Knowledge Sharing, Upaya Pustakawan Bangun Komunikasi Efektif dengan Pemustaka

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
SEORANG perempuan mencari buku di perpusatakaan. (Foto: Istimewa)
SEORANG perempuan mencari buku di perpusatakaan. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Peningkatan kebutuhan informasi pengguna menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pustakawan untuk menyediakan layanan referensi terbaik bagi pemustaka. Salah satunya adalah dengan perilaku berbagi pengetahuan (knowledge sharing) sebagai upaya membangun komunikasi yang efektif. Perilaku berbagi pegetahuan merupakan proses di mana individu saling bertukar pengetahuan mereka dari tacit knowledge menjadi explicit knowledge (Gitanauli, 2010).

Tacit knowledge merupakan pengetahuan yang tidak dapat diekspresikan secara eksplisit, tetapi dapat menuntun perilaku manusia sebagai model mental, pengalaman, dan skill. Sementara explicit knowledge adalah pengetahuan yang dapat diekspresikan dalam media tertulis semisal buku, laporan, atau komunikasi verbal.

Dosen Ilmu Informasi dan Perpustakaan UNAIR Fitri Mutia, A.KS., M.Si menjelaskan bahwa perilaku berbagi pengetahuan penting dimiliki agar pustakawan dapat terus meningkatkan kualitas maupun kuantitas pengetahuan yang dimilikinya dalam mengelola institusi perpustakaan.

“Konsep knowledge sharing awalnya diimplementasikan pada organisasi yang berorientasi profit, namun sejak tahun 2012 mulai diterapkan pada organisasi yang berorientasi non profit salah satunya perpustakaan,” terangnya.

Hingga kini, lanjutnya, cukup banyak perpustakaan perguruan tinggi baik negeri maupun swasta, yang secara rutin menerapkan kegiatan berbagi pengetahuan karena telah merasakan manfaatnya. Melalui knowledge sharing pustakawan dapat mengidentifikasi berbagai kebutuhan informasi pegguna. Kegiatan knowledge sharing tidak hanya dilakukan dengan menjawab pertanyaan pemustaka dan selesai dengan mencarikan literatur di rak koleksi. Melainkan terdapat tindak lanjut dan penawaran jasa informasi lain yang dapat meningkatkan kerjasama perpustakaan dengan pegguna atau stakeholders.

“Misalnya, perpustakaan melaksanakan kegiatan sharing mengenai strategi layanan menggunakan media teknologi, maka hasil kegiatan berbagi informasi dari para staf yang mengikuti kegiatan tersebut baik berupa tacit atau explicit knowledge, dapat dipergunakan untuk meningkatkan kompetensi pustakawan dalam memberikan layanan melalui media teknologi agar lebih efektif,” papar Mutia.

Knowledge sharing perlu dibudayakan oleh pustakawan referensi untuk meningkatkan mutu layanan perpustakaan secara berkesinambungan.  Sebagai organisasi yang mengelola informasi dan pengetahuan, sudah seharusnya perpustakaan memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki oleh pegawainya secara maksimal untuk mencapai tujuan memajukan perpustakaan.

“Apabila pustakawan memiliki perilaku senang berbagi pengetahuan maka akan berpengaruh pada kualitas layanan yang diberikan kepada pemustakanya, dan tentu saja itu berkaitan pula dengan tingkat kepuasan pemustaka dalam memanfaatkan perpustakaan. Sehingga menjadi peluang untuk menambah jumlah pemustaka sekaligus mempertahankan pemustaka yang telah menjadi anggota,” ungkapnya.

Mutia menambahkan perilaku berbagi informasi bukan sekedar persoalan kemampuan, namun lebih pada persoalan kemauan. Sebab, tacit knowledge yang dimiliki seseorang tidak akan dapat diketahui orang lain apabila pengetahuan tersebut tidak dibagi.

“Apabila seorang karyawan tidak memiliki kemauan untuk berbagi pengetahuan, maka sebenarnya hal itu merugikan dirinya sendiri dan organisasi secara tidak langsung. Karena pengetahuan itu tidak seperti uang, yang apabila dibagi akan habis atau berkurang, sebaliknya semakin pengetahuan itu dibagi, maka akan semakin berkembang,” pungkasnya. (*)

Penulis: Zanna Afia

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu