Terapi Sel Punca untuk Mulut Kering Penyandang Diabetes Mellitus

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh CNNIndonesia

Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit progresif dan kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah. Prevalensi pasien DM di dunia adalah 8,8% dan di Indonesia adalah 6,2%. Defek kelenjar ludah adalah salah satu komplikasi DM di rongga mulut. Berdasarkan studi meta-analisis baru-baru ini, prevalensi global xerostomia pada pasien DM adalah 42,4%. Defek kelenjar ludah dapat menurunkan kualitas hidup pasien karena menyebabkan kesulitan dalam menelan, berbicara, mengunyah, dysgeusia, karies dan peningkatan akumulasi plak. Secara klinis, defek kelenjar ludah ditandai dengan penurunan volume sekresi ludah dan secara histologis ditandai oleh vakuolisasi sel asinar, yang merupakan tanda awal degenerasi sel. Saat ini, defek kelenjar ludah diobati dengan melakukan stimulasi saliva baik melalui reseptor oral menggunakan asam askorbat, stimulasi pengunyahan dengan mengunyah permen karet, dan dengan stimulasi farmakologis menggunakan pilocarpine. Namun, semua terapi ini menyebabkan berbagai komplikasi dan hanya bersifat sementara; Oleh karena itu, terapi definitif jangka panjang masih diperlukan.

Sel punca mesenkimal yang berasal Sumsum tulang(BMMSC) diharapkan sebagai solusi untuk masalah dalam berbagai kerusakan jaringan terkait dengan kapasitas regenerasi jaringan dengan berdiferensiasi menjadi berbagai garis sel keturunan mesenkimal, memiliki efek parakrin dan memiliki kapasitas imunomodulasi. Namun, isolasi BMMSC tergolong invasif. Human Dental Pulp Stem Cells (HDPSC) dianggap sebagai sumber sel punca mesenkimal yang lebih baik karena ekstraksi mereka kurang invasif daripada BMMSC, memiliki kemampuan pembaharuan diri, plastisitas yang lebih tinggi, dan proliferasi dibandingkan dengan BMMSC, serta memiliki pola ekspresi gen yang mirip , fenotip dan protein secara in vitro dengan BMMSC. DPSC diduga memiliki kapasitas regenerasi kelenjar ludah yang baik dengan menjadi komponen sel epitel (asinar) itu sendiri atau dengan menjadi komponen mesenchymal kelenjar ludah untuk menginduksi dan mendukung proses regenerasi kelenjar ludah. Oleh karena itu, terapi regeneratif berbasis sel induk diharapkan untuk menghasilkan jaringan pengganti yang dapat meniru struktur alami dan fungsi kelenjar ludah dan memberikan manfaat jangka panjang untuk defek kelenjar ludah.

Penelitian ini telah mendapatkan ijin penelitian dan telah sesuai dengan etik penelitian disetujui oleh komisi etik penelitian Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Airlangga.Sel punca diperoleh dari gigi geraham kecil permanen atau premolar dari donor pasien yang menjalani perawatan ortodonti. Sel punca dari pulpa gigi dikultur dan diperbanyak di pusat penelitian dan pengembangan sel punca Universitas Airlangga. Konfirmasi dan karaktersasi sel punca dari pulpa gigi manusia kemudian dilakukan analisis imunositokimia dengan petanda Cluster of Differentiation CD73, CD90, CD105 positid dan negative CD45 untuk mengkonfirmasi benar sel punca mesenkimal.

Pada penelitian ini menggunakan hewan coba tikus diabetes mellitus yang diinduksi menggunakan STZ. Gula darah hewan coba dicek pada hari ketujuh setelah induksi DM dan dinyatakan DM apabila memilki gula darah acak ≥ 200 mg / dL. Pada tikus yang menderita DM akan mengalami defek kelenjar saliva yang akan diamati pada penelitian ini yang dibagi menjadi kelompok kontrol dan perlakuan. Sel punca dari pulpa gigi manusia diinjeksikan pada kelompok perlakuan dengan dosis tunggal sebanyak 5.105sel/ 250g berat badan dalam 0.2mL PBS yang diinjeksikan secara intraglandular. Hewan coba kemudian dikorbankan pada hari ketujuh dan keempat belas setelah injeksi sel punca. Pada seluruh hewan coba kemudian dilakukan pengambilan kelenjar saliva submandibular untuk dilakukan pemeriksaan Histologi untuk mengecek vakuolisasi sel asiner dan ELISA untuk menganalisa kadar serum Interleukin-10 (IL-10). Data yang diperoleh kemudian dianalisa menggunakan analisa statistik Kruskal Wallis (p<0.05) berdasarkan hasiltes Shapiro- Wilk dan Levene’s (p>0.05), kemduain dilanjutkan dengan uji perbandingan ganda dengan tes Bonferroni test (p<0.05).

Setelah isolasi dan kultur, karakterisasi DPSC menggunakan imunositokimia dilakukan untuk menentukan penanda ekspresi MSC – CD73, CD90, CD105 (+) dan tidak mengekspresikan penanda HSC – CD45 (-). Vakuolisasi sel asinar tampak pada pewarnaan HE berwarna putih bulat dengan sel asinar batas yang jelas. Data vakuolisasi sel asinar yang diperoleh tidak homogen dan tidak berdistribusi normal (p <0.05). Vakuolisasi sel asinar tertinggi ditemukan pada kelompok kontrol hari ke-14 (0.239 ± 0.132), sedangkan vakuolisasi sel asinar terendah ditemukan pada kelompok perlakuan hari ke-7 (0.019 ± 0.035) dengan perbedaan yang signifikan (p = 0.003, p <0.05) (Tabel 1). Ada perbedaan yang signifikan antara kelompok K+ 14 dan K+ 7, P+ 7 dan K+ 14, P+ 14 dan K+ 14 (p <0,.05). Data kadar IL-10 serum yang diperoleh tidak homogen dan tidak terdistribusi normal (p <0.05) dengan perbedaan yang signifikan (p = 0.001, p <0.05). Tingkat serum IL-10 tertinggi ditemukan pada kelompok perlakuan pada hari ke-14 (175.583 ± 120.075), sedangkan tingkat serum IL-10 terendah ditemukan pada kelompok kontrol pada hari ke-7 (24.071 ± 9.316). Ada perbedaan yang signifikan antara kelompok (p = 0.001, p <0.05). Ada perbedaan yang signifikan antara K + 7 dan K + 14, K + 7 dan P + 14, P + 7 dan P + 14 kelompok (p <0.05).Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Transplantasi HDPSC mampu meregenerasi defek kelenjar ludah submandibula pada tikus diabetes dengan mengurangi vakuolisasi sel asinar dan sedikit meningkatkan kadar IL-10 serum.

Penulis:

Prof. Dr. Diah Savitri Ernawati, drg., M.Si., Sp.PM(K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di

http://revista.uepb.edu.br/index.php/pboci/article/view/5002/pdf

Tulisan kami dapat disitasi pada berikut ini:

Narmada IB, Laksono V, Nugraha AP, Ernawati DS, Winias S, Prahasanti C, Dinaryanti A, Susilowati H, Hendrianto E, Ihsan IS, Rantam FA. Regeneration of Salivary Gland Defects of Diabetic Wistar Rats Post Human Dental Pulp Stem Cells Intraglandular Transplantation on Acinar Cell Vacuolization and Interleukin-10 Serum Level. Pesquisa Brasileira em Odontopediatria e Clínica Integrada 2019; 19:e5002. DOI: http://doi.org/10.4034/PBOCI.2019.191.144. ISSN 1519-0501

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Berita Terkini

Laman Facebook

Artikel Populer
Close Menu