Deteksi Infeksi Helicobacter Pylori Pada Lambung

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Sindo Weekly Magazine

Tidak banyak penderita yang sadar telah menderita infeksi Helicobacter pylori di dalam lambung mereka, karena memang tanda dan gejala yang ditimbulkan oleh Helicobacter pylori bersifat tidak tampak. Namun, jika tanda dan gejala sudah muncul, bisa mengarah kepada terjadinya sakit maag (gastritis) bahkan dapat memicu terjadinya kanker lambung. Gastritis adalah penyakit inflamasi pada dinding mukosa gaster. Dari sekian banyak penyebab, helicobacter pylori adalah penyebab mayoritas dari kasus gastritis. Tanda dan gejala yang muncul tidak dapat diremehkan, dokter harus segera melakukan pemeriksaan agar didapatkan hasil diagnosa yang akurat dan dapat diberikan pengobatan yang tepat. Namun, teknik pemeriksaan ada tidaknya helicobacter pylori ini beragam, dengan akurasi yang berbeda untuk setiap pemeriksaan.

Berbagai studi menemukan bahwa higiene buruk, perumahan yang padat, dan sanitasi yang kotor adalah salah satu faktor utama dalam penyebaran helicobacter pylori. Selain itu, status sosial dan ekonomi yang rendah, air yang tidak difilter serta rokok juga merupakan faktor resiko untuk infeksi helicobacter pylori yang dapat mengakibatkan gastritis. Prevalensi infeksi helicobacter pylori mencapai 50% di seluruh dunia dan merupakan salah satu bakteri yang paling umum menginfeksi populasi secara general. Infeksi helicobacter pylori lebih banyak terjadi pada mereka dengan status ekonomi rendah, pendidikan rendah, higiene yang buruk, tempat tinggal yang terlalu padat, serta jumlah saudara kandung yang banyak terutama jika tidur dalam satu kamar.

Helicobacter pylori merupakan bakteri gram-negatif yang memegang peran penting dalam gastritis khronis serta ulkus lambung. Selain berhubungan dengan gastritis khronis, infeksi Helicobacter pylori juga berperan dalam kanker lambung. Deteksi Helicobacter pylori dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung. Cara tidak langsung dilakukan dengan pemeriksaan serologi untuk mengetahui adanya antibodi anti-H.pylori dalam serum penderita atau dapat juga dilakukan dengan test urea pernapasan (urea breath test). Kelemahan dari metode tidak langsung adalah kurang spesifik oleh karena tidak dapat mendeteksi keberadaan bakteri tersebut. Deteksi secara langsung dilakukan dengan mengamati adanya kuman Helicobacter pylori pada jaringan biopsi gaster yang diperoleh dengan teknik endoskopi. Pemeriksaan ini memiliki akurasi yang tinggi oleh karena dapat mendeteksi keberadaan bakteri secara langsung.

Deteksi Helicobacter pylori pada jaringan biopsi lambung secara ideal dilakukan dengan melakukan kultur dari bahan aspirasi lambung, akan tetapi teknik ini tidak digunakan secara rutin oleh karena rumit dan memerlukan waktu pemeriksaan yang panjang. Deteksi bakteri pada jaringan biopsi lambung merupakan teknik standard yang digunakan secara rutin pada sentra pelayanan kesehatan. Teknik ini diakui memiliki akurasi yang tinggi sehingga pada beberapa sentra kesehatan dijadikan sebagai standard baku emas menggantikan kultur bakteri.

Deteksi Helicobacter pylori pada bahan biopsi lambung dilakukan dengan cara mengambil sedikit sampel jaringan lambung melalui alat endoskopi. Pada jaringan lambung tersebut dapat dilakukan pemeriksaan histopatologi. Pemeriksaan histopatologi saat ini merupakan baku emas untuk deteksi infeksi Helicobacter pylori dengan akurasi yang lebih tinggi dibandingan dengan teknik pemeriksaan non-invasif.

Pada pemeriksaan histopatologi dari bahan biopsi lambung dapat dilakukan dengan pewarnaan histokimia untuk melihat adanya kuman Helicobacter pylori secara langsung ataupun imunohistokimia untuk mendeteksi secara spesifik keberadaan kuman Helicobacter pylori. Pewarnaan histokimia yang banyak digunakan adalah pewarnaan modified-giemsa dan Whartin-Starry. Pewarnaan modified-giemsa lebih sederhana dengan biaya yang lebih murah, akan tetapi pewarnaan Whartin Starry terbukti lebih peka untuk mendeteksi keberadaan kuman Helicobacter pylori. Penulis telah melakukan penelitian dengan membandingkan hasil dari kedua jeis pewarnaan tersebut dan mendapatkan bahwa pewarnaan dengan reagen Whartin-Starry lebih sensitif untuk mendeteksi adanya kuman Helicobacter pylori pada jaringan biopsi lambung. 

Penulis: Dr. Willy Sandhika, dr., M.Si, SpPA(K)

Detail tulisan ini dapat dilihat di:

https://e-journal.unair.ac.id/IJTID/issue/view/1144/showToc

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu