Mengenal Polycystic Ovary Syndrome (PCOS), Gangguan Hormon yang Seringkali Tak Disadari Perempuan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Dr. H. Budi Santoso, dr., Sp.OG., (K), Wakil Dekan II Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga yang juga dokter spesialis ginekologi dan onkologi. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Belakangan ini, sejumlah perempuan melalui laman media sosial, tampak membagikan pengalaman mengenai perubahan yang terjadi pada tubuh mereka. Ada yang mengaku mengalami siklus menstruasi tidak teratur, munculnya bulu serta jerawat dalam jumlah banyak, berat badan mudah naik, gangguan psikologis, bahkan sukar hamil.

Mengetahui hal tersebut, Dokter Spesialis Ginekologi dan Onkologi, Profesor Dr. H. Budi Santoso, dr., Sp.OG., (K), angkat bicara. Menurutnya, beberapa fenomena itu merupakan bagian dari sindroma ovarium polisistik (SOPK) atau lebih dikenal dengan istilah Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). Yakni, gangguan yang dialami oleh perempuan pada masa subur.

“Jadi, PCOS adalah kondisi dimana tubuh perempuan mengalami hormonal imbalance atau ketidakseimbangan hormon. Pada perempuan PCOS, produksi hormon androgen lebih dominan dibandingkan dengan estrogen. Tetapi, PCOS bukan termasuk dalam kategori penyakit, melainkan lebih kepada kumpulan gejala dari beberapa hal,” tuturnya.

Pria yang akrab disapa Prof. Bus ini mengatakan, apabila gambaran mengenai gejala polikistik telah dikenal sejak tahun 1721 melalui penelitian Antonio Vallisneri dan dua ginekologis asal Amerika pada 1935, yakni Irving Stein bersama Michael Leventhal. Sampai beberapa dekade lalu, masih belum jelas benar penyebab utamanya. Namun, seiring dengan perubahan zaman, pemahaman beserta penanganan PCOS pun ikut berkembang.

“Tapi perlu diingat bahwa PCOS berbeda dengan PCO. Biasanya, PCO muncul dalam bentuk kista ovarium serta umum terjadi pada perempuan. Meski gejalanya serupa, namun PCO tidak berbahaya dan seringkali hilang dengan sendirinya. Kalau PCO tersebut disertai dengan tumbuhnya bulu berlebih, gangguan menstruasi, gangguan infertilitas atau gangguan hormonal lainnya, maka kita sudah bisa mengatakan PCOS,” kata Prof. Bus.

Problem Reproduksi yang Dipengaruhi Lifestyle Perempuan

Ilustrasi perempuan. (Foto: Unsplash/Omar Lopez)

Menurut dokter yang juga Wakil Dekan II Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga ini, prevalensi perempuan PCOS cenderung mengalami peningkatan. Dalam jurnal tahun 90-an, ditemukan sekitar 4-6%. Kemudian, pada penelitian yang dilakukannya di Surabaya tahun 2007, Prof. Bus menemukan hasil sebesar 4,5%. Sementara penelitian lain sejumlah 8-12%. Bahkan, ada pihak yang mengklaim sebanyak 12-20% perempuan usia reproduktif.

“Meningkatnya prevalensi perempuan PCOS dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor. Belakangan ini, masyarakat cenderung untuk memiliki pola makan yang tidak seimbang serta mengonsumsi asupan kalori berlebih. Hal itu tidak diimbangi gerak atau olahraga secara rutin sehingga mengakibatkan tubuh menjadi obesitas,” terang Prof. Bus.

Obesitas dapat memicu penurunan kerja pada sel tubuh terhadap insulin dan membuat pangkreas memproduksi insulin lebih banyak lagi, sehingga tubuh mengalami resistensi insulin. Pada perempuan, tingginya kadar insulin dalam darah tubuh bisa menghambat pertumbuhan serta perkembangan folikel. Kondisi ini menghalangi proses pengeluaran oozit (ovulasi) yang kemudian mengakibatkan gangguan pada kesuburan atau infertilitas.

“Manifestasi dari terhambatnya ovulasi (anovulasi) adalah menstruasi yang tidak teratur dan dominasi hormon androgen pada tubuh perempuan. Padahal, androgen merupakan hormon yang umumnya dimiliki laki-laki. Oleh sebab itu, perempuan dengan PCOS akan menghadapi sejumlah gejala seperti hirsutisme, gangguan psikologis, menstruasi tidak teratur, binge eating disorder, hyperandrogenisme, hingga sukar hamil,” ungkap Prof. Bus.

Hampir 60% perempuan PCOS adalah mereka yang obesitas. Walaupun sebenarnya PCOS mempunyai dua tipe, yakni tipe obesitas dan slim. Tetapi, keduanya memiliki kondisi serta penanganan yang berbeda. Pada tipe obesitas, proses infertilitas berlangsung karena resistensi insulin, sementara tipe slim diakibatkan oleh tingginya luteinizing hormone (LH).

Diagnosis, Penanganan, dan Resiko Penderita PCOS

Ilustrasi perempuan melakukan olahraga. (Foto: Unsplash/Bruce Mars)

Dalam perkembangannya, ada tiga kelompok yang mengajukan kriteria diagnostik bagi penderita PCOS. Yakni, National Institutes of Health (NIH) asal Amerika Serikat, European Society for Human Reproduction and Embryology/American Society for Reproductive Medicine (ESHRE/ASRM) atau Rotterdam Criteria, dan Androgen Excess Society (AE-PCOS).

“Para ahli di Indonesia menggunakan Rotterdam Criteria untuk menegakkan diagnosa. Ada tiga kriteria yang terlihat pada perempuan dengan PCOS, yaitu gangguan menstruasi oligomenorrhea/amenorrhea, hyperandrogenisme, serta adanya sel telur kecil seperti roda pedati yang akan terlihat saat melakukan USG transvaginal. Kalau sudah tampak salah dua dari tiga kriteria, bisa dipastikan bahwa perempuan itu memiliki PCOS,” ujarnya.

Jika sudah menyadari gejala PCOS, seorang perempuan hendaknya segera melakukan pemeriksaan ke dokter guna memperoleh penanganan yang tepat. Sebab, pengobatan PCOS sangat memerlukan kedisiplinan dan ketelatenan. Meski begitu, Prof. Bus menegaskan bila upaya untuk meminimalisir dampak dari PCOS cukup mudah diterapkan.

“Kuncinya adalah menerapkan lifestyle yang lebih sehat. Pengobatan lini pertama ialah menurunkan badan bagi tipe obes sebanyak 10% dari berat badan awal juga menjaga pola makan. Selanjutnya, olahraga rutin. Dengan cara sederhana saja bisa membuat regulasi menstruasi teratur serta meningkatkan kesuburan. Memang tidak sembuh sepenuhnya, karena itu menjadi semacam lokus minoris perempuan. Tapi bisa dikendalikan,” tegasnya.

Selain itu, terdapat upaya pengobatan melalui pemberian sejumlah obat yang disesuaikan dengan keluhan. Apabila PCOS terdeteksi sejak perempuan berusia remaja, maka dokter akan memberikan obat yang berfungsi mengatur menstruasi. Yakni dengan metformin dan pil kb. Penggunaan metformin dianjurkan bagi PCOS tipe obesitas untuk mengobati resistensi insulin. Sementara pil kb diberikan kepada PCOS tipe slim guna menurunkan LH.

“Biasanya pemberian obat dilakukan selama 4-6 bulan sembari mengamati kondisi tubuh. Dahulu, masyarakat maupun apoteker sering salah kaprah terkait fungsi kedua obat itu. Butuh perjuangan khusus untuk menjelaskannya. Tetapi sekarang sudah paham. Karena jika tidak dilakukan justru dapat meningkatkan risiko penyakit lainnya,” imbuh Prof. Bus.

Penulis buku seri Panduan Kesehatan Reproduksi Wanita ini menambahkan, dalam perjalanannya, PCOS dapat menjadi problem jangka panjang bila tidak segera ditangani. Antara lain meningkatkan risiko penyakit diabetes mellitus, penyakit kardiovaskular, dyslipidemia, keganasan pada endometrium (hyperplasia), dan payudara (kanker/tumor).

“Kalau dari segi makanan, perempuan PCOS harus mengurangi konsumsi karbohidrat secukupnya, mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin D atau magnesium, hindari makanan olahan, serta perhatikan pola makan. Jadi, lifestyle yang dilakukan harus sehat dan disiplin, karena sebenarnya PCOS itu preventable desease,” pesan Prof Bus. (*)

Penulis: Nabila Amelia

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu