Big Data dan Artificial Intelligence Solusi Pengembangan Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Dr. Raden Darmawan Setijanto, drg., saat menyampaikan orasi pengukuhan guru besar pada Rabu (21/10/20). (Foto: M. Alif Fauzan)

UNAIR NEWS – Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menyumbang guru besar melalui pengukuhan Prof. Dr. Raden Darmawan Setijanto, drg., Magister Kesehatan. Dikukuhkan pada Rabu (21/10/2020), guru besar dalam bidang Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat tersebut mengusung percepatan dan re-arsitektur pengembangan ilmu kesehatan gigi masyarakat melalui pemanfaatan big data, Artificial Intelligence (Al), serta machine learning.

Prof Darmawan dalam orasinya menyebut bahwa hingga kini perkembangan riset dan output dari ilmu kesehatan gigi masyarakat masih belum menunjukkan progres yang memuaskan. Pada karies gigi misalnya, di mana 67,3 persen anak usia 5 tahun di Indonesia masih mengalami burden disease tersebut dan hanya 10,2 persen di antaranya yang benar-benar mendapatkan penanganan dokter. Padahal, perkembangan kualitas riset, obat, vaksin, maupun lulusan kedokteran gigi terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Maka dari itu, guru besar aktif FKG ke-29 tersebut berargumen bahwa ilmu konvensional saat ini sudah terlalu mapan hingga akhirnya dibatasi dengan asumsi lokal yang kaku.

“Peluang pengembangan melalui teori konvensional pun menjadi terbatas. Selain itu, ilmu konvensional juga memiliki kemungkinan bias yang cukup tinggi karena pengelompokkan keilmuan dan asumsi statistika yang kurang akurat dan kurang adaptif,” papar lulusan S1, S2, dan S3 UNAIR tersebut.

Berkaca pada situasi pandemi serta kebutuhan akan riset yang cepat dalam penanganan aspek-aspek terkait epidemiologi, Prof Darmawan menyatakan bahwa riset kedokteran gigi perlu mendobrak teori-teori konvensional dan berbagai asumsi yang membatasi pengembangan ilmunya. Oleh karena itu ia mengusung pentingnya big data sebagai alat bantu peneliti yang lebih terstruktur, terencana, strategis, dan valid. Big data dalam praktiknya memberdayakan teknologi Al dan machine learning yang merupakan interkoneksi mesin-mesin serta komputer yang terhubung satu sama lain.

“Mereka mampu bereksperimen, berevolusi, serta meningkatkan pembelajaran mereka secara otomatis untuk membuat keputusan yang lebih akurat, inovatif, dan adaptif,” ungkap mantan Dekan FKG UNAIR tahun 2015-2020 tersebut.

Melalui teknologi Al dan machine learning, penelitian terhadap kesehatan gigi maupun epidemiologi mampu menghilangkan asumsi statistika dan bias. Ilmu dan penelitian yang awalnya berlaku lokal, akan lebih mudah menemukan generalisasi yang mendekati hasil nyata. Selain itu, teknologi tersebut mampu mempelajari bidang lintas batas serta ilmu yang berdasarkan emosional dan norma.

Maka berdasarkan risetnya yang bekerja sama dengan University of Western Australia, Prof Darmawan meyakini bahwa saat teknologi big data telah digunakan, teori berangka konsep lintas keilmuan mampu terwujud. Bahkan jika digunakan dalam konteks penanganan pandemi, big data secara khusus mampu mengidentifikasikan DNA spesifik maupun karakteristik normatif dan emosional kesehatan gigi tertentu yang mempengaruhi infeksi Covid-19. Sehingga melalui pemanfaatan teknologi tersebut, teori-teori baru mampu terbentuk tidak hanya bersifat lokal, namun juga mampu digeneralisasikan untuk berbagai kondisi.

Penulis: Intang Arifia

Editor: Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu