rochman rochim
REKTOR UNAIR Prof. Moh Nasih dan Direktur RSUD Dr. Soetomo dr. Harsono menyerahan catatan buku harian kembar siam Rochman dan Rochim kepada perawat Pustesmas Mojowarso Jombang, Yulia Fatmawati, yang membantu kelahiran kembar siam itu. (Foto: Bambang Bes)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Keberhasilan pemisahan kembar siam dempet panggul (pygopagus) Rochman-Rochim, tidak dipungkiri merupakan hasil sinergi inovasi antara RSUD Dr. Soetomo dan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Karena itu, untuk mengantisipasi keberhasilan pemisahan kembar siam lain, bila ada, kedua lembaga itu jangan sampai dipisahkan. Sebaliknya justru harus semakin dipererat untuk menghasilkan inovasi-inovasi dalam dunia kedokteran.

Harapan tersebut disampaikan Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Moh Nasih, SE., MT., Ak., CMA., ketika memberi sambutan dalam “Pelepasan Kembar Siam Rochman-Rochim”, di Aula Loka Widya Husada RSUD Dr. Soetomo (RSDS), Kamis (11/10).

Pemulangan Rochman-Rochim dari RSUD Dr. Soetomo ke rumahnya di Mojowarno, Kab. Jombang itu, setelah Rochman dinyatakan sembuh pasca menjalani operasi rekonstruksi vesica urinaria. Secara seremonial, pemulangan dilakukan Rektor UNAIR bersama Direktur RSDS Dr. Harsono, ditandai dengan penyampaian buku catatan harian Rochman-Rochim kepada Yulia Fatmawati, perawat Puskesmas Mojowarno, yang menangani kelahiran bayi kembar siam itu pada 4 September 2009. Rektor juga memberikan bingkisan kepada kedua bocah tersebut.

Hadir dalam acara tersebut antara lain Wakil Rektor I UNAIR Prof. Djoko Santoso, dr., Ph.D., Sp.PD., K-GH-FINASIM, Sekretaris Universitas Airlangga Koko Srimulyo, Drs., M.Si., Dekan Fakultas Kedokteran UNAIR Prof. Dr. Soetojo, dr., Sp.U(K), dan Ketua Pusat Kembar Siam Terpadu RSDS Dr. Agus Haryanto, Sp.A(K).

rochman rochim
FOTO bersama mantan kembar siam Rochman-Rochim, dari kiri: Warek I UNAIR Prof. Djoko Santoso, Dekan FK UNAIR Prof. Soetojo, Sekretaris UNAIR Koko Srimulyo Drs., M.Si., Rochim, Rektor Prof. M Nasih, Rochman, Anis Mulyo dan isteri, Yulia Fatmawati, Ka Puskesmas Mojowarno, dan Dr. Agus Haryanto, Sp.A(K). (Foto: Bambang Bes)

Diakui oleh Rektor, penanganan kembar siam memerlukan inovasi sangat tinggi, karena kasusnya harus ditangani secara “case-by-case”. Setiap kasus kembar siam butuh penanganan berbeda, sehingga bisa suatu inovasi dipergunakan untuk menangani kasus kembar siam yang lain.

”Karena itulah antara Fakultas Kedokteran UNAIR dengan RSUD Dr. Soetomo diharapkan semakin intens jalinan kerjasamanya untuk menghasilkan inovasi-inovasi di bidang kedokteran. Kita semua ini hanya sebagai perantara, atas kasus (penyakit – Red) yang ada kita akan terus berusaha menghasilkan manfaat sebaik-baiknya,” kata Prof. M Nasih.

Pak Rektor juga menawarkan kepada Rochman dan Rochim, jika nanti sudah lulus SLTA dan bercita-cita ingin menjadi perawat, Universitas Airlangga siap untuk membantu mewujudkan cita-cita itu. “Syaratnya harus lulus SMA dulu,” tambah Pak Rektor.

SEMAKIN MEMBAIK

Sementara Direktur RSUD Dr. Soetomo dr. Harsono menyatakan bangga atas hasil tim Kembar Siam Terpadu RSDS atas keberhasilan pemisahan kembar siam Rochman-Rochim ini. Mantan Bupati Ngawi itu berharap kedepan baik Rochman dan Rochim akan menjadi semakin baik, dan RSDS akan terus memantau dan memperhatikan perkembangannya secara intensif.

Direktur RSDS itu juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak, baik para dokter ahli, perawat, terapis, psikolog, dan juga media massa yang secara intens sejak 9 tahun silam mendukung secara positif terhadap operasi ini.

Seperti diberitakan, operasi vesica urinaria dengan metode mitrofanoff itu adalah operasi pembuatan saluran kencing. Saluran itu dibuat dari usus buntu Rochman, yang sukses dilakukan tim yang dipimpin Dr. Tarmono, Sp.U(K). Hasil operasi ini akan memudahkan Rochman, karena ia tidak lagi memakai selang untuk kencing, tetapi saat akan buang air kecil tinggal memasang katupnya.

rochman rochim
ROCHMAN (kanan) dan saudara kembarnya, Rochim, dengan tas sekolah hadian Pak Rektor UNAIR. (Foto: Bambang Bes)

Dijelaskan oleh Dr. Agus Hariyanto, operasi ini ditempuh karena pada kembar siam pygopagus Rochman-Rochim ini hanya terdapat satu phallus (penis), dan berdasarkan hasil pemeriksaan medis organ itu lebih ”menempel” pada Rochim.

”Selama ini RSUD Dr. Soetomo/FK UNAIR selalu intensif merawat si ’anak negara’ yang lahir 4 September 2009 ini, karena kembar siam dempet panggul dengan satu phallus ini merupakan yang pertama di Indonesia dan ke-4 di dunia, karena itu keberhasilannya harus kita usahakan,” tambahnya.

Perawatan intensif itu terutama untuk Rochman, karena ia harus menjalani tujuh kali operasi besar, sejak dilakukan operasi pemisahan sembilan tahun lalu hingga pembuatan alat saluran pembuangan air seninya (saluran kencingnya).

Dengan suksesnya operasi vesica urinaria ini, maka Rochman bisa menjalani kegiatan sehari-hari sebagaimana anak normal pada umumnya. Hanya saja ikhwal rutinitas kontrol, Dr. Agus sementara masih minta Rochman melakukannya dua minggu sekali ke RSUD Dr. Soetomo. Tetapi proses operasi lanjutannya, yaitu pembuatan phallus, menunggu sampai ia menginjak usia 17-18 tahun.

”Jadi pelepasan ini bukan berarti kami melepas untuk tidak lagi mengawasi Rochman-Rochim seperti biasanya. Pengawasan intensif tetap kami lakukan,” tandas dr. Agus.

Anis Mulyo, ayah si kembar Rochman-Rochim, ketika diberi kesempatan untuk memberi sambutan, berkali-kali mengatakan hanya bisa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Karena perawatan yang diterima oleh anaknya dinilai sangat istimewa.

”Terlalu banyak jasa dan budi baik yang kami terima untuk Rochman-Rochim dari rumah sakit ini. Dengan selesainya operasi ini kami berharap kepercayaan diri anak kami makin baik karena dulu kemana-mana harus membawa keteter, sekarang tidak,” kata Anis Mulyo. (*)

Penulis : Bambang Bes

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone