Biji Kurma Mampu Kurangi Mediator Peradangan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ilustrasi oleh liputan enam com
ilustrasi oleh liputan enam com

Tubuh manusia sangat rentan terhadap paparan eksternal antigen dari virus, bakteri, dan jamur (penyakit menular), serta dari pertumbuhan abnormal seperti tumor, dan sel-sel degeneratif. Penyakit degeneratif dan paparan mikroorganisme dapat menekan kekebalan. Kebiasaan diet, seperti konsumsi makanan cepat saji, juga dapat memicu penurunan sistem kekebalan tubuh. Beberapa penyakit infeksi dapat dicegah dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan mengurangi paparan senyawa beracun. Upaya ini termasuk penggunaan imunostimulan lokal. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan respon sistem kekebalan tubuh, misalnya penggunaan obat-obatan imunostimulan. Namun upaya ini tidak efektif karena banyak senyawa kimia dalam obat menimbulkan efek samping, sementara banyak obat-obatan juga memiliki efek imunosupresif atau menekan daya tahan tubuh. Oleh karena itu, terapi herbal dianggap sebagai solusi untuk masalah ini, khususnya penggunaan biji kurma jenis Phoenix dactylifera L. Biji kurma mengandung banyak senyawa fenolik dan antioksidan yang diyakini dapat merangsang sistem kekebalan tubuh. Asam klorogenik, pelargonin, dan asam ferulat yang ditemukan dalam kurma dapat secara signifikan mengurangi jumlah sel imunoglobulin E (IgE) dalam kejadian alergi.

Konsumsi kurma di Indonesia, sebagai negara Muslim terbesar di dunia sangat tinggi; namun, biji kurma biasanya dibuang. Biji kurma mengandung banyak senyawa aktif dalam bentuk antioksidan, seperti fenolat, yang dapat mengurangi kadar radikal bebas berdasarkan aktivitas anti-inflamasi dan imunostimulan. Diet kurma telah ditemukan untuk meningkatkan kinerja dan respons serta status antioksidan dari sistem kekebalan pada ayam broiler. Namun, penggunaan biji kurma untuk meningkatkan status kesehatan seseorang perlu diteliti lebih lanjut. Flavonoid dalam kurma meningkatkan kadar antioksidan dan meningkatkan profil lipid. Senyawa esensial dalam biji kurma dianggap berfungsi sebagai imunostimulan yang meningkatkan sistem kekebalan tubuh, meskipun mekanisme pasti dari imunostimulasi ini tidak jelas. Faktor nekrosis tumor (TNF-α), glutathione (GSH), dan gamma interferon (IFN-γ) diperlukan untuk pengikatan antigen dalam reaksi inflamasi atau peradangan. Oleh karena itu, kami melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengevaluasi efek biji kurma terhadap sistem kekebalan tubuh dengan uji coba pada tikus.

Penelitian ini memiliki desain eksperimental laboratorium dengan tes pra dan pasca dengan kelompok kontrol. Kurma yang digunakan berjenis Deglet nour (Phoenix dactylifera L.) yang diolah melalui tahap pencucian, pengeringan, pemanggangan dan dicacah menggunakan blender hingga menjadi bubuk halus. Tikus Wistar jantan, berusia sekitar 2-3 bulan dan memiliki berat mulai dari 150 hingga 200 g  digunakan dalam percobaan. Tikus-tikus tersebut diaklimatisasi selama satu minggu dan ditempatkan di kandang terpisah sesuai dengan kelompok eksperimen mereka. Semua hewan memiliki akses ke makanan dan air (ad libitum) dan siklus 12/12 jam (terang / gelap) dipertahankan. Semua percobaan hewan dilakukan berdasarkan protokol standar untuk studi hewan percobaan.

Tiga puluh tikus dilibatkan, dengan lima tikus per kelompok: kontrol negatif (NC), kontrol positif (PC), dosis perlakuan T1 1 g / kg, dosis perlakuan T3 3 g / kg, dosis pengobatan T5 5 g / kg, dan kontrol sehat (HC). Sebelum pengobatan, semua kelompok (kecuali untuk kelompok HC) menerima satu dosis CCl4. Sebanyak 1 g CCl4 diencerkan dengan 5 mL minyak zaitun dan kemudian diberikan kepada tikus dengan 2 mL / kg. Perawatan biji kurma diberikan selama 14 hari. Sebanyak 14 g (untuk T1), 42 g (untuk T3) dan 70 g (untuk T5) biji kurma bubuk dicampur dengan 42 mL air panas dan dibiarkan semalam. Campuran ini kemudian disaring, dan 3 mL campuran yang disaring diberikan ke setiap tikus setiap hari selama 14 hari. Kelompok PC menerima deksametason 0,5 mg / kg. GSH, TNF-α, dan IFN-γ, diperiksa oleh kit enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) (BTLaboratories, Shanghai) menurut protokol pabrikan, menggunakan mesin ELISA Reader (Labotrone, Jerman). Data yang didistribusikan secara normal dianalisis dengan menggunakan ANOVA diikuti oleh uji perbedaan terkecil post-hoc (LSD) untuk perbandingan antara nilai rata-rata dengan tingkat signifikan 5%.

Hasil riset ini menunjukkan bahwa induksi CCl4 menurunkan GSH dan IFN-γ danmeningkatkan TNF-α. Pemberian biji kurma meningkatkan GSH dan IFN-γ, tetapi menurunkan TNF-α. Temuan penelitian ini penting mengenai potensi penggunaan biji kurma sebagai senyawa anti-inflamasi. Penelitian ini akan membantu para peneliti di masa depan untuk menjelaskan mekanisme aksi di balik efek anti-inflamasi dari biji kurma.

Penulis: Ferry Efendi

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

http://www.herbmedpharmacol.com/Article/jhp-4316

Saryono, S., Taufik, A., Proverawati, A. and Efendi, F., 2019. Dietary supplementation of Phoenix dactylifera L. seeds decreases pro-inflammatory mediators in CCl4-induced rats. Journal of Herbmed Pharmacology, 8(3). doi: 10.15171/jhp.2019.31

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave a Replay

Close Menu