Pemanfaatan Kunyit sebagai Antibakteri pada Material untuk Penanganan Adhesi Intraperitonial

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber: Chilibeli

Adhesi intraperitonial merupakan suatu komplikasi yang timbul pada umumnya pasca operasi pada daerah perut seperti operasi usus besar, usus buntu, dan lainnya. Adhesi intraperitonial memiliki kemungkinan muncul yang tinggi hingga 67% – 93% pasca operasi daerah perut umumnya. Adhesi mulai terjadi tiga hari setelah operasi dilakukan yang meliputi inflamasi, pertumbuhan fibroblast, dan neovascularization.

Pada umumnya, adhesi intraperitonial dimulai dengan inflamasi yang diikuti dengan proses penutupan luka yang terjadi secara lisis. Jika proses penutupan luka secara fibrinolysis tidak terjadi hingga 5 hari, maka matriks fibrin akan dibentuk dari fibroblast dan bisa menghasilkan kolagen. Hasilnya, terjadi adhesi intraperitonial dan tumbuh pembuluh darah baru pada area tersebut. Beberapa peneliti mengembangkan hidrogel sebagai penghalang dari munculnya adhesi intraperitonial karena hidrogel dianggap menyerupai Matriks Ekstraselular (Extracellular Matrix/ECM).

Penelitian sebelumnya tidak membahas hidrogel sebagai penghalang untuk mencegah adhesi intraperitonial dengan komponen anti bakteri. Hal ini diperlukan karena infeksi akan menimbulkan inflamasi pada bagian peritonial perut dan mengganggu proses fibrinolysis pada area tersebut. Berangkat dari permasalahan tersebut, Widiyanti et al memanfaatkan partikel silver nanoparticles sebagai agen anti bakteri pada hidrogel anti adhesi intraperitonial.

Silver nanoparticles dapat ditemukan dari hasil sintesis AgNO3. Terdapat berbagai tanaman dan biosintesis untuk mendapatkan silver nanoparticles. Metode green synthesis yaitu pembuatan silver nanoparticles dari tanaman hijau dilaporkan memiliki efektivitas tertinggi karena membutuhkan waktu reaksi yang singkat dan biaya yang minim. Curcuma longa biosynthesis product atau ekstrak kunyit menjadi kandidat dari sintesis produk antibacterial nano-silver (AgNPs).

Antibacterial nano-silver (AgNPs) didapatkan dari air deionisasi yang dicampur dengan curcuma longa powder, kemudian larutan dipisahkan fasanya menggunakan centrifuge selama 10 menit untuk menghasilkan larutan kuning jernih. Kemudian larutan tersebut diproses dengan AgNO3 dengan lima jenis variasi konsentrasi dan diaduk selama 24 jam pada lingkungan gelap. Hasil akhir AgNPs berupa larutan kuning kecoklatan.

Pembuatan Hidrogel

Hidrogel dibuat dalam beberapa tahap. Pertama-tama dilakukan persiapan larutan asam hialuronat dengan sodium metaperiodate (NaIO4­­) yang menghasilkan larutan jernih dan sedikit kental. Larutan tersebut kemudian dibekukan hingga akan digunakan. Di sisi lain, dilakukan persiapan kitosan dengan pencampuran chitosan BB powder dengan isopropyl alcohol. Larutan tersebut kemudian ditambah NaOH dan asam kloroasetat dan diaduk selama tiga jam. Larutan kemudian disaring dan diambil padatan dari penyaringan tersebut yang telah bebas kitosan. Padatan kemudian dimurnikan dengan metanol dan alkohol dan dibekukan.

Pembentukan fasa hidrogel dilakukan dengan mencampur asam hialuronat dengan kitosan dalam rasio 30:10 mg/ml. Sampel kering dari asam hialuronat dilarutkan dengan saline pada konsentrasi 30 mg/ml dan kitosan kering dilarutkan dengan saline pada konsentrasi 10 mg/ml. Campuran tersebut kemudian menghasilkan larutan homogen dan memiliki struktur seperti gel.

Karakteristik Hidrogel

Dilakukan beberapa uji untuk mengetahui karakteristik dari hidrogel yang dihasilkan. Hidrogel yang berfungsi sebagai pembatas fisis untuk mencegah adhesi intraperitonial akan diinjeksi pada area yang memerlukan, hingga hidrogel ini disebut Injectable Hydrogel. Hidrogel cair akan menutupi luka dengan struktur kompleks dan menjadi penghalang luka agar tidak bersentuhan dengan permukaan bagian organ lain.

Pada perspektif laju degradasi, hidrogel berbasis asam hialuronat memiliki kelemahan yaitu laju degradasi yang tinggi sehingga efektivitas dari hidrogel untuk mencegah adhesi menurun. Diketahui bahwa penambahan kitosan dapat mengurangi laju degradasi dari hidrogel dalam tubuh. Pengujian kedua yaitu X-Rays Diffraction (XRD) menunjukkan bahwa AgNPs yang telah dibuat memiliki karakter kristalinitas yang tinggi yang berkontribusi pada tingginya kekuatan antibakteri dari AgNPs yang telah dibuat. Pengujian menggunakan Particle Size Analyzer (PSA) menunjukkan bahwa semakin tinggi AgNO3 yang digunakan, berkontribusi pada semakin besarnya ukuran partikel.

Pengujian selanjutnya berupa uji swelling menunjukkan bahwa semaking tinggi konsentrasi AgNO3, semakin tinggi juga AgNPs dihasilkan dan rasio swelling pun semakin tinggi. Hal itu terjadi karena penambahan silver metal yield dapat meningkatkan porositas dan kekosongan ruang antar partikel sehingga air dapat lebih banyak terserap oleh hidrogel. Pengujian terakhir berupa uji antibakteri menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi AgNO3 meningkatkan karakter anti bakteri dari hidrogel.

Dari penelitian yang telah dilakukan, didapatkan komposisi optimal dari AgNO3 yang dapat digunakan untuk membuat hidrogel berbasis asam hialuronat – kitosan/AgNPs yang diambil dari produk biosintetik curcuma longa sebagai agen pencegah adhesi intraperitonial sebesar 10­-3 M. Komposisi tersebut merupakan komposisi optimal yang dapat digunakan untuk mencegah adhesi intraperitonial sehingga pasien pasca operasi tidak perlu mendapatkan efek komplikasi tambahan.

Penulis: Prihartini Widiyanti

Artikel lengkapnya dapat dilihat pada link berikut ini:

http://www.jidmr.com/journal/wp-content/uploads/2020/09/64-M20_1104_Prihartini-Widiyanti_Indonesia.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu