Peningkatan Pengetahuan Kesehatan Gigi dan Mulut setelah Pemberdayaan Kesehatan Gigi dan Mulut pada Siswa Sekolah Dasar

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Foto oleh consalud.es

Studi ini melanjutkan kegiatan pengabdian masyarakat pada tahun sebelumnya di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Melirang yang terletak di Desa Melirang, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Sekolah ini memiliki sekitar 200 murid dan berfungsi sebagai pusat pendidikan kecamatan. Kesehatan siswa juga berkontribusi pada berjalannya proses pendidikan, dan data tentang kesehatan gigi dan mulut siswa ini dapat digunakan sebagai referensi untuk evaluasi. Fasilitas kesehatan gigi dan mulut dekat dengan pusat kesehatan penunjang; namun sarana prasarana belum optimal, sehingga perlu dievaluasi lebih lanjut pemahaman siswa tentang stunting, perilaku hidup bersih dan sehat, serta pengetahuan menjaga kebersihan gigi dan mulut untuk meningkatkan kualitas kesehatan siswa khususnya dan masyarakat sekitar pada umumnya.

Indonesia saat ini sedang berperang melawan wabah virus corona (Covid-19). Sementara itu, Indonesia masih bergulat dengan masalah gizi buruk, khususnya kerdil/stunting, yang diperkirakan akan semakin parah akibat wabah COVID-19. Menurut statistik tahun 2017 dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), Indonesia menempati urutan keenam dunia dalam hal prevalensi stunting. Indonesia adalah rumah bagi 9 juta dari 159 juta anak stunting di dunia. Menurut hasil Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2019, prevalensi stunting mencapai 27,67 persen. Hal ini menunjukkan bahwa tiga dari sepuluh anak Indonesia mengalami stunting. Jumlah ini juga lebih tinggi dari batas 20 persen yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia.

Stunting adalah gangguan yang ditandai dengan status gizi rendah secara kronis pada saat-saat penting perkembangan anak, sehingga tinggi badan anak tidak proporsional dengan usia anak. Stunting dianggap sebagai indikasi utama kesejahteraan anak dan situasi sosial ekonomi. Stunting pada anak dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan perkembangan mereka, serta produktivitas dan kapasitas intelektual mereka. Stunting ditemukan memiliki hubungan yang substansial dengan berbagai masalah kesehatan gigi. Kesehatan gigi dan mulut adalah pintu gerbang menuju kesehatan seluruh tubuh dan mental. Perilaku dan pengetahuan masyarakat untuk menjaga dan memelihara kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi indeks status kesehatan gigi dan mulut masyarakat. Perilaku yang baik ditunjukkan dalam pemahaman dasar tentang kebutuhan kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, sangat penting untuk mengajarkan penduduk, khususnya daerah pedesaan, dasar-dasar persyaratan kesehatan gigi dan mulut agar mereka dapat mengubah perilaku mereka dan memahami betapa pentingnya menjaga kesehatan mulut. Kesehatan gigi dan mulut sangat erat kaitannya dengan kesehatan tubuh secara keseluruhan dan tidak dapat dipisahkan.

Karies merupakan penyakit rongga mulut yang masih menjadi masalah utama di negara miskin atau berkembang, termasuk Indonesia. Temuan tersebut mengungkapkan bahwa 90 persen anak Indonesia mengalami karies. Statistik ini dianggap lebih tinggi di pinggiran kota daripada di kota, dan lebih tinggi untuk anak-anak dari kelas menengah ke bawah. Karies adalah penyakit pada jaringan keras gigi, khususnya email, dentin, dan sementum. Proses ini dimulai pada permukaan gigi dan berlanjut ke lapisan gigi, diikuti dengan pemecahan zat organik. Invasi bakteri dapat terus meluas dan merusak pulpa dan jaringan periapikal, menyebabkan ketidaknyamanan. Karies merupakan penyakit multifaktorial, artinya disebabkan oleh sejumlah variabel yang saling berinteraksi.

Karies juga dianggap sebagai salah satu masalah rongga mulut utama yang dialami oleh anak-anak, orang tua, dan pengajar di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Melirang, Melirang.

Desa, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Penyakit gigi dan mulut, khususnya karies, memiliki dampak negatif bagi kesehatan seseorang. Efek karies adalah terganggunya kinerja dan aktivitas seseorang akibat sakit gigi, yang jelas mempengaruhi kinerja atau pencapaian belajar. Permasalahan yang ditemukan di Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Melirang Kecamatan Bungah Kabupaten Gresik adalah kurangnya pengetahuan/kesadaran akan pentingnya kesehatan dan kebersihan gigi dan mulut. Kedua, tingginya prevalensi karies di kalangan pengajar dan siswa, dan alasan ketiga adalah Desa Melirang, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik tergolong daerah pegunungan kapur, sehingga tidak memiliki akses yang layak untuk konsumsi air bersih. Dengan demikian, tujuan dari pemberdayaan masyarakat ini adalah untuk meningkatkan dan memberikan penyuluhan tentang pentingnya kesadaran hidup sehat dan berkualitas, pandemi covid-19, dan kebutuhan gizi dengan melakukan teledentistry pemberdayaan kesehatan gigi dan mulut untuk meningkatkan pemahaman akan pentingnya Mutu Kehidupan Terkait Kesehatan Mulut Sebagian besar peserta kesehatan gigi dan mulut memahami pemaparan tentang pemberdayaan kesehatan gigi dan mulut. Persentase post-test lebih tinggi (93,59%) daripada tingkat pre-test (56,81%). Temuan program pemberdayaan kesehatan gigi dan mulut menunjukkan bahwa teledentistry merupakan media yang sangat baik untuk meningkatkan pemahaman anak sekolah dasar tentang status kesehatan gigi dan mulut. Untuk meningkatkan kualitas hidup mahasiswa, diperlukan program pemberdayaan lebih lanjut terkait kesehatan gigi dan mulut.

Penulis: Dr. Alexander Patera Nugraha, drg., M.Imun

Link lengkap: https://e-journal.unair.ac.id/IJDM/article/view/34290/17293

Berita Terkait

UNAIR NEWS

UNAIR NEWS