SALAH seorang anak binaan TIKKOPH 2018 ketika melakukan pertunjukan bakat. (Foto: Laurensia N. D.)
SEJUMLAH anak binaan TIKKOPH 2018 ketika melakukan pertunjukan bakat. (Foto: Laurensia N. D.)
ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone
image_pdfimage_print

UNAIR NEWS – Tim Komunikasi of Public Health (TIKKOPH) 2018 menggelar acara sosialisasi tahap akhir kepada anak-anak di wilayah Makam Rangkah, Tambaksari, pada Minggu (30/9). TIKKOPH merupakan club yang berdiri di bawah naungan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UNAIR berfokus pada pengabdian masyarakat.

TIKKOPH sudah kali keempat diadakan. Terhitung sejak Maret, April, Agustus, hingga terakhir pada September. Materi yang diusung berkaitan dengan kesehatan masyarakat. Tentu bentuk kegiatannya disesuaikan dan dikemas sedemikian rupa agar materi dapat diterima anak-anak dengan baik.

”Anak-anak ditekankan untuk memahami makna kebersihan lingkungan. Mereka diajari memilah sampah dengan benar, memanfaatkan sampah menjadi kerajinan, dan menjaga kebersihan diri dengan cuci tangan memakai sabun,” ungkap Milada Mohammad Ravsanjanie, ketua TIKKOPH 2018.

Lelaki yang akrab disapa Milada itu mengungkapkan bahwa mayoritas warga penghuni Makam Rangkah adalah kaum marjinal atau menengah ke bawah. Pendidikan bukan menjadi kebutuhan utama.

Banyak anak-anak yang tidak diperhatikan orang tuanya. Mereka sudah diajari mencari nafkah sedari kecil. Hal itu membuat TIKKOPH 2018 meluruskan niat menjadikan Makam Rangkah sebagai kampung binaan yang berfokus pada kegiatan memberikan pendidikan kepada anak-anak.

Milada menambahkan, dalam kegiatan berkala tersebut, selalu ada pembagian kelompok untuk mempermudah para panitia ketika melakukan edukasi. Kegiatan edukasi itu mengajak anak-anak berkreasi seperti menampillkan bakat melalui pentas seni dan membuat kerajinan tangan dari bahan sampah.

”TIKKOPH juga memberikan sumbangsih ilmu yang bermanfaat pada masa depan demi terwujudnya anak-anak bangsa yang berkarakter. Motto TIKKOPH ialah ‘Mengabdi untuk Anak Negeri untuk Indonesia Hebat,” lanjut Milada.

Selama mengikuti TIKKOPH, Milada mengaku mendapatkan banyak ilmu yang bermanfaat. Mulai segi kepanitiaan, Milada dan anggota panitia belajar bagaimana merencanakan kegiatan, mengomunikasikan kegiatan sosialisasi dengan warga daerah makam. Termasuk melatih empati terhadap sesama.

”Saya berpesan kepada para anggota TIKKOPH jangan kapok, lelah, atau capek. Tetap semangat mengabdi kepada masyarakat,” ungkap Milada.

”Harapan saya ke depan, TIKKOPH bukan lagi club di bawah naungan BEM FKM. Yakni sudah berbentuk badan otonom yang mempunyai anak binaan sendiri,” imbuhnya. (*)

 

 

Penulis: Tunjung Senja Widuri

Editor: Feri Fenoria Rifa’I

 

ShareShare on Facebook0Tweet about this on Twitter0Email this to someone