Tata Laksana Pasien Aphthous-Like Ulcer terkait Anemia Aplastik melalui Teledentistry

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Pinterest

Anemia aplastik merupakan penyakit yang jarang dijumpai. Penyakit ini dapat mengancam jiwa penderitanya, namun 90% kasus dapat berhasil diobati. Dengan penyakit ini, tubuh gagal memproduksi sel darah yang cukup. Sel darah diproduksi di sumsum tulang, dan sel punca berperan dalam produksi sel darah. Anemia aplastik menyebabkan rendahnya kadar semua komponen sel darah yang dikenal sebagai pansitopenia, baik menurunnya kadar eritrosit, leukosit maupun trombosit. Hal ini disebabkan oleh faktor genetik, kondisi autoimun, paparan bahan kimia atau radiasi dan penggunaan obat-obatan. Tetapi dalam beberapa kasus, etiologi anemia aplastik tidak diketahui.

Manifestasi oral dari anemia aplastik mungkin merupakan gejala klinis pertama dari penyakit dan berhubungan langsung dengan pansitopenia. Gambaran umum termasuk bercak purpura, ptechiae atau hematoma mukosa mulut, sementara perdarahan gingiva dapat terlihat pada beberapa kasus; temuan ini terlihat karena defisiensi trombosit. Lesi ulseratif pada mukosa mulut dan faring terlihat karena neutropenia. Pada kasus ini, pasien memiliki manifestasi oral berupa ulserasi oral dan perdarahan spontan pada gingiva dan mukosa mulut. Ada beberapa lesi krusta di bibir atas dan bawah. Ulkus mulut pada pasien dengan anemia aplastik telah dilaporkan berhubungan dengan defisiensi vitamin B (termasuk B1, B2, B6, B12), asam folat, zat besi, dan feritin serum. Anemia aplastik yang berhubungan dengan defisiensi besi menyebabkan angular cheilitis yang nyeri dan depapilasi lidah, serta lesi erosif dan krusta di daerah perioral dan komisura bibir.

Di era pandemi COVID-19, banyak pasien dengan berbagai penyakit tidak dapat memperoleh pelayanan kesehatan optimal. Oleh karena itu, untuk mempermudah akses pasien agar tetap dapat menerima pelayanan kesehatan, dokter gigi memberikan pelayanan konsultasi dan terapi penyakit sebagai upaya pertolongan pertama melalui metode teledentistry. Kasus ini ditangani pada masa pandemi COVID-19, sehingga riwayat kesehatan, pemeriksaan objektif, perencanaan pengobatan, dan perawatan keluhan mulut pasien semuanya dilakukan melalui teledentistry. Penatalaksanaan pasien melalui teledentistry mempertimbangkan kepekaan seorang dokter gigi dalam mendeteksi penyakit, kepatuhan pasien dalam menjalankan instruksi dokter gigi, serta pemilihan obat yang mudah diperoleh dan aman.

Penatalaksanaan lesi oral pada pasien dengan anemia aplastik memerlukan pengobatan yang berhubungan dengan disiplin ilmu lain, seperti internis atau hematologi. Rujukan segera pasien untuk perawatan khusus tidak diragukan lagi merupakan langkah penting dalam pengelolaan penyakit ini. Jadi dalam kasus ini, sebelum mengobati lesi oral, rujuk pasien ke unit gawat darurat untuk pertolongan pertama. Sedangkan untuk perawatan gigi atau lesi di rongga mulut sebaiknya dilakukan bersamaan dengan transfusi trombosit. Penatalaksanaan anemia aplastik yang efektif akan mengarah pada perbaikan lesi oral yang disebabkan oleh kondisi sistemik. Menurut teori, tatalaksana anemia aplastik terdiri dari tatalaksana umum dan tatalaksana khusus. Penatalaksanaan umum dapat mencakup pemasangan selang nasogastrik, transfusi trombosit atau packed red cell tergantung pada kebutuhan, antifibrinolitik, antibiotik, dan antipiretik. Penatalaksanaan khusus dapat mencakup pemberian imunosupresan, seperti cyclosporine/antithymocyte, corticosteroids, granulocyte colony-stimulating factor, dan transplantasi sel punca.

Selama perawatan gigi primer, pasien harus mengonsumsi antifibrinolitik untuk menghindari perdarahan yang berlebihan. Agen ini dapat mengurangi terjadinya perdarahan, terutama pada mukosa mulut. Pada pasien dengan trombositopenia, hal ini dapat dilakukan dengan menstabilkan trombus. Ada laporan kasus yang menjelaskan bahwa anemia aplastik dapat diobati dengan transfusi trombosit pada awal pengobatan, instruksi untuk menjaga kebersihan mulut, profilaksis, dan pemberian asam aminokaproat secara sistemik. Infeksi sering terjadi pada penderita anemia aplastik yang rentan, oleh karena itu perawatan gigi sebaiknya ditunda sampai kondisi pasien stabil, yaitu sampai kadar leukosit pasien dalam batas normal. Dokter gigi harus mempertimbangkan untuk meresepkan obat kumur antibakteri dan antibiotik oral sebelum prosedur gigi untuk mencegah fokus infeksi. Konsultasi dengan ahli hematologi juga perlu dilakukan sebelum menerima perawatan gigi dan mulut, sehingga potensi infeksi sistemik selama perawatan dapat dihindari.

Pada pasien ini, penanganan lesi oral secara keseluruhan dilakukan dengan teledentistry dan dibantu oleh dokter penyakit dalam yang merawatnya selama dirawat di rumah sakit. Pasien telah mendapatkan obat kortikosteroid oral dari dokter penyakit dalam yaitu metilprednisolon, sehingga pasien tidak perlu diberikan obat kortikosteroid topikal lagi untuk lesi oralnya. Untuk mencegah infeksi sekunder pada mukosa mulut, pasien diberikan obat kumur antiseptik berupa larutan povidone-iodine 10%. Juga, obat kumur feracrylum 1% diberikan untuk menghindari perdarahan spontan di mukosa mulut. Dalam penelitian ini, feracrylum sitrat 1% digunakan sebagai agen hemostatik baru. Ini adalah agen topikal yang efektif, aman, handal. Sebagai obat topikal antiinflamasi, gel ekstrak lidah buaya digunakan untuk menghambat inflamasi pada lesi oral. Pasien diinstruksikan untuk tidak sembarangan menyentuh luka di mulutnya karena luka mudah berdarah meski hanya dengan sentuhan ringan.

Kesimpulannya, selama pandemi COVID-19, pengelolaan pasien di bidang kedokteran gigi dilakukan melalui teledentistry. Penatalaksanaan aphthous-like ulcer terkait anemia aplastik ini dilakukan secara online. Aphthous-like ulcer pada kelainan hematologis seperti anemia aplastik perlu ditangani dengan cepat dan tepat serta memerlukan pendekatan multidisiplin, sehingga pasien dapat mencapai pemulihan total.

Penulis: Nurina Febriyanti Ayuningtyas, drg., MKes., PhD., Sp.PM(K)

Judul artikel: Management of patients with aphthous-like ulcers related to aplastic anaemia in the COVID-19 pandemic era through teledentistry: A case report

URL Address: https://e-journal.unair.ac.id/MKG/article/view/30997

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS