Author name: wildan azky

tangan emas
Opini

Tangan Emas Kebangsaan Pemuda

PERAN pemuda akan selalu ada dalam setiap nafas perjuangan dan perubahan bangsa. Sejarah dan kajian para pakar dan pengamat menunjukkan hal itu. Secuil refleksi tentang kepemudaan semoga bisa mewarnai dalam kita memperingati Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober. Hidup pemuda Indonesia!

Ilustrasi
Cerpen, Sastra Budaya

Agamaku, Surga-Neraka dan Puasaku III

Dua kalimat syahadat saja aku tak benar-benar serius. Aku tak bisa berbahasa Arab, akupun tak mampu membaca samudera luas yang bernama Al-Qur’an itu. Sholatku hanya sebatas ritual, doaku adalah rengekan rapal yang tak jarang hanya sekedar kulafalkan tanpa arti. Dan ketika kuketuk pintu di dalam hatiku, aku jadi sangat ragu.

Ilustrasi
Cerpen, Sastra Budaya

Agamaku, Surga-Neraka dan Puasaku II

Alasanku masih memegang agama adalah untuk menuju pada ketenangan diri. Aku yakin Islam adalah pintu selamat, pintu ketenangan, keteduhan dan kasih sayang. Di dalam ketenangan itulah aku menemukan surga. Dan di dalam kasih sayanglah, aku menemukan bidadari-bidadari yang sedang merayu, menggoda dan membawaku pada kepuasan rohaniah imajiner yang tiada ukurnya.

dokter
Opini

Bisakah Dokter Indonesia Diandalkan di Era MEA?

Di bidang kesehatan terdapat tiga profesi yang terimbas liberalisasi (AFTA), yaitu dokter, dokter gigi dan perawat. Satu hal yang dikhawatirkan jasa kesehatan adalah akan mengikuti mekanisme pasar. Indonesia bisa terjebak dalam situasi ini, karena kualitas tenaga kerja kita belum kompetitif. Bisakah dokter Indonesia diandalkan di era MEA itu?

pancasila
Opini

Membingkai Pancasila Sebagai Fundamental Bangsa

Pancasila sebagai ideologi fundamental bangsa harus dibingkai melalui rasa nasionalisme. Bingkai nasionalisme ini akan bisa menjaga rangkaian persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan Indonesia, sekaligus solusi dalam mengatasi segala masalah bangsa. Hal ini telah terbukti bahwa adanya beragam upaya kearah peretakan sendi nasionalisme itu, tidak pernah berhasil menggoyahkan keutuhan NKRI, sampai sekarang!

Ilustrasi Merdeka.com
Cerpen, Sastra Budaya

Agamaku, Surga-Neraka dan Puasaku I

Aku sama sekali merasa lepas dari upaya untuk baik seperti mereka. Diriku tak punya apa-apa. Tak punya ulama untuk ku bela, dan tak punya hafalan Al-Qur’an yang bisa kubanggakan. Hingga aku tak berkesempatan untuk membela ulama’ maupun merasa ternistakan oleh orang yang memelintir kitab suci itu.

Scroll to Top