasi tersebut. Lebih tepatnya menelurkan inovasi baru untuk diikutkan lomba di tingkat internasional lainnya.

”Dan, yang terpenting dari usaha kami ini adalah mengembangkan diri serta membawa nama baik Universitas Airlangga di tingkat Internasional,” tuturnya. (*)

Penulis:  Feri Fenoria/ Dwi Saputro




PROF. Gramae Drummond Smith RN. BA FEANS Phd dari University of Edunburg, Skotlandia, saat memberikan paparan dalam ”Workshop Reworking Manustcript For Publication” di ruang Rapat Pimpinan 2, Fakultas Keperawatan, Universitas Airlangga pada Kamis (6/12). (Foto: Khefti Al Mawalia)

Galakkan Publikasi, FKp Hadirkan Profesor University of Edinburgh, Skotlandia

UNAIR NEWS – Publikasi ilmiah jurnal internasional menjadi peluang mendapatkan penghargaan dan membangun kerja sama universitas dalam dan luar negeri. Aturan Permenpan No 46/2013 dan Permenpan No 17/2013 bagi para Dosen, Lektor Kepala dan Guru Besar menjadi suatu kewajiban yang harus dipenuhi untuk menunjukkan reputasi dan kontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan. Hal itu juga sejalan dengan salah satu tri dharma perguruan tinggi, yakni penelitian.

Tuntutan publikasi yang diterapkan di Perguruan Tinggi memberikan dampak yang cukup besar dengan meningkatnya kesadaran para dosen dalam melakukan kajian dan penelitian karya ilmiah. Dosen mejadi semakin aktif dan produktif untuk menulis karya ilmiah pada tingkat nasional dan internasional bereputasi.

Menuju perguruan tinggi tingkat kelas dunia, Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Airlangga berbenah diri dengan menggelar ”Workshop Reworking Manustcript For Publication” dalam rangkaian acara Adjunct Professor. Kali ini Wakil Rektor III Universitas Airlangga Prof. Mochammad Amin Alamsjah, Ir., M.Si., Ph.D, Ir., M.Si., Ph.D., menerima kedatangan Prof. Gramae Drummond Smith RN. BA FEANS Phd dari University of Edinburgh. Bertempat di ruang Rapat Pimpinan 2 Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Kamis (6/12).

Dalam sambutannya, Prof. Mochammad Amin Alamsjah, Ir., M.Si., Ph.D, menyatakan, kolaborasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan reputasi jurnal Universitas Airlangga.

”Kegiatan ini sebagai suatu inisiasi untuk menjalin kerja sama dalam meningkatkan kolaborasi research dan publikasi internasional untuk mendukung Universitas Airlangga menuju top 500 World Class University,”ungkapnya.

Sementara itu, Prof. Gramae Drummond Smith RN. BA FEANS Ph.D dari University of Edunburg dalam workshop tersebut memberikan beberapa acuan cara menulis dan mempublikasikan jurnal internasional untuk memperoleh peninjau.

”Ada banyak orang bisa bahasa Inggris, tapi tidak semua orang bisa menulis bahasa Inggris, khususnya tulisan ilmiah,” terang Prof Smith.

SESI foto bersama dalam ”Workshop Reworking Manustcript For Publication” di ruang Rapat Pimpinan 2, Fakultas Keperawatan, Universitas Airlangga pada Kamis (6/12). (Foto: Khefti Al Mawalia)
SESI foto bersama dalam ”Workshop Reworking Manustcript For Publication” di ruang Rapat Pimpinan 2, Fakultas Keperawatan, Universitas Airlangga pada Kamis (6/12). (Foto: Khefti Al Mawalia)

Kegiatan workshop kali ini menjadi starting point para dosen dalam membuka wawasan tentang publikasi jurnal internasional. Publikasi jurnal internasional bagi para dosen dalam satu tahun sekali memberikan keuntungan terbukanya peluang beasiswa dan tantangan dalam mencari peninjau. Hal itu menjadi sangat penting untuk menunjukkan bahwa dosen adalah pakar di bidangnya. (*)

 

Penulis: Khefti Al Mawalia

Editor: Feri Fenoria Rifa’i




SESI tanya jawab oleh salah seorang peserta seminar. (Foto: Ruli Maulana)

Seminar Nasional Keperawatan Kupas Tuntas Hadapi Era Disruption

 UNAIR NEWSDisruptive innovation (disruption) merupakan fenomena pergeseran era analog ke era digital. Di mana inovasi-inovasi digital diciptakan untuk mempermudah manusia memenuhi kebutuhannya. Dalam era disruption, kita harus senantiasa memosisikan diri  supaya mampu mengikuti perkembangan yang ada tanpa terjerumus dampak negatif era digital.

Pemahaman makna disruption sendiri harus matang, jangan sekali-kali dianggap remeh. Sebab, efek yang ditumbulkan bisa fatal. Contoh nyatanya bisa kita amati dari sedan biru (Bluebird).

Sebelumnya menguasai pangsa pasar transportasi di Indonesia. Sekitar 21.000 armada tersebar luas hampir di seluruh kota besar Indonesia. Namun dalam sekejap, hadirnya Gojek memporak-porandakan Bulebird yang sudah berdiri 46 tahun lalu. Sedan biru telah di-disruptive oleh si hijau yang hanya beroperasi melalui internet.

Era disruption tentu berdampak pada segala bidang, tak terkecuali bidang keperawatan. Dalam menghadapi tantangan itu, Magister Keperawatan UNAIR angkatan 11 menyelenggarakan Seminar Nasional Keperawatan yang bertema ”Peningkatan Kompetensi Perawat dalam Menghadapi Era Disruption” pada Sabtu (17/11) di Aula Kahuripan, Lantai 3, Gedung Manajemen UNAIR.

Seminar turut mengundang beberapa pembicara ahli seperti Wakil Rektor I UNAIR Prof. dr. Djoko Santoso, Ph.D., K-GH., FINASIM,. Dalam kesempatan tersebut, dia memaparkan materi terkait peran keperawatan dalam era disruption.

Menurut Prod. Djoko, disruption dalam pelayanan kesehatan dapat mengubah hubungan kepemilikan. Jika sebuah profesi tidak bisa berinovasi dan mempertahankan kompetensi, bisa jadi kompetensi tersebut diambil alih oleh profesi yang lain. Asuhan keperawatan yang dulunya fisik, sekarang menekankan pada need berupa emotional relationship.

”Kita harus pandai menyesuaikan diri dalam era disruption. Gelombang disrupsi ini membutuhkan masyarakat yang ahli membaca situasi. Masyarakat dituntut untuk berpengalaman dan cakap supaya tidak tertinggal,” tegasnya.

Prof. Djoko turut menambahkan bahwa pada era disruption, perawat harus menjelma menjadi tenaga kesehatan yang berbudi luhur, update keilmuan, menanamkan spiritual, emosional, dan kognitif. Pelayanan kesehatan kepada masyarakat harus bermartabat.

”Jangan terlalu terbenam dalam perkembangan teknologi informasi,” ujarnya.

Selain Prof Djoko, seminar itu menghadirkan delapan pembicara ahli dengan cakupan bahasan yang sama. Yakni, Prof. Dr. H Nursalam, M. Nurs.,(Hons) selaku dekan Fakultas Keperawatan (FKp); Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur; Dr. Kusnanto, S. Kp., M. Kes selaku wakil dekan I FKp; Ns. Rosa Dwi Sahati (direktur keperawatan RKZ Surabaya); Hidayat Arifin, S. Kep., Ns; Khadijah, S.Kep.,Ns; Herryanoor, S.Kep.,Ns; dan Toto Indarto, S.Kep.,Ns. (*)

 

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Feri Fenoria




Salah satu anak ketika dikhitan pada perayaan Hari Kesehatan Nasional yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keperawatan. (Foto: istimewa)

Hari Kesehatan Nasional, BEM FKp Adakan Khitan Massal

UNAIR NEWS – Dalam rangka merayakan Hari Kesehatan Nasional (HKN), Departemen Sosial Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Keperawatan (FKp) mengadakan khitan (sunat) massal.  Kegiatan tersebut bertempat di Fakultas Keperawatan UNAIR dan diikuti oleh sembilan anak di sekitar Universitas Airlangga.

Diwawancarai UNAIR NEWS pada Senin (12/11), Afita Nur Dwiyanti, koordinator kegiatan tersebut menuturkan bahwa kegiatan itu bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Khitan massal dipilih karena mengingat pentingnya berkhitan dan tidak sedikit warga Surabaya yang kurang mampu.

“Apabila khitan tidak dilakukan maka banyak infeksi kulit dan kelamin seperti herpes, chlamydia, syphilis, gonorrhea, dan masih banyak lagi,” tambahnya.

Mahasiswa Pendidikan Ners 2016 tersebut menambahkan, selain mengadakan khitan massal, BEM FKp juga mengadakan cek kesehatan gratis berupa cek tekanan darah dan pemeriksaan gula darah. Kegiatan tersebut diperuntukkan bagi warga bagi warga yang kurang mampu.

Afita sapaan akrabnya, mengatakan bahwa seharusnya HKN tersebut jatuh pada tanggal 12 November. Namun dikarenakan bertepatan pada hari Senin, maka khitan massal diadakan sebelum HKN. Afita juga menambahkan khitan massal tersebut diharapkan menambah kemeriahan serta memberi kesan tersendiri bagi mahasiswa dan masyarakat di Hari Kesehatan Nasional tersebut.

Awalnya kami bingung mau merayakan hari kesehatan ini dengan kegiatan apa, kami ingin mengadakan kegiatan yang benar-benar berkesan untuk seluruh panitia dan seluruh masyarakat atas Hari Kesehatan Nasional (HKN)  ini,  akhirnya tercetusnya sunnatan massal.

“Respon masyarakat sangat antusias saat tahu bahwa kami mengadakan kegiatan ini, banyak yang membantu kami  dalam mempublikasikan acara ini, terutama para RT di beberapa daerah di Surabaya,” ucapnya.

Dengan dilaksanakannya kegiatan tersebut Afita berharap masyarakat Indonesia bisa lebih peduli terhadap kesehatan diri sendiri. Masyarakat diharapkan sadar bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati.

“Untuk mahasiswa sendiri, harapannya, mereka menjadi lebih sadar kalau membantu itu jangan setengah-setengah. Memang berat, tetapi hasil dari kelelahan itu semua terbayar oleh senyum terima kasih dari masyarakat,” pungkasnya.

Penulis: M. Najib Rahman

Editor: Nuri Hermawan




2. SEJUMLAH delegasi AYIMUN 2018 Universitas Airlangga ketika selesai mengikuti Cultural Night. (Foto: Istimewa)

UNAIR Kirim Banyak Delegasi Ikuti Event Asia AYIMUN 2018

UNAIR NEWS – Mahasiswa UNAIR mendapatkan kesempatan mengikuti Asian International Model United Nations (AYIMUN). Bertempat di Prince Palace Hotel, Bangkok, Thailand, acara itu dilaksanakan pada awal November ini (3–6/11). Adalah Ferisya Kusuma Sari, mahasiswa Teknik Biomedik 2015, sebagai salah seorang pesertanya. Saat UNAIR NEWS berkesempatan menemuinya, Ferisya menyatakan bahwa acara tersebut banyak diikuti oleh mahasiswa UNAIR.

”Ada banyak dari UNAIR. Jadi, saya juga bertemu banyak teman se-almamater. Meski, memang dalam proses seleksi kami mendaftar secara individu,” terang Ica, sapaan akrab Ferisya Kusuma Sari di kampus.

Dari UNAIR, Ica menyebutkan beberapa nama yang ikut di AYIMUN. Di antaranya, Sayyid M. Quthb, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) 2016; Ahya Adristi Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) 2017; Talia Puspita Adianti Fakultas Keperawatan (FKp) 2016; Anisa Gita R Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) 2015; dan Hanifah Ayu Nandasari, alumnus Fakultas Hukum (FH) 2013.

 

BACA JUGA: Tiga Mahasiswa Farmasi Langganan Juarai Kompetisi Kefarmasian

 

Ica menuturkan, proses seleksi ada dua tahap. Yakni, web registration, kemudian dilanjutkan fill the form atau mengisi formulir pendaftaran. Yang diterima kemaudian akan mendapatkan Letter Of Acceptance (LoA).

”Dalam tahap formulir secara online, saya harus mengisi, selain identitas pribadi, tapi juga pengalaman yang pernah dilakukan dan beberapa macam esai,” tutur Ica.

Esai yang harus dimasukkan adalah tulisan yang menunjukkan bahwa kenapa pengisi harus dipilih menjadi delegasi. Termasuk menjelaskan skill yang dipunyai dan menerangkan apa yang akan dilakukan jika terpilih.

Setelah mendapatkan LoA, delegasi akan dibagi menjadi beberapa council (dewan) dan country. Di AYIMUN tersebut, ada beberapa jenis council seperti WHO, UNESCO, IMF, IMO, ILO, FAO, LC, dan CC. Setelah tahu mewakili council dan country, delegasi harus membuat positioning paper yang berisi tentang argumen mereka mengenai sebuah isu sesuai peran yang didapat.

1.DELEGASI AYIMUN 2018 ketika sedang membahas isu di meeting session. (Foto: Istimewa)
1. DELEGASI AYIMUN 2018 ketika sedang membahas isu di meeting session. (Foto: Istimewa)

Banyak kegiatan yang dilakukan di sana dengan acara inti meeting session. Yakni, AYIMUN sendiri, kemudian ada city tour dan diakhiri dengan cultural night sekaligus closing ceremony.

”Acara inti, meeting session, dilakukan per-council dengan topik yang telah ditentukan. Diawali membahas isu umum hingga sub-sub topik dengan hasil akhir berupa Draft Resoultion,” katanya.

Ica mengungkapkan, bertemu dengan teman-teman dari berbagai negara adalah hal yang paling berkesan. Apalagi meski sesuai dengan namanya yang mencakup wilayah asia, ternyata ada delegasi dari Afrika, Amerika, bahkan Eropa.

”Mengikuti MUN adalah pengalaman yang luar biasa. Saya sendiri tidak menyangka ternyata sangat berkesan. Pada awalnya, saya tidak tahu apa-apa menjadi tahu banyak hal dan banyak lagi yang saya dapatkan,” tuturnya. (*)

 

Penulis: Hilmi Putra Pradana

Editor: Feri Fenoria




IBU-ibu PKK Kelurahan Pacarkembang mempersiapakan tanaman hidroponik dalam program pengabdian masayarakat dosen Fakultas Keerawatan Universitas Airlangg. (Foto: Fariz Ilham R.)

Dosen FKp UNAIR Kelola Lingkungan Pacar Kembang Lewat Urban Farming  

UNAIR NEWS – Pengembangan gerakan pertanian perkotaan, khususnya di Surabaya, masih perlu ditingkatkan. Salah satunya melalui Urban Farming. Hal itu dapat meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat lewat tanaman keluarga. Dr. Hanik Endang Nihayati, S.Kep, Ns, M.Kep, Dosen Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Airlangga, memberikan paparan mengenai kegiatan Urban Farming di RW 5 Kelurahan Pacar Kembang pada Minggu (9/9).

Kegiatan tersebut bertajuk ”Pengembangan Urban Farming bagi Kelompok PKK untuk Kelurahan Pacar Kembang Yang Hijau” yang dipelopori Departemen Kesehatan Jiwa dan Komunitas FKp UNAIR. Diikuti anggota PKK sejumlah 50 orang yang terdiri perwakilan 2–3 orang dari 20 RT setempat.

Urban Farming adalah konsep yang memanfaatkan pekarangan rumah dan lahan yang sempit dengan mengembangkan tanaman yang diprediksi dapat menjadi solusi dan penguatan ketahanan pangan. Urban Farming menjadi solusi penyediaan pangan sehat dan gaya hidup warga kota Surabaya.

Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka pengabdian masyarakat. Juga, dikembangkan melalui PKK agar dapat menularkan ilmu kepada anggota keluarga lain, terutama kepada anak-anak.

Dilakukan sejak April, kegiatan itu meliputi sosialisasi, uji coba, pelaksanaan, evaluasi, dan panen raya. Pada tahap pelaksanaan, dilakukan pelatihan anggota PKK agar mau menanam. Salah satunya dengan sistem hidroponik. Yakni, jenis budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah dengan menekankan pada kebutuhan nutrisi bagi tanaman.

Cara lainnya adalah menanam di pot-pot dari barang bekas seperti kaleng, botol, dan bak (timba). Anggota PKK merasa bahagia karena ketika menanam dibarengi dengan yel-yel, menyanyi dan berjoget bersama.

Atas pelaksanaan kegiatan tersebut, Dr. Hanik berharap gerakan tersebut mampu meningkatkan kemandirian sekaligus kesejahteraan masyarakat. Khususnya setiap keluarga mampu menghadirkan gizi makanan lewat tanaman di rumah. Dampak terbesarnya adalah lingkungan hijau dan asri.

”Selain itu, menjadikan Kelurahan Pacar Kembang sebagai Ikon Urban Farming di Surabaya,” ujarnya.

”Pada 2016, Kampung Pacar Kembang mendapat penghargaan Green And Clean Kategori pemula Se-Surabaya. Pada 2017, dari lomba yang sama mendapat kategori terinovatif berkembang. Dan diharapkan pada 2018 mengdapatkan kategori maju,” imbuhnya. (*)

Penulis: Faris Ilham R

Editor: Feri Fenoria Rifa’i




KEPALA Program Studi (KPS) S2 Keperawatan UNAIR Dr. Tintin Sukartini, S.Kp., M.Kes. memberikan sosialisasi pencegahan Tuberculosis di hadapan 22 kader kesehatan Puskesmas Tanah Kalikedinding Surabaya. (Foto: Fariz Ilham)

FKP UNAIR Latih Kader Cegah TB di Surabaya

UNAIR NEWSDari data World Health Organization (WHO), pada 2016, terdapat 1.020.000 pengidap Tuberculosis (TB) di Indonesia. Angka itu menjadikan Indonesia berada di peringkat kedua kasus TB terbanyak di dunia setelah India.

Beragam upaya dari ahli kesehatan pun dilakukan untuk menanggulangi masalah tersebut. Salah satunya adalah tindakan preventif (pencegahan) yang dilakukan Program Studi (Prodi) Magister Fakultas Keperawatan (FKp) UNAIR di Puskesmas Tanah Kali Kalikedinding (Takal) Surabaya pada Sabtu (1/9).

Kegiatan pengabdian masyarakat yang dibiayai Kemristekdikti itu mengusung tema “Penanggulangan Tuberculosis (TB) Menggunakan Model Interaksi Guna Mencegah kejadian Drop Out (DO) di Surabaya”. Materi tersebut disampaikan tiga pembicara. Yakni, Dr. Tintin Sukartini, S.Kp., M.Kes.; Laili Hidayati, S.Kep., Ns, M.Kep.; dan Ika Nur Pratiwi, S.Kep., Ns. M.Kep. khususnya ditujukan kepada 22 kader kesehatan di sekitar Tanah Kalikedinding

Menurut Dr. Tintin, materi itu berkenaan dengan sistem interaksi kader dan pasien dalam mencegah kejadian drop out TB. hal tersebut disebabkan Surabaya adalah kota yang mempunyai jumlah penderita yang terbanyak di Jawa Timur.

”Masih ada banyak jumlah penderita TB di Surabaya. Khususnya di Tanah Kalikedinding. Meski tingkat kesembuhan TB sebesar 91 persen di Surabaya, namun tantangan terbesar kita pada masa depan adalah 2050. Indonesia harus bebas TB. Jadi, angka 91 persen belum angka yang tinggi mencapai kepatuhan 100 persen,” jelas dosen yang mengagumi Florence Nighting Angley tersebut.

Lebih lanjut, dosen yang menjadi kepala program studi (KPS) S2 FKp UNAIR itu menyatakan bahwa pelatihan kader itu dilakukan supaya para ahli kesehatan bisa terus memantau kasus TB di Surabaya. ”Kita bisa berinteraksi dengan pasien. Supaya pasien bisa sembuh secara tuntas dan tidak menimbulkan penularan kepada masyarakat,” terangnya.

Harapan dari kegiatan itu adalah, tidak terjadi drop out TB dengan melatih kader lewat penyuluhan. Tujuannya, agen bisa menemukan kasus dan mendampingi pasien berobat masa penyembuham  selama kurang lebih enam bulan. (*)

 

Penulis: Fariz Ilham Rosyidi

Editor: Feri Fenoria Rifa’i




SEBANYAK 118 Ners Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga dilantik pada Selasa (28/8) di Airlangga Convention Center (ACC), Kampus C. (Foto: Feri Fenoria Rifa’i)

Tiga Pesan Dekan FKp kepada 118 Ners Periode Agustus 2018

UNAIR NEWS – Tiga pesan penting Dekan Fakultas Keperawatan (FKp) Universitas Airlangga Prof., Dr., Nursalam M.Nurs (Hons) mengantarkan 118 Ners melepas status mahasiswanya pada Selasa (28/8). Bertempat di Airlangga Convention Center (ACC), para Ners dilantik dekan FKp di hadapan jajaran pimpinan UNAIR dan instansi terkait serta para orang tua.

Prof., Dr., Nursalam menekankan tiga hal penting kepada para Ners yang dilantik. Terutama ditujukan untuk menghadapi terjun di dunia nyata dengan berbagai permasalahan yang telah menanti. Prof. Dr. Nursalam menyebutnya dengan tiga kata. Yakni, S, N, dan S.

”Saya berpesan kepada seluruh Ners yang dilantik hari ini tiga hal penting. Yakni, SNS. Bukan sms ya, tapi SNS,” ujarnya saat memberikan sambutan.

Jadi, untuk memenangkan persaingan, lanjut Prof. Dr. Nursalam, yang pertama dilakukan adalah S. Yakni, self reformation. Para ners, termasuk seluruh mahasiswa aktif, harus melakukan reformasi diri. Artinya, mau meninjau atau melihat diri sendiri, juga mau memperbaiki diri sendiri.

”Yang kompetensinya kurang, ya berarti harus mau belajar. Yang kurang bahasa Inggrisnya, harus meningkatkan pembelajaran bahasa Inggrisnya,” ujarnya.

”Termasuk aspek intelektual, aspek interpersonal, maupun aspek teknikal itu harus dipelajari,” imbuhnya.

Prof. Nursalam menambahkan, lapangan kerja seiring perjalanan waktu membutuhkan spesialisasi. Pada era perkembangan teknologi yang cepat seperti saat ini, lanjut dia, mungkin akan ada layanan kesehatan berbasis teknologi.

”Yang ada dalam layanan nanti ada tiga. Di antaranya, ICU dan gawat darurat,” sebutnya.

Untuk rawat inap dan rawat jalan, menurut Prof. Nursalam, orang akan cenderung di rumah. Karena itu, diharapkan nanti ada layanan Go Care. Jadi, bila ada keluhan atau sakit, layanan kesehatan akan datang.

”Jadi, kemungkinan ke depan bakal menggunakan sistem semacam itu. Jadi, jangan terlalu terjebak pada kotak PNS. Tapi kalau bisa mengkreasikan sebuah pekerjaan,” ujarnya.

Pesan yang kedua adalah N, yaitu networking. Hal tersebut, sebut Prof. Nursalam, berkenaan dengan hubungan atau jaringan. Para Ners harus mampu membangun sebuah jaringan yang baik dengan siapa pun. Terutama antar-Ners itu sendiri. Termasuk dengan mitra, alumni, dan teman dari luar negeri.

”Jadi, sangat penting dibangun jejaring. Semuanya itu dibutuhkan sebuah bangun kerja sama,” katanya.

Pesan yang terakhir adalah spirit, yaitu spirit fighting. Yakni, memiliki semangat adaptif dan semangat pantang berputus asa, berjuang. Prof. Nursalam mengingatkan akan kebutuhan tenaga kesehatan terus yang mengalami peningkatan.

Namun, yang menjadi penting bukan hanya banyaknya peluang. Kesiapan Ners dalam kemampuan mengarungi persaingan juga menjadi nilai yang tidak kalah penting. Termasuk para Ners diharapkan melihat keterbukaan akses informasi untuk berkiprah di dunia internasional.

Sementara itu, mewakili rektor UNAIR, Junaidi Khotib, S.Si., M.Kes., Ph.D., Apt., mengingatkan para Ners terhadap moto UNAIR, Excellence with Morality. Hal itu mesti menjadi bagian dalam setiap langkah lulusan berkiprah pasca kehidupan kampus. Yakni, mahasiswa, termasuk alumnus, tetap harus mengedepankan keunggulan disertai dengan nilai moralitas.

”Janji dan sumpah yang baru diucapkan diharapakan bukan sekadar menjadi prosesi semata. Tapi, bena-benar dari hati. Selamat kepada para Ners. Selamat berbakti dan mengabdi kepada bumi pertiwi,” tuturnya.

Perlu diketahui, pelantikan tersebut juga dihadiri sejumlah pimpinan kampus sekitar UNAIR. Misalnya, pimpinan UNUSA, UMS (Universitas Muhammadiyah Surabaya), dan STIKES Hang tuah. Termasuk dari Rumah sakit Angkatan Laut (RSAL) Dr Ramelan dan beberapa intansi terkait.

Hadir pula Ketua Dewan Pimpinan Pusat Harif Fadhillah, S.Kp., S.H., M.Kep., M.H., yang turut memberikan sambutan. Juga, Prof Djoko Dewantoro,Drs.,M.Si.,Ak, wakil Direktur Keuangan dan Sumberdaya Manusia Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA). (*)

Penulis: Feri Fenoria Rifa’i