Tiga sejoli dari Fakultas Farmasi usai Debat Nasional Kefarmasian Pharmacopeia di Universitas Padjajaran. (Foto: Istimewa)
Tiga sejoli dari Fakultas Farmasi usai Debat Nasional Kefarmasian Pharmacopeia di Universitas Padjajaran. (Foto: Istimewa)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Berkarya menjadi asupan nyata bagi pemuda Ksatria Airlangga. Tanpa berkarya akan hambar rasanya. Dengan percaya diri, bersungguh – sungguh mimpi akan tergapai dengan sebuah penghargaan. Kini, ksatria Airlangga Fakultas Farmasi mampu menghelat Juara 1 Debat Nasional Kefarmasian Pharmacopeia di Universitas Padjajaran, Bandung pada akhir pekan lalu.

Alhamdulillah bisa memberikan yang terbaik untuk Universitas Airlangga dengan menghelat berbagai kejuaran dalam ajang kefarmasian,” ujar Farah, Mahasiswa Farmasi 2015 saat ditemui UNAIR NEWS pada Rabu (07/11).

Dalam kompetisi itu, jelasnya, UNAIR mengirimkan delegasi yang terdiri dari Farah angakatan 2015, Dyoko Gumilang angkatan 2016, dan Tri Wahyudi angkatan 2017. Ketiganya mampu meraih penghargaan dan bekompetisi dengan 6 tim dari Universitas se – Indonesia. Diantaranya, Universitas Gajah Mada, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjajaran, Universitas Muhammadiyah  Dr. Hamka, dan Universitas Surabaya.

Selanjutnya, Farah menuturkan, dalam kompetisi itu melalui proses dengan berbagai macam babak. Pertama, dengan membuat essai yang dikumpulkan secara online. Babak debat, dengan pre-eliminary yg terdiri dari 2 chamber. Tim UNAIR pun main 2 kali dengan menggunakan sistem victory point. Lalu, tim UNAIR berhadapan dengan ITB dengan menggunakan sistim gugur, dan masuk babal final bertemu tim UGM.

“Kami mendapatkan kesmpatan memenangkan kedua Chamber dan keluar menjadi peringkat 1 untuk menuju ke semifinal,” tegasnya.

Tentunya, tim UNAIR pernah mengalami kesulitan dalam persiapan karena perbedaan angkatan yang menjadi sukar dalam mengatur jadwal. Sehingga pemecahan mosi hanya bisa dilaksanakan di kereta dan mendapatkan dukungan maupun masukan dari dosen melalui via WhatsApp.

“Dalam debat kami mengalami kesusahan dalam pemaparan mosi – mosi karena sangat teoritis (berfasis farmasi klinis) dan dituntut menjadi pihak pro dan kontra. Tetapi, semua bisa diambil sisi positif dan negatifsehingga pendapatbisa dijadikan satu. So, nothing is impossible,” tandasnya.

Tak hanya itu, Farah dan tim mengaku sering menghelat kejuaran beberapa minggu sebelum juara debat tersebut. Tercatat ia dan tim sempat menang meraih juara 2 lomba debat kefarmasian Nasional Pharmacious UGM, dan Juara 2 lomba debat kefarmasian Nasional Pharmacious UKWM.

Dibalik kemenangan itu, Farah berprinsip pada niat belajar, jangan mudah meyerah, dan jangan takut untuk gagal. Tentunya, perbanyak latihan , practice makes perfect.

“Berdoalah, karena bukan mimpi yang hebat tetapi Allah yang mempermudah segalanya,” pungkasnya.

Penulis: Rolista Dwi Oktavia

Editor: Nuri Hermawan

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone