Prof Djoko Menyoal Ketahanan Kesehatan Era Milenial

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Djoko Santoso dr., Ph.D., Sp.PD.K-GH.FINASIM., saat memberikan paparan dalam Gelar Inovasi Guru Besar pada Kamis (13/11) di Aula Amerta, Lantai 4, Kantor Manajemen UNAIR. (Foto: Agus Irwanto)
Prof. Djoko Santoso dr., Ph.D., Sp.PD.K-GH.FINASIM., saat memberikan paparan dalam Gelar Inovasi Guru Besar pada Kamis (13/11) di Aula Amerta, Lantai 4, Kantor Manajemen UNAIR. (Foto: Agus Irwanto)

UNAIR NEWS – Era kekinian yang sering disebut sebagai era milenial dengan perkembangan teknologi yang pesat turut memunculkan problem di berbagai ranah bidang kehidupan. Salah satunya adalah bidang kesehatan.

Bahasan mengenai tantangan-tantangan yang harus dihadapi semua negara tampak begitu menarik. Misalnya, problem kesehatan yang dihadapi Indonesia selama 73 tahun Indonesia merdeka. Bukan berarti bernilai kurang, tapi optimalisasi bidang-bidang lainnya perlu dilakukan. Khususnya dalam mempersiapkan ketahanan kesehatan Indonesia.

Melihat tren ketahanan kesehatan itu, Prof. Djoko Santoso dr., Ph.D., Sp.PD.K-GH.FINASIM., mengakui bahwa kondisinya membaik, namun belum paripurna. Berdasar data, lanjut Prof. Djoko, angka harapan hidup masyarakat Indonesia antara 48 tahun dan 66 tahun. Di sisi lain, angka kematian bayi menurun dari 118 per seribu kelahiran (1970) ke 35 per seribu kelahiran (2003). Bahkan menjadi lebih baik menjadi 32 per seribu kelahiran (2006).

”Tapi yang dihadapi, kematian balita keluarga miskin empat kali lebih tinggi dibandingkan yang kaya,” ujar wakil rektor I UNAIR tersebut.

Menurut Prof. Djoko, terdapat problem juga yang harus dihadapi terkait dengan biaya dan disparitas layanan kesehatan. Misalnya, pengeluaran kesehatan yang harus dicukupi seseorang mencapai 75–80 persen biaya kesehatan. Total pengeluarannya lebih kecil jika dibandingkan dengan negara tetangga, yakni rata-rata mencapai USD 16 per orang per tahun (2001).

”Sebanyak 20 persen penduduk termiskin hanya menerima kurang dari 20 persen dari total subsidi kesehatan pemerintah,” sebutnya.

Karena itu, menurut Prof. Djoko, terdapat beberapa hal yang bisa dilakukan terkait dengan penanganan peningkatan kesehatan. Misalnya, mempromosikan kesehatan. Sebab, terdapat kecenderungan kebijakan yang dilakukan lebih kepada penanganan dibanding pencegahan. Promosi kesehatan menjadi sangat penting menekan banyaknya kebutuhan biaya yang selama ini harus dikeluarkan.

”Juga, mengurangi ketidaksetaraan, memperhatikan determinan: pekerjaan dan perumahan, memperhatikan kesehatan komunitas, pendidikan, gaya hidup atau pendidikan kesehatan, dan pengawasan penyakit tertentu,” ungkapnya.

Berikutnya, penanganannya adalah soal perbaikan layanan kesehatan. Yang menjadi perhatian, kata Prof. Djoko, adalah kebijakan dan rencana sistem kesehatan, kualitas dan standar, layanan kesehatan berbasis bukti, tata kelola klinik, efisiensi, serta audit dan evaluasi penelitian.

Prof Djoko juga menyinggung beberapa hal yang mesti dilakukan oleh perguruan tinggi dalam mendukung optimalisasi ketahanan kesehatan nasional. Yakni, perguruan tinggi mendorong mahasiswa melakukan penelitian bertema kesehatan untuk menemukan jalan komunitas sehat. Artinya, komunitas yang tidak rentan dari penyakit menular dan tidak menular.

”Termasuk juga meningkatkan kesadaran kesehatan melalui advokasi yang meng-impowering semua pihak agar lebih serius peduli terhadap perbaikan kesehatan bangsa,” tuturnya.

Pada akhir, Prof Djoko menekankan tentang pentingnya pendekatan kemanusiaan dalam mengoptimalkan ketahanan kesehatan agar mampu dicapai. Lebih tepatnya, orientasi kebijakan yang terkait dengan kesehatan itu mengacu pada pewujudan nilai kemanusiaan kepada seganap bangsa, tanpa mempertajam perbedaan-perbedaan.

”Pada akhirnya, masing-masing dari kita harus mengedepankan human being kita,” pungkasnya. (*)

 

Penulis: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu